Berpulang itu bukan pergi. Ia adalah perjalanan menempuh titik muasal. Menyajikan segenap hasil dari seluruh jatah perjalanan yang telah diberikan. Sekali lagi, kematian bukanlah penyelesaian dari sebuah perjalan, ia adalah semurninya pengadilan. Segala tindakan yang telah kita lakukan akan terangkum, termanifestasi pada momen sakaratul maut. Menegangkan, tentu. Mengkhawatirkan, sudah pasti. Untuk kesekian kalinya mungkin ini perlu disajikan lagi sebagai sebuah pengingat yang penting bagi
proses perjalanan kita menuju suatu yang tak lagi terikat ruang dan waktu.
“Setiap manusia celaka, kecuali bagi mereka yang berilmu. Setiap yang berilmu celaka, kecuali bagi mereka yang beramal. Setiap yang beramal celaka, kecuali bagi mereka yang ikhlas.” Dan bahkan, mereka yang ikhlas pun masih dalam titik yang mengkhawatirkan. Karena masih besar kemungkinan ia tergelincir pada sifat riya’, ujub, takabur dan hasut karena godaan setan.
Sebegitu berlikunya proses kita dalam menjalani hidup untuk menyambut keberpulangan. Akhir bagi upaya kita melakoni segala yang telah diberikan oleh Sang Pencipta. Sebelum keterlahiran, kita telah melakukan perjanjian dengan Tuhan. Tatkala Tuhan bertanya “alastu birobbikum“, dengan tegas kita menjawab “qolu bala syahidna“. Konsekuensi dari ikrar perjanjian itu ialah kita harus taat, dengan sebenar-benarnya taat pada Tuhan. Memahami dengan sadar dari kretek-nya hati hingga teraplikasi dalam tindakan.
Secara umum decoding adalah kegiatan menangkap dan memberi makna pada pesan yang disampaikan. Titik tolak kita saat menyandingkan “decoding” dengan “khusnul khotimah” ialah bagaimana sikap kita dalam menangkap dan memberi makna pada sebuah akhir yang baik dalam sebuah proses perjalanan. Tentu, khusnul khotimah adalah momentum yang paling diimpikan oleh semua manusia, ia tidak bisa digapai begitu saja dalam waktu yang singkat. Perlu sekian banyak waktu, sekian banyak peristiwa, sekian banyak kesadaran dalam memahami dengan sungguh-sungguh untuk sampai pada titik “kenal” dengan khusnul khotimah. Kenal itu tidak sekedar tahu, tidak sebatas mengerti tapi seutuhnya memahami.
Umumnya, proses mengenal itu dimulai dari bersinggungan dengan hal tersebut, mengumpulkan data yang memiliki keterkaitan, lali mengklasifikasikan dan mengolah, hingga nantinya dicoba untuk disimpulkan. Dan dari simpulan tersebut masih perlu diklarifikasi lagi kebenarannya. Seberapa benar kita dalam menangkap dan memberi makna pada khusnul khotimah.
Sebagai makhluk yang tinggal di perantauan dunia, seberapa besar peluang kita menyelesaikan ini dengan baik, hingga nantinya bisa disambut gembira di kampung akhirat. Kita tentu tak sanggup membayangkan kondisi dimana sudah merantau jauh, bekerja dengan sungguh-sungguh lantas pulang ke kampung halaman namun sesampainya disana kita disambut oleh penolakan
Khusnul khotimah sangat mungkin untuk tidak hanya dibatasi ruang pemaknaannya pada satu momen saja, tentang kematian. Pada ruang lain, ia dapat dimaknai sebagai batasan waktu dalam menjalani sekian banyak fase dalam hidup, yang mana di titik tersebut kita mengoreksi, menilai, dan menyimpulkan terhadap apa yang telah kita lewati di waktu sebelumnya.
Dan pertanyaan di titik terdekat saat ini adalah, seberapa kenal kita dengan khusnul khotimah?. Apakah di penghujung tahun 2022 kita akan menutup dengan khusnul khotimah?
Leave a Reply