Mari bulan ini kita memberi jeda pada rutinitas lantas menyapa masa depan dalam melingkar bulanan. Dunia yang saat ini kita tempati sesungguhnya tak lebih dari ruang fana, dunia ini maya, kesejatian ialah kampung akhirat. Sebagaimana seringkali di singgung oleh Simbah, bahwa kita semua ini adalah perantauan yang nantinya akan pulang ke kampung akhirat. Kita sudah sering kali mentadaburi narasi tentang muasal kehidupan, maka mungkin saat ini ada baiknya kita menelisik perihal apa saja yang telah dan akan kita perbuat sebagai legacy pada kehidupan ini.

    Kita tak ubahnya buah dalam menjalani kehidupan ini, hadirnya kita ialah hasil dari proses perawatan dan penjagaan yang tak ubahnya alur hidup buah. Karakter kita dibentuk oleh pola asuh sejak dari kecil, menjadi anak-anak, remaja, hingga dewasa. Bagaimana bentuk asuhan pada akhirnya akan membentuk karakter kita hari ini. Silahkan masing-masing menziarahi, menapaktilasi proses demi proses dari masa lalu, sehingga kita menjadi karakter yang seperti saat ini. Hingga pada satu fase kita memiliki kedaulatan yang utuh dalam bersikap.

    Berbicara mengenai buah, di satu sisi ia adalah hasil dari sebuah proses panjang, di sisi yang lain ia menjadi awal mula perjalanan sebuah kehidupan. Kalau kita ngoncek’i buah, kita akan menemukan setidaknya tiga lapis. Pertama ialah kulit buah, lalu daging buah dan yang terakhir biji buah. Dari biji buah inilah nantinya awal mula proses panjang itu terjadi. Sebelum proses menanam kita perlu memastikan media tanamnya sesuai dengan biji tersebut. Semisal apakah ia lebih cocok untuk basah, gembur, becek, ataukah kering. Karena ini nantinya ia akan sangat berdampak pada proses selanjutnya. Kesalahan dalam memilih media tanam akan menjadikan tanaman tang bertumbuh tidak akan optimal, bahkan sangat mungkin untuk gagal. Setelah biji mulai bertunas, kita perlu memastikan asupan nutrisinya terpenuhi, disamping itu juga kita perlu melakukan “penjagaan” terhadap ancaman dari gangguan luar baik yang bentuknya binatang, maupun tumbuhan parasit. Proses ini berlangsung cukup lama hingga sebuah tanaman mulai menumbuhkan bunga buah. Dinfase ini proses “penjagaan” perlu diperkuat lagi agar bunga tersebut dapat berbuah dengan baik. Dalam beberapa jenis tanaman, setelah menjadi bakal buah, perlu penjagaan yang lebih ekstra lagi agar hewan-hewna semacam codot tidak sampai memakan buah yang kita tanam. Sehingga pada akhirnya ia dapat tersaji dan dinikmati oleh manusia.

    Mentadaburi alur  hidup buah ialah tak ubahnya mengali terkait legacy yang kompleks. Legacy yang tidak hanya materi tapi juga immatteri seperti memori, informasi, gagasan, pikiran, kesadaran dan kehendak atau hal-hal lain. Buah dalam ini dapat berupa hasil ripitasi amal kita yang kita lakukan saban waktunya yang pada akhirnya akan kita warisi pada generasi selanjutnya. Terlebih pertautan kita dengan gelombang Maiyah. Buah seperti apa yang akan hadir nantinya dari hasil kita bermaiyahan selama ini dalam keluasan dunia yang maya. Ditambah lagi “dunia maya” pada definisi hari ini adalah dunia sosial media. Maya yang lebih maya, maya kuadrat.

    Atau ada baiknya kita mendefinisikan dulu apa itu Maiyah, sebelum nantinya buah itu akan kita tanam di dunia maya dan dunia yang lebih maya lagi yaitu sosial media. Apakah Maiyah itu bibit atau media tanam?. Kalau ia bibit, maka media tanam apa yang cocok untuk tumbuh kembanganya, kalau ia tanah, bibit apa saja yang mampu tumbuh disana?. Jangan-jangan Maiyah malah bukan keduanya. Lantas apa korelasi antara bibit, buah, tanah, dunia maya dan Maiyah itu sendiri?. Dimana keterkaitan semuanya itu?. 

    Mungkin akan banyak lagi variabel yang hadir dalam menggali “buah” sebagai legacy yang hendak kita tanam di tanah maya. Baik maya dalam arti dunia yang kita tinggali saat ini maupun dunia maya dalam bersosial media. Atau kita perlu mengkhususkan dulu buah itu apa, apakah itu buah hati, buah karya, buah tangan ataukah buah bibir?

    Apakah tilas yang hendak kita tulis sudah sangat tulus, atau hanya sekedar akal bulus?. Mari kita mulai diskusi ini wahai seluruh makhluk tak halus