100 tahun merupakan sebuah istilah yang sering atau umum dikaitkan sebagai sebuah milestone sesuatu, dan kata lain dari itu adalah usia emas. Waktu sepanjang itu bukalah sepele dan sebentar, sangat banyak fenomena terjadi dan benturan yang terpaksa dihadapi demi sebuah kematangan.
2045 yang merupakan tahun ke-100 Indonesia merdeka, tahun di mana sebuah milestone besar itu akan terjadi tidak kurang 23 tahun lagi. Walau sudah berjalan 3/4 dari masa itu, tapi Indonesia masih belum sampai pada cita cita Pancasila, yakni keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.
Sebuah lembaga besar seperti negara haruslah memiliki sebuah gagasan proyek ke depan, sehingga visi dan misi sebuah negara tetap berjalan tidak melihat siapa pun pemimpinnya. Tanpa sebuah pandangan sama, sebuah negara bisa berjalan compang camping tanpa tahu arah, seperti kapal yang terbawa arus gelombang di tengah samudra, tidak akan bertemu dengan dermaga
Dalam perjalanan Indonesia sudah mengalami 7 pergantian presiden, dan beberapa kali perubahan UUD yang malah sudah melenceng dari Indonesia awalnya dari konsep pertama dibentuk oleh founding father kita, ada yang sepakat dan tidak sepakat dalam hal ini.
1998 pun terjadi sebuah reformasi besar tata kelola, dari yang otoritarian menjadi demokrasi, dari yang terpusat dan berpusat pada sebuah pemikiran tokoh menjadi pengejawantahan pemikiran bangsa melalui sistem yg sudah disepakati dan dipakai di banyak negara, yang dalam hal ini trias politika.
Namun demikian bangsa ini masih jauh dari wujud sebuah lembaga yang mampu membawa keinginan sang bapak bangsa, sampai sekarang pun 7 aspek yang menjadi modal atau pilar sebuah bangsa masih babak belur dihantam kepentingan politik sebagian golongan.
7 pilar sebuah negara tersebut adalah Ideologi, ekonomi, sosial, politik, hukum dan keamanan. Faktor penting yang harusnya selesai dan mampu menjadi tujua besar sebuah bangsa, dalam membawa negara “work well”. Seabad setelah kemerdekaan kita sudah di pelupuk mata, apa yg menjadi peran kita sebagai anak bangsa untuk melanjutkan negara ini, atau masihkah tujuan dan pandangan bapak bangsa kita yang mengharapkan kita sebagai “global player” tetap relevan dengan posisi kita sebagai negara di banyak rating menjadi golongan terbawah.
Oleh Raden Yohanes Eko Portable
Leave a Reply