Prolog Disambiguasi

Secara kata disambiguasi berasal dari serapan bahasa asing, disambiguation. Ini adalah pisau untuk menganalisa kata yang mempunyai makna ganda pada penggunaan kalimat. Untuk memahami makna, kita perlu memahami dulu konteks kalimatnya.

Dengan metode sederhana kita coba memaknai disambiguasi dengan cara mengurainya. Dis – ambigu – isasi. Dis, diartikannya sebagai sebuah negasi, sebuah penolakan atau sebuah pembatalan terhadap kata setelahnya. Seperti disagree (tidak setuju), disability (ketidakmampuan) dan
disconnect (memutus/ tidak terhubung). Ambigu adalah kata yang memiliki makna ganda. Seperti tahu, ia dapat berarti mengerti, dapat juga diartikan sebagai makanan dari hasil olahan kedelai. Dan akhiran -isasi menunjukkan sebuah proses yang ingin dicapai. Seperti kata modernisasi yang artinya upaya atau proses menuju modern. Maka dari sini, disambiguasi diartikan sebagai upaya atau proses menuju ketidakambiguan, atau dengan kata lain disambiguasi adalah proses meluruskan, mengklarifikasi, atau proses untuk mencapai illuminasi.

Bertolak pada kata proses, maka nantinya kita akan menggali berbagai hal apa saja yang mampu menuntun kita menemukan cara agara dapat titik disambiguasi atau titik illuminasi. Tentunya tema ini tidak hanya tentang kata, disambiguasi nanti akan menjadi pisau analisa untuk mengiris berbagai lapisan realitas. Baik itu dalam wilayah personal, sosial, lingkungan sekitar, adat, ritus agama, politik, negara dan berbagai lapisan realitas lainnya. Hal ini semacam upaya konstruksi terhadap bangunan makna yang selama ini telah disepakati dalam melihat fenomena yang terjadi.

Ketidakmampuan kita dalam memahami konteks menjadikan kita gagal memahami makna. Lantas bagaimana cara agara kita paham konteks?. Apa saja kiranya rangkaian agar kita mampu manangkap konteks?. Sepertinya akan menjadi pembahasan diskusi yang tidak biasa untuk bulan ini. Banyak hal perlu diperhatikan, banyak variabel yang nantinya perlu ditelusuri kembali. Semua itu agak menjadi hal yang perlu dilakukan agar kita terjebak, dan menjadi orang-orang yang kebingungan hingga akhirnya salah dalam memahami makna

Sebagai akhiran pengantar tema ini, barangkali seperti inilah contoh peggunakan kata ambigu yang perlu di robek denga pisau analisa disambiguasi.
Bisa-bisanya hewan itu bisa mengeluarkan bisa.
Tahu-tahu dia begitu saja tahu membuat tahu.
Ojo wedi, wong iku cuma wedi.
Apakah kita mampu menangkap konteks dari kalimat tersebut sehingga bisa menemukan maknanya?. Sekali lagi, ini bukan tentang rentetan kalimat. Ini adalah tentang kita, tentang berbagai dinamika yang meliputinya. Tentang proses meluruskan ambiguitas!.