Beberapa waktu terakhir ini, cuaca sangat panas sekali. Bahkan sebelum menginjak waktu dzuhur, panas sudah sangat terasa. Hasrat untuk minum es sangat tinggi, hasrat dari dalam tubuh seolah terus mengajak untuk menikmati sensasi Nyeess!. Tapi seperti yang sudah banyak diketahui, mengkonsumsi minuman dingin dengan cuaca normal saja tidak dianjurkan. Apalagi dengan cuaca yang panas seperti akhir-akhir ini.
Yo bayangno ae, sepeda mari digae turing trus knalpot e disiram banyu es, yo rungkad Boss!.
Efek berbahaya yang ditimbulkan dari mengkonsumsi minuman dingin saat cuaca panas adalah infeksi saluran pernafasan akut. Ngeri!. Wes infeksi saluran pernafasan, akut pisan. Dari kasus sederhana ini ada pelajaran besar yang diambil, bahwa ternyata perkara yang sepertinya terlihat sepele ternyata menimbulkan efek yang besar jika tidak hati-hati.
Dalam khasanah jawa, kehati-hatian itu dapat dilatih dengan menempuh sikap iling lan waspada. Tujuannya tidak lain agar meminimalisir menginjak ranjau-ranjau yang tidak kasat mata. Ranjau yang keberadaanya hadir karena ketidakmampuan manusia mengelola keinginan dan hasratnya. Jika urusan minum minuman dingin saja masih gagal dalam mengelola, apalagi urusan yang sifatnya agitatif dalam memilih pemimpin negara. Bukan hanya menimbulkan infeksi saluran pernafasan akut, tapi bisa merambah ke infeksi saluran keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia yang amat sangat akut.
Opo ndak tambah ngeri lek sampe ngono iku !.
Hasrat ataupun keinginan adalah nafsu, ia adalah binatang di dalam diri manusia yang semestinya dijinakkan agar tatanan yang timbul tidak bersifat kebinatangan. Saling terkam, saling bunuh, saling tindas dan saling silang sengkarut lainnya. Bahkan sebuah hasrat menjadi baik pun jika tidak dikelola dengan kesadaran utuh dapat menjadi ranjau yang mematikan. Bukankah sudah sering terlihat bagaimana lakon orang-orang yang ingin menjadi baik dengan menjelekkan orang lain, ingin menjadi benar dengan menyalahkan orang lain, ingin menjadi kanan dengan mengkirikan orang, dan masih banyak lagi ingin-ingin yang tidak di angon dengan tepat sehingga menimbulkan keburukan. Bagaimanapun tetap perlu diingat bahwa, tidak dianggap mensucikan sebuah wudhu jika air yang digunakan adalah air kencing.
Mewaspadai ranjau-ranjau semacam itu perlu latihan, perlu kesadaran yang utuh. Disamping konsep iling lan waspada ada lagi konsep di dalam filosofi jawa yang dikenal dengan tata, titi, titis lan tatas.
Opo neh iki, teko ngombe banyu es malah tekan filosofi jawa.
Tata itu artiya tertata, segala sesuatu perlu memahami empan papannya agar tidak berantakan. Titi itu artinya teliti, tindakan yang dilakukan secara cermat dan penuh kehati-hatian. Titis itu artinya tepat sasaran. Nah jika ketiga hal telah dilakukan dengan sesuai maka yang timbul adalah tatas, yang artinya sukses atau berhasil.
Ketika paragraf ini sudah dibaca sampai akhir, maka jumlahnya sudah mencapai empat ratus tiga puluh kata. Sudah semestinya tulisan pengantar ini selesai dan diskusi dimulai. Yuk mari !
Leave a Reply