Tuhan menciptakan manusia sebagai sebaik-baiknya makhluk. Termasuk pemberian akal pada setiap manusia itu adalah anugrah yang sangat besar. Manusia menggunakan akalnya untuk berfikir hingga mengahasilkan suatu pengetahuan yang semakin berkembang mengikuti pendewasaan pola fikir. Selain itu akal akan menghasilkan sudut pandang terhadap apa yang mereka alami. Seperti contoh manusia dapat menentukan salah dan benar terhadap suatu hal berdasarkan rasio akalnya. Manusia cenderung menggunakan akalnya untuk sesuatu yang abstrak dan diluar nalar untuk didefinisikan kedalam fikirannya menjadi suatu pemikiran yang rasional. Hal inilah yang menjadi sandaran para pemikir-pemikir hebat dunia dalam mencari kebenaran atas ilmu pengetahuan. Seperti halnya pemikiran Al Ghazali yang mencoba memberikan alur berfikir hakiki tentang korelasi antara ilmu pengetahuan dan akal bahwasanya akal merupakan salah satu dimensi terpenting pada diri manusia sebagai alat berfikir yang memberi andil besar tentang alur kehidupan. Maka keberadaan akal merupakan pemberian tertinggi dari tuhan kepada manusia dan aktivitas akal adalah cara kita menemukan harmonisasi dalam kehidupan.

Dalam proses perjalanannya, ada beberapa hal yang kemudian masih sulit digapai oleh akal. Inilah yang kemudian menjadi kebingungan dari 2 tokoh pemikir besar islam yaitu ibnu sina dan al farabi, yang menemui kesulitan dalam proses menjelaskan terjadinya alam semesta dan keesaan Tuhan. Sehingga muncul yang namanya emanasi, yaitu teori yang menjelaskan bahwa segala zat tercipta atas kehendak dari Tuhan sebagai yang Esa. Teori inilah yang kemudian menghasilkan metode sepuluh akal sebagai cikal bakal lahirnya akal mustafad. 

Akal dibagi menjadi empat tingkatan, hampir di semua pemikiran filosof muslim sepakat dengan ini. Pertama, akal mustafad (al ‘aql bi fi’li da’iman ) adalah daya intelek puncak diluar akal manusia. Daya yang memancar ke otak manusia sehingga manusia bisa berfikir. Akal ini bersumber langsung dari Allah isinya selalu aktif untuk menyinari akal manusia. Berisi pengetahuan ideal serta rasionalitas-rasionalitas puncak. Ini merupakan akal ke sepuluh dalam teori emanasi Al Farabi. Kedua, akal potensial (al ‘aql bil quwwah) merupakan potensi untuk menangkap pengetahuan, potensi untuk menangkap sumber dari Allah. Ketiga, akal aktual (al ‘aql bil malakah), adalah ketika akal potensial mendapat transmisi dari sumber sehingga manusia mampu menemukan pandangan, menemukan pemikiran. Keempat, akal realitas (al ‘aql ad dzahir), adalah akal dimana kita sudah mampu untuk menyimpulkan sesuatu hal.

Pembahasan mengenai akal ini sangat berkaitan erat dengan tema sebelumnya, akal adalah satu wilayah penting sebelum kita menginjak kepada wilayah kebiasaan atau perilaku (habit). Cerminan perilaku baik tidak lain bersumber dari matangnya kita dalam mengelola akal. Akal yang baik sudah tentu terlahir dari koneksi yang baik dengan sumber utamanya yaitu Tuhan. Kira-kira, apa saja yang perlu dan penting digali terkait hubungan kita dengan Tuhan?.