Arus rutinitas keseharian kita seringkali mengikis kepekaan kita terhadap adanya nilai kehidupan yang beriring dan berdampingan. Kita seolah terjebak pada pemikiran tentang konsep, bahwa nilai-nilai kehidupan dari masa terdahulu adalah sebuah kemutlakan. Ini bukan tentang bagaimana kita hendak menambah redaksi dalam kitab suci, bukan juga tentang bagaimana merevisi kitab suci. Ini tentang bagaimana mengasah kepekaan kita dalam merespon ripitasi dalam menjalani kehidupan sehari-hari.

Kita ambil pelajaran dari “Pak Ogah”. Sosok yang sering kita jumpai saat berada di persimpangan jalan. Kebanyakan orang melihat itu sebagai personal yang malas bekerja, dan sok-sokan membantu arus lali lintas agar mendapat imbalan dari pengguna jalan. Dalam melihat fenomena ini, berbagai kemungkinan tentu dapat menjadi sebab kenapa akhirnya harus menjadi seorang “Pak Ogah”. Semisal, latar belakang pendidikannya rendah, skill tidak memiliki, dan jaringan relasinya rendah. Satu-satunya yang iya bisa lakukan adalah menjadi “Pak Ogah” dengan niat membantu orang lain, perkara nanti ada yang memberi imbalan itu sepenuhnya kehendak Tuhan. Karena bagaimanapun “Pak Ogah” tidak bisa memastikan berapa uang yang bisa dibawa pulang dalam setiap harinya. Ini adalah bentuk bagaimana seorang personal menerapkan nilai-nilai dalam hidupnya. Dengan kemampuan yang ia miliki, ia berikhtiar dengan sepenuh hati dan mengikhlaskan apapun hasil yang akan terjadi. 

Lantas apa kaitannya dengan Genealogi culture? 

Genealogi, secara umum adalah ilmu yang mempelajari bagaimana menelusuri asal muasal. Culture atau budaya adalah manifestasi dari perilaku, sikap, tindakan, ide, gagasan, dan pemikiran di skala komunal dalam menyepakati suatu nilai untuk mencapai tujuan. Terkait dengan tema “genealogi culture”, kita hendak mencoba menelusuri runtutan terbentuknya sebuah budaya. Mengingat bahwa budaya itu sendiri bersifat dinamis, ia terus beradaptasi dengan zaman. Seringkali budaya dikaitkan dengan suku, instansi, lembaga, dan wilayah serta agama.

Budaya adalah hasil dari kebiasaan atau perilaku komunal yang berlangsung lama. Kebiasaan ini terbentuk dari kesepakatan antar personal dalam memegang suatu nilai. Maka dari sini kita bisa melihat bahwa penyusun utamanya adalah orang-orang yang secara personal telah memiliki dan menyepakati suatu nilai. Melihat perilaku “Pak Ogah” yang berikhtiar dengan sepenuh hati dan mengikhlaskan apapun hasil yang akan terjadi dapat menjadi satu nilai yang nantinya menjadi sebuah dasar dari terbentuknya sebuah budaya atau pembaharuan dalam berbudaya.

Tema bulan ini lebih mengajak kita untuk sejenak menepi dari arus rutinitas, mengasah kepekaan dalam menangkap fenomena yang selama kita anggap biasa saja, namun ternyata kaya akan nilai filosofis.  Dimana nilai itu sangat mungkin untuk menjadi dasar terbentuknya budaya, atau menjadi bahan pembaharu bagi nilai sebuah kebudayaan jika disepakati secara komunal.

Sebelum beranjak ke sana, mungkin ada baiknya kita mencoba menelaah apa sebenarnya patokan utama suatu nilai komunal mampu untuk disebut sebagai sebuah budaya?. Apa fungsi budaya bagi manusia secara personal?. Jika nantinya ada gesekan antar budaya, bentuk mitigasi yang bagaimana yang perlu dilakukan?.

Proses mengasah kepekaan ini menjadi penting, agar rutinitas keseharian kita terlewat begitu saja. Terurai begitu saja oleh waktu, tanpa ada kesediaan kita merangkum, menyimpulkan, dan menghayati. 

Eman lho, ho’oh tenan eman !