Habitus, ketika kita mendengar kata itu secara random kita mungkin akan berpikir kata habit yang artinya adalah perilaku yang terus-menerus terjadi hingga menjadi kebiasaan. Atau habitat, tempat makhluk hidup tinggal dan beradaptasi.

Habitus adalah istilah pendekatan yang digunakan oleh Bourdieu, seorang sosiolog dan antropolog Perancis dalam menganalisis kekuasaan dalam proses pembangunan dan perubahan sosial.

Habitus merupakan norma atau kecenderungan yang disosialisasikan yang memandu perilaku dan pemikiran. Habitus adalah cara masyarakat menjadi tersimpan dalam diri seseorang dalam bentuk disposisi abadi, atau kapasitas terlatih dan kecenderungan terstruktur untuk berpikir, merasakan dan bertindak dengan cara yang menentukan, yang kemudian membimbing orang-orang.

Secara sederhana dapat dipahami bahwa Bourdieu melihat bahwa perubahan perilaku tidak terjadi secara alami, namun ia terbentuk atau dipengaruhi oleh lingkungan di luar dirinya (eksternal)  melalui proses sosial, bukan individual.

Contohnya,  yang bisa dilihat adalah tidak ada manusia yang terlahir sengaja menjadi  maling. Ia menjadi maling karena terbentuk oleh lingkungan sekitarnya. Lingkungan di luar dirinya. Karena adanya interaksi sosial yang intens dengan lingkungan maling, maka dengan tanpa disadari ia menjadi maling. Sama halnya bagaimana seorang Kyai. Ia tidak begitu saja secara alami tumbuh menjadi Kyai, menjadi pemuka agama dengan keluasan ilmu dan keluhuran akhlak. Ia terbentuk karena lingkungan di luar dirinya mengarahkan menjadi seorang Kyai,hal itu tidak murni keinginan pribadi atau secara naluri tiba-tiba jadi Kyai tanpa campur tangan lingkungan.

Sedangkan kudus, menurut KBBI artinya adalah suci atau murni. Suci adalah kondisi dimana terbebas dari najis. Sehingga sajian tema melingkar bulan ini Habitus Kudus, adalah upaya mengamati bagaimana lingkungan dapat menghasilkan sosok yang menjaga kesucian. Lingkungan dapat melahirkan orang-orang yang shaleh.

Dari sekian banyak orang alim, salah satu yang memiliki pengaruh besar dalam penyebaran agama Islam adalah KH. Muhammad Siddiq (Mbah Siddiq). Beliau lahir dii penghujung abad 20, tepatnya tahun 1854 M, di Pedukuhan Punjulsari Desa Waru Gunung, Kecamatan Lasem, Rembang, Jawa Tengah. Pada pembacaan manaqib sering disampaikan bahwa Mbah Siddiq mendapat pendidikan agama yang kuat baik dari lingkungan keluarga maupun pada di pesantren. Sehingga terbentuk karakter yang alim, yang menjadi modal kuat dalam menyebarkan agama Islam. Dikisahkan bahwa pada saat berdagang pun beliau tetap berdakwah. Istiqomah dalam membaca Alquran dan membaca sholawat. Kealiman beliau menurun hingga anak cucunya. Banyak dari keturunan Mbah Siddiq menjadi orang-orang yang besar seperti KH Ahmad Siddiq Rois Aam Syuriah NU, KH. Mahfudz Siddiq ketua PBNU di usia 30 tahun, KH Ali Mansyur Siddiq pencipta shalawat badar yang pada tanggal 21 Oktober 2022 telah diakui sebagai warisan tak benda oleh kemendikbud dan masih banyak lagi keturuan beliau yang menajdi orang besar. 

Pada akhirnya, pembahasan mengenai habitus adalah pembahasan tentang mempengaruhi dan dipengaruhi. Terbentuk kealiman Mbah Siddiq tidak lepas dari peran keluarga dan pesantren semasa kecil. Dan terlahirnya sosok besar seperti KH Ahmad Siddiq, KH Mahfud Siddiq, dan KH Ali Mansyur Siddiq tidak bisa dilepas dari pengaruh Mbah Siddiq.

Maka melihat hal ini, Maiyah itu berada pada wilayah yang mempengaruhi atau yang dipengaruhi?. 

Maiyah itu subjek perubahan atau objek perubahan?

Hal-hal apa saja yang dapat dijadikan parameter bahwa perilaku kita berada di wilayah habitus kudus?