Prolog Malam Sastra Emha: The Last Redemption
Kita semua sudah mengetahui bahwa seorang Emha Ainun Najib adalah sastrawan yang produktif dalam melahirkan karya. Diusia yang bisa dibilang masih sangat muda, beliau telah menjadi orang yang diperhitungkan. Sebagaimana yang sudah diketahui bahwa karyanya banyak masih relevan dalam melihat kondisi negeri saat ini.
Sebagai pengantar agaknya apa yang pernah disampaikan oleh Seno Gumira Ajidarma koyok-koyok e nyambung dengan tema bulan ini. “Ketika jurnalisme dibungkam, sastra harus bicara” apalagi di masa-masa kampanye saat ini. Media massa yang semestinya mampu menyajikan berita yang kredibel ternyata harus tunduk pada kepentingan Ndas-ndasane. Mau bagaimana lagi, seperti yang sudah diketahui bahwa para pemilik media banyak yang merangkap sebagai pemilik partai politik. Dari sini sudah bisa dipahami bahwa kualitas penyajian berita sangat jauh dari apa yang disebut dengan objektif -bahkan dibilang dibilang mendekati pun tidak-.
Jurnalisme bicara fakta, sastra bicara kebenaran. Sekokoh apapun fakta, ia masih bisa untuk dipelintir, diintervensi, dan dibengkokkan. Sedangkan kebenaran, bagaimanapun ia dibendung, kebenaran akan menemukan jalannya sendiri, seperti halnya kenyataan.
Beberapa tahun terakhir, informasi hoax adalah perkara yang sangat dikutuk bersama. Namun sayangnya, yang tak kalah berbahaya adalah framing media. Masih sedikit dari masyarakat yang sadar dan menggugat perkara framing ini. Penggiringan opini melalui framing media lebih licin dari belut yang dilumuri minyak. Hal ini terjadi karena adanya kepentingan kelompok yang menunggangi media massa.
Dengan realitas seperti inilah, seolah menjadi momentum yang tepat bagi sastra lantang berbicara. Dan melalui karya-karya yang telah dilahirkan oleh Emha Ainun Najib mari bersama melihat wajah negeri. Ternyata sepertinya pola perilakunya masih belum berubah -atau bahkan lebih parah- dari sebelumnya. Hanya beda pelaku dan bentuknya. Emha Ainun Najib merupakan sosok yang pemikirannya melampaui zaman. Seringkali apa yang beliau sampaikan menjadi perkara yang kontroversi, namun di waktu setelahnya banyak yang terbukti. Patut kiranya menyajikan karya-karya beliau sebagai bentuk memberi jalan kepada kebenaran untuk hadir menyapa, menyadarkan, dan menegaskan bagaimana semestinya parameter dalam bernegara. Dan inilah barangkali bentuk dari pembalasan akhir yang tepat bagi mulut-mulut yang sampah yang kerap mencaci.
Leave a Reply