By Nurul + GPT

Secara definisi semestinya presiden adalah jabatan tertinggi dalam memimpin pelayanan terhadap rakyat. Kehadirannya ialah untuk mengepalai seluruh pelayan rakyat dalam proses bernegara. Tidak seperti raja, presiden dapat berganti dalam kurun yang sudah sepakati dalam mekanisme politik. Dan juga tidak ada keharusan anak presiden akan menjadi presiden. Anak tukang kayu bisa, anak Kyai bisa, anak sipil biasa juga bisa. Siapapun memiliki peluang yang sama asal dapat memenuhi prasyarat yang sudah ditentukan.

Beberapa waktu belakangan sudah mulai bermunculan wajah-wajah yang digadang-gadang menjadi calob presiden. Slogan-slogan kampanye juga mulai bertebaran, baik di tepi jalan, di forum perkumpulan, dan yang tak kalah masif juga bertebaran di media sosial. Dengan pola yang sama dan berulang dari waktu ke waktu, masihkah mungkin mampu melahirkan sosok pemimpin yang lebih baik?.

Sudah terlampau gumoh sebenarnya menerima narasi tentang kesejahteraan, keadilan, toleransi, kemajuan dan berbagai hal yang dibalut dan disajikan melalui visi dan misi para capres. Tapi mau gimana lagi, sebagai orang biasa, wong ndek-ndekan, sebagai rakyat kecil hanya diperkenankan memilih presiden. Tidak memiliki kuasa dalam mengusulkan calon presiden. Kalaupun dianggap bisa, itupun melalui corong bernama partai. Ada mekanisme bernegara yang tidak memfasilitisi rakyat biasa urun capres secara langsung.

Lha terus piye iki, wes jelas-jelas gak duwe akses gae ngajukno calon presiden tapi malah gae tema presiden alternatif?

Begini, segala upaya perubahan yang dilakukan baik dalam skala besar maupun kecil akan selalu memiliki nilai. Jika memang tidak bisa merubah arah angin, yang perlu kita lakukan adalah merubah arah layar perahu. Dari sini akhirnya yang perlu memilki kedaulatan secara personal dalam membangun parameter kepemimpinan ideal yang baik untuk negara. Sebuah cara pandang yang bukan hanya sekadar mengamati latar belakang dan visi, tetapi juga mampu merasakan getaran kejujuran dan integritas di dalam hati pemimpin tersebut.

Sebagai orang beragama, tentunya parameter yang dibangun tidak boleh tidak, harus berlandaskan nilai agama. Sebuah riwayat menyampaikan bagaimana parameter yang tepat dalam menilai sebuah kepemimpinan. “Sebaik-baik pemimpin kalian adalah orang-orang yang kalian cintai dan mencintai kalian, kalian mendoakan mereka dan mereka pun mendoakan kalian”. Ini persis seperti apa yang sering disampaikan oleh pemikir muda Jember bernama Baim Rifat. Bahwa hubungan yang sehat adalah yang bersifat respirokal, yaknu hubungan yang saling berbalasan atau timbal balik.

Lho sik tha, terus selama iki sing terjadi opo yo gak saling berbalasan antara rakyat karo pelayan rakyat sampek kondisine koyo ngene?