Kita semua memahami bahwa keberadaan kita tersusun setidaknya oleh dua hal yakni jasad dan ruh. Dimana di awal tahun ini, anak cucu maiyah di beri “tugas’ untuk mulai belajar mengaktivasi ruh, ini berkaitan erat dengan perubahan dari Sinau Bareng menjadi Sinau Perubahan. Dalam memulai perubahan perlu adanya parameter, pertimbangan, landasan serta berbagai hal yang dapat menjadi titik tolak permulaan perubahan ini.

Pentingnya aktivasi ruh adalah agar segala keputusan yang diambil tidak hanya bersumber dari wilayah jasad saja, namun juga melibatkan ruh. Dengan begitu nantinya segala dampak yang dihasilkan dari keputusan kita memiliki irisan yang kuat dengan apa yang telah ditentukan oleh Tuhan.

Dalam salah satu ayat, Tuhan ndawuh “Dan mereka bertanya kepadamu (Muhammad) tentang ruh. Katakanlah, “Ruh itu termasuk urusan Tuhanku, sedangkan kamu diberi pengetahuan hanya sedikit.” (Al-Isra’: 85). Jika kita tidak cermat dalam memahami ayat ini, kita terjebak pada kesimpulan “kalau ruh urusannya Tuhan, berarti kita tidak perlu lagi mentadaburi segala urusan yang berkaitan dengan ruh”. Lantas bagaimana kita tidak akan “turut campur” urusan ruh sedangkan keseluruhan aktivitas yang kita lakukan sehari-hari selalu dibersamai oleh ruh?. Maka seharusnya, jika kita hendak memasuki wilayah ruh kita lebih dulu matur kepada Pemilik Ruh. Mendekatkan diri kepada Tuhan, agar nantinya masio gur setitik Tuhan berkenan memberi tahu kita, mengaktifkan ruh kita.

Disini terlihat jika aktivasi ruh berada di wilayah akibat, maka yang perlu kita pelajari, kita telaah, kita upayakan dan kita cari adalah apa saja sebab-sebab teraktivasi ruh. Di pertemuan melingkar bulan ini kita memilih tema menep(i). Merujuk pada kata menep dan menepi. Menep secara harfiah artinya tenang. Air yang keruh dapat kembali jernih jika dia sudah tenang. Fase tenang disini adalah fase dimana kita dapat melihat terpisahnya air dan kotoran yang mengendap di dasar. Sama seperti saat kita menikmati secangkir kopi, agar terasa nikmat saat meminum kopi, kita perlu sejenak mendiamkannya agar ampas kopinya mengendap di dasar, setelah itu baru kita seruput. Dengan begitu nantinya tidak akan ada lagi ampas yang melekat di bibir kita selepas minum kopi.

Dalam pemaknaan lain, menep serupa penggambaran jiwa, hati, atau kalbu manusia. Ibarat air dalam gelas, jiwa, hati atau kalbu itulah subyek yang harus dipandang, bukan kekotoran yang menyertainya. Pengendapan akan bisa diraih jika kita sudah mampu untuk menep, untuk tenang. Jiwa yang tenang adalah satu indikasi bahwa ruh mulai teraktivasi. Dan Tuhan menjanjikan kenikmatan bagi jiwa-jiwa yang tenang. “Hai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya. Maka masuklah ke dalam jama’ah hamba-hamba-Ku, dan masuklah ke dalam surga-Ku”. (Al-Fajr: 27-30)

Lalu bagaimana caranya agar bisa menep?
Nah, itulah yang hendak kita bedah dengan menepi dari keramain kota, ujung selatan kota ini, di Sanggar Humajati.