Di tengah hiruk-pikuk dunia yang serba cepat dan penuh tuntutan, puasa menjadi sebuah oasis ketenangan bagi jiwa. Ia bukan sekadar menahan diri dari makan dan minum, melainkan perjalanan batin yang mengajak kita berimajinasi tentang esensi kehidupan yang lebih dalam. Setidaknya begitulah setidaknya gambaran puasa yg utopis yg banyak disampaikan oleh ulama ulama umum pada khalayak, sebuah gambaran lelaku yg sangat berpengaruh bagi jiwa dan raga manusia.
Puasa bagi saya pribadi adl sebuah hal yang paradoks dalam ajaran tauhid, sebuah langkah teknis oleh tuhan pembebasan dengan membatasi sesuatu hal. Maksudnya disini adalah dengan mencoba mengendalikan aspek aspek psikologis dg tekanan oleh yg berkuasa, tuhan semesta alam.
Puasa imajinasi dalam konteks ini adalah pembatasan daya pikir dan daya juang, agar tidak terlalu jauh terbawa oleh kehidupan duniawi yg begitu menghanyutkan, nafsu nafsu yg membahayaan, sehingga dalam hal ini, pembatasan adalah proses pembiasaan utk menekan nafsu dan keinginan yg terlalu tinggi, cepat dan muluk-muluk.
Dari ini saya coba membayangkan bahwa puasa ini mirip dengan proses “divine comedy” oleh Dante alighiery, sebuah puisi yg berisikan konsep penebusan dosa yang berlapis lapis dan gambaran tentang proses penebusan / pembersihan dosa. Imajinasi ini muncuk karena saya merasa ada konsep yg mirip terhadap sebuah proses puasa, seperti hard reset, proses untuk mengembalikan lagi tujuan dan setelan pabrik kita sebagai manusia.
Dan akhirnya prolog yg membosankan dan menyebalkan ini akan saya tutup dg ayat legendaris tentang puasa.
Surat Al-Baqarah Ayat 183
يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُو. كُتِبَ عَلَيْكُمُ ٱلصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى ٱلَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
Arab-Latin: Yā ayyuhallażīna āmanụ kutiba ‘alaikumuṣ-ṣiyāmu kamā kutiba ‘alallażīna ming qablikum la’allakum tattaqụn
Artinya: Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.
Leave a Reply