“Insight” merupakan sebuah kata yg dalam Kamus Bahasa Inggris – Indonesia adalah kb. wawasan, pengertian, pengetahuan (yang dalam). “An Sich” adalah sebuah istilah dari bahasa Jerman yang secara harfiah berarti: “pada dirinya sendiri”, “pada hakikatnya” atau “harfiah”. Sedang “Insyaallah” ini yg menarik, makna yg aslinya yakni meminta ijin allah, malah menjadi alasan yang diplomatis dalam melakukan sesuatu.

Dalam hidup yang telah kita jalani sudah berapa juta keputusan yg telah kita ambil, kalau ini ditelaah lebih dalam lagi, manakah keputusan yg tepat dan tidak tepat, manakah keputusan yg sesuai dg keinginan atau keterpaksaan, manakah keputusan yg berakibat baik dan buruk dalam hidup kita, dan manakah keputusan yg didasarkan logika atau nafsu dan manakaha keputusan yg berdasarkan Allah (iman) atau cara berpikir manusia yg terbatas.

Variable diatas membutuhkan formulasi yg tepat dalam penentuan, Mbah nun sering menasehati kita terkait sudut pandang, resolusi pandang, jarang pandang dan lingkar pandang. Sebuah formulasi yg tepat untuk melihat masalah secara holistik dan tidak partial saja. Tapi yang diatas tadi hanyalah berdasarkan pada kemampuan berpikir kita dan informasi yg kita miliki bukan pada yang “beyond” atau diatas kemampuan kita. Maka dari itu keimanan atau “faith” tidak didasarkan pada logika terbatas kita, tapi pada bocoran informasi langit yg sebenar benarnya benar, kebenaran ilahiah, laduni begitulah orang menyebutnya.

Agama dilihat sebagai kurungan oleh orang, sebagai pemberi batas batas, pengatur yg membuat hidup kita terkekang, tidak bebas. Padahal jika mau ditelisik lagi, Agama sebenarnya adalah pembebas bukan pengekang. Paradox yg memang menjadi sebuah ciri khas sebuah aturan demi keteraturan. Dimana dalam agama kita diberikan informasi yg tidak bisa kita nalar, hanya melalui iman dan kepercayaan kita bisa mencapai dan memahami apa itu semesta, siklus, hidup, mati, tuhan, hamba, hakikat dan tujuan kita ada.

“Insight, an sich” merupakan kombinasi kata yg bermakna bahwa pada hakikatnya pengetahuan dan pemahaman itu ada dalam diri kita, tinggal kita mau membangkitkan itu atau tidak, jelas dg proses yg tidak mudah. Tapi sebenarnya kuncinya ada pada kata terakhir, “insyaallah”, sebagai penentu terhadap segala hal, termasuk apa yg terjadi pada diri kita, atas izin allah.

Hal ini termaktub pada ayat :

Bacaan Ayat Kursi atau surat Al Baqarah ayat 255 yaitu sebagai berikut:

ٱللَّهُ لَآ إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ ٱلْحَىُّ ٱلْقَيُّومُ ۚ لَا تَأْخُذُهُۥ سِنَةٌ وَلَا نَوْمٌ ۚ لَّهُۥ مَا فِى ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَمَا فِى ٱلْأَرْضِ ۗ مَن ذَا ٱلَّذِى يَشْفَعُ عِندَهُۥٓ إِلَّا بِإِذْنِهِۦ ۚ يَعْلَمُ مَا بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْ ۖ وَلَا يُحِيطُونَ بِشَىْءٍ مِّنْ عِلْمِهِۦٓ إِلَّا بِمَا شَآءَ ۚ وَسِعَ كُرْسِيُّهُ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضَ ۖ وَلَا يَـُٔودُهُۥ حِفْظُهُمَا ۚ وَهُوَ ٱلْعَلِىُّ ٱلْعَظِيمُ

Artinya: “Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia Yang Hidup kekal lagi terus menerus mengurus (makhluk-Nya); tidak mengantuk dan tidak tidur. Kepunyaan-Nya apa yang di langit dan di bumi. Tiada yang dapat memberi syafa’at di sisi Allah tanpa izin-Nya? Allah mengetahui apa-apa yang di hadapan mereka dan di belakang mereka, dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah melainkan apa yang dikehendaki-Nya. Kursi Allah meliputi langit dan bumi. Dan Allah tidak merasa berat memelihara keduanya, dan Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar.” (QS. Al Baqarah: 255).

Juga termatub dalam kitab lain yang coba saya sadur dan narasikan sebagai berikut:

kunci dalam mengambil keputusan adalah mengetahui kehendak Allah dan tidak mengikuti keinginan pribadi kita: “Ada jalan yang disangka orang lurus, tetapi ujungnya menuju maut” (Amsal 14:12; baca juga Amsal 12:15, 21:2). Ketika kita lebih mempercayai Allah dibanding diri kita sendiri, kita menemukan keputusan yang menyenangkan bagi-Nya.

Pertama, Allah memberkati keputusan yang Ia prakarsai dan yang selaras dengan Firman-Nya: “Aku mengajarkan jalan hikmat kepadamu, aku memimpin engkau di jalan yang lurus” (Amsal 4:11; baca juga Mazmur 119:33). Kedua, Allah memberkati keputusan yang menggenapi tujuan-Nya dan tergantung pada kekuatan-Nya: “Allahlah yang mengerjakan di dalam kamu baik kemauan maupun pekerjaan menurut kerelaan-Nya” (Filipi 2:13; baca juga Filipi 4:13).

Yang menjadi masalah adalah :

Apakah bisa kita mengukur, mengolah dan menyeimbangkan antara keinginan, kebutuhan dan keselarasan dg batas batas yg ada.
Bagaimana kita melibatkan langit, dalam hal pengambilan keputusan agar hal tersebut didasari oleh informasi yg tepat dan melimpah, sehingga ikhtiar kita benar dan sesuai alur yg seharusnya.
Setelah keputusan diambil dan proses dijalani, ridhokah kita, berprasangka baikah kita kepada hasil yang allah tetapkan.

Lampiran :
Amsal (14:12) Ada jalan yang disangka orang lurus, tetapi ujungnya menuju maut.
Amsal (12:15) Jalan orang bodoh lurus dalam anggapannya sendiri, tetapi siapa mendengarkan nasihat, ia bijak.
Amsal (21:2) Setiap jalan orang adalah lurus menurut pandangannya sendiri, tetapi Tuhanlah yang menguji hati.
Amsal (4:11) Aku mengajarkan jalan hikmat kepadamu, aku memimpin engkau di jalan yang lurus.
Mazmur (119:33) Perlihatkanlah kepadaku, ya TUHAN, petunjuk ketetapan-ketetapan-Mu,
(aku hendak memegangnya sampai saat terakhir).
Filipi (2:13) karena Allahlah yang mengerjakan di dalam kamu baik kemauan maupun pekerjaan menurut kerelaan-Nya.
Filipi (4:13) Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku.