Beranjak dari pertanyaan yang seringkali muncul terkait Maiyah sebagai sebuah bentuk pergerakan di tengah masyarakat. Seberapa konkret Maiyah?. Sebelum terburu-buru menjawab pertanyaan tersebut, ada baiknya mengurai terlebih dahulu apa itu Maiyah dan apa itu konkret.

Apa itu Maiyah?. Ini adalah pertanyaan yang jika ia harus dijawab maka jawaban yang muncul dari tiap pelaku Maiyah akan sangat beragam dan otentik. Namun seberagam apapun jawabannya, ia akan bermuara pada satu bentuk konstruksi berfikir dalam upaya merespon kehidupan, dengan dasar kebenaran, kebaikan dan keindahan.

Lantas apa itu konkret?. Definisi pertama pertama konkret berasal dari bahasa Belanda “concreet” yang berarti nyata. Definisi kedua berasal dari bahasa inggris “concrete” yang artinya: konkret, solid, berwujud, substansial, dan beton (campuran semen, batu, dan air). Beton cor-coran iku lho, sing gae bangunan. Duduk beton isine nongko lho yo !.

Pemilihan tema bulan ini yang bertajuk “Maiyah Beton, Ri Kopi Ri !” adalah sebuah upaya dalam menjawab pertanyaan “Seberapa konkret Maiyah?” dengan cara menyajikan fenomena yang telah dan sedang berlangsung setidaknya di dalam Simpul Jembaring Manah. Sajian potret fenomena ini adalah jawaban nyata bagaimana kekonkretan Maiyah. 

Masih di seputaran wilayah Kampus Jember, tepatnya di tepian jalan Mastrip. Salah seorang penggiat Maiyah Jember bernama Ari memulai ikhtiarnya dalam menjemput rezeki dari Tuhan dengan menjual kopi keliling. Tentu sebagai penggiat Maiyah pemilihan ikhtiar ini tidak hanya tentang usaha cari untung. Reason utamanya adalah menemani para “pejalan malam” dalam menghangatkan diri. Kopi yang disajikan Ari ini adalah kopi murni tanpa sajian pangku dari kaum estri. Ari mencoba menjadi wadah bagi hati yang sedang resah, barangkali kehadirannya tidak mampu mengurai masalah, namun setidaknya kopinya mampu menunda bahkan meredam amarah. Duhkah~

Bayangkan saja ada seorang suami yang sedang berselisih paham dengan istrinya, yang mana ia sebenarnya mampu meluapkan seluruh emosi, baik berupa verbal maupun nonverbal kepada istrinya, namun ia memilih keluar dari rumah di malam hari lalu memesan kopi pada Ari. Adanya Ari menjadi manfaat bagi keutuhan sebuah rumah tangga. 

Lho yo, masio rung rabi tapi wes iso nyelametno  rumah tanggae wong liyo

Ari adalah satu dari sekian banyak Pejalan Maiyah yang dalam melakukan sesuatu tidak hanya berdasarkan untung rugi, tapi juga mengutamakan asas kebermanfaatan yang mencangkup kebenaran, kebaikan dan keindahan. Ada seorang yang memilih resign dari sebuah perusahaan besar di Jakarta hanya karena menjual konten 18+ demi meraup untung lalu memilih pulang kampung tanpa ada planning selanjutnya. Tapi siapa sangka, rezeki mengalir deras dan bahkan hari ini ia menjadi bagian penting dari lahirnya aplikasi sholawat Al Ghofilin. Ada juga seorang petugas pertanian yang memilih resign hanya karena perusahaan tempat ia bekerja terafiliasi dengan Zionis lalu memilih hidup kenes menjadi seorang seniman.  Ini bukan tentang keberanian untuk resign dari pekerjaan. Namun keberanian untuk berjalan di atas kebenaran untuk menyajikan kebaikan dan keindahan.

Apa yang telah menjadi pilihan dari para Pejalan Maiyah adalah bukti kuat bagaimana sublimasi nilai-nilai Maiyah telah menuntun mereka dalam menelusuri belantara kehidupan. Dan ini menunjukkan bahwa Maiyah itu konkret.

Terus piye?

Yo ayok dimulai melingkare !