MELEDAK. Tumpah ruah, di jalanan, di pedesaan, di jalan toll, dan di arus besar jalan utama. Menjadi headline berita dimana-mana. Tidak bisa dan bahkan tidak mungkin kita tidak akan turut campur dalam perayaan besar Idul Fitri. Setelah kurang lebih dua tahun lamanya pandemi membatasi pertemuan, menyekat silaturahmi, dan mengurangi kehangatan dalam prosesi beribadah. Dan tahun ini kita dapat berkumpul kembali bersama keluarga di kampung saat mudik, itu tak ubahnya meneguk segelas air saat adzan magrib setelah seharian penuh berpuasa.
Merayakan itu adalah bagaimana sikap kita dalam merespon sebuah momentum, yang perlu menjadi sorotan, menjadi kata kunci, dan yang menjadi titik tolak kita berangkat menggali esensi adalah kata momentum. Kita sering kali bisa dibilang kebablasanen dalam merayakan momentum. Semisal merayakan kemenangan pemilu, pemilu sudah usai, bahkan sudah hampir mau pemilu lagi perayaannya seolah belum tuntas, masih saja menyisakan residu polarisasi dalam sesrawungan. Tahun ini setidaknya menjadi poros, bagiamana kita bercermin di dua tahun sebelumnya, untuk memproyeksikan diri menjalani dua tahun yang akan datang. Kita sepertinya harus mulai mengamati variabel apa saja yang memicu ketidaknyamanan dalam kebersamaan, bagaimana upaya kita dalam mencari opsi-opsi perbaikan tatanan ini. Bisa kita perlebar skalanya hingga nasional, atau kita tarik saja skalanya pada wilayah diri sendiri. Kalau kita terlampau kecil untuk menjadi pemantik perubahan besar, setidaknya kita punya sikap untuk bertahan dari sebuah pergolakan.
Sebentar, tunggu dulu, dari mudik kok tiba-tiba ke politik. Apa karena regulasi mudik seringkali disusupi kepentingan politik ya?. Ah, bisa saja iya. Bisa juga tidak.
Ini barangkali bentuk bagaimana kita seringkali kebablasen dalam menyikapi momentum baik mudik maupun berpolitik. Mudik itu adalah salah satu cara merayakan Idul Fitri, dan menyambut perpisahan dengan bulan Ramadhan. Tidak ada yang salah dengan mudik, jika ditelaah lagi, mudik ialah cara kita memaknai kepulangan. Tidak hanya kepulangan diri ke tanah kelahiran, tapi juga berpulangnya kita pada nilai-nilai kemanusiaan. Silahkan bayangkan bagaimana jadinya manusia berdampingan tanpa kesadaran untuk meminta dan memaafkan?. Berbagai perselisihan akan semakin meruncing, pertikaian akan menjadi-jadi dan peperangan akan terus menyajikan tumpahan darah, tangisan, serta kematian. Maaf-memaafkan adalah kesadaran utuh bagimana kita memahami bahwa manusia tempatnya salah dan lupa.
Yang perlu digarisbawahi pada pengantar ini ialah bukan bagaimana kita membatasi diri dalam merayakan momentum. Tapi bagaimana kita memahami esensi terhadap tindakan yang kita lakukan. Karena bisa saja, dan bahkan sangat mungkin kita bermaaf-maafan tanpa menunggu Idul Fitri, mudik tanpa harus menunggu lebaran, dan berpuasa tanpa menunggu ramadhan. Jika kita sudah memiliki kemampuan menangkap esensi terhadap apa yang kita lakukan kita bisa beramadhan sepanjang tahun, beridul fitri setiap hari, berhalal-bihal setiap saat.
Leave a Reply