Sudah bukan hal asing lagi dalam pemahaman manusia pada umumnya, bahwasanya manusia adalah sebaik-baik makhluk ciptaan Tuhan. Manusia bisa lebih mulia derajatnya daripada malaikat, juga pula bisa lebih rendah daripada iblis tergantung dinamika kehidupan yang dijalani semasa hidupnya. Namun ada hal yang sering kali dilupakan manusia, bahwasanya dibalik penciptaan manusia sebagai makhluk yang paling sempurna ada sifat yang selalu melekat pada diri manusia yaitu salah dan lupa. Lantas bagaimana kita memahaminya? Manusia makhluk ciptaan Tuhan paling sempurna namun memiliki sifat salah dan lupa. Dalam hal keindahan hidup, manusia yang baik bukanlah manusia yang tidak pernah melakukan kesalahan akan tetapi orang yang baik ialah orang yang menyadari kesalahannya, lalu menyesali, lantas memohon ampun dan bertaubat kepada Allah seraya berjanji tidak akan mengulanginya lagi. Sudah tidak dapat dipungkiri lagi bahwa sebaik-baik manusia pasti memiliki kekurangan dan sebenar-benar manusia pasti memiliki potensi kesalahan, juga sebaliknya.
Pada zaman Rasulullaah dikisahkan bahwa diantara orang yahudi, yang kebiasaan buruk mereka adalah mengubah perkataan dari tempat-tempatnya seperti menyangkut kenabian Rasul dan mereka berkata, “kami mendengar, tetapi kami tidak mau menurutinya.” Sebagaimana yang tertuang dalam potongan ayat di surah An-Nisa’ ayat 46. Bercermin dari kisah tersebut, manusia memiliki potensi “kafir”nya masing-masing. Secara bahasa, kafir berasal dari kata kufr, yang berarti menyembunyikan atau menutupi, maka bisa kita luaskan bahwa kekafiran tidak hanya pada kebenaran dan kebaikan, namun bisa juga pada kesalahan dan keburukan. Dari hal ini bisa kita sinambungkan bahwa jika kita menaati kebaikan maka kita akan mengkafiri keburukan, jika kita menaati kebenaran maka kita akan mengkafiri kesalahan, sebagaimana bisa kita ambil contoh jika kita makan,maka kita menaati kenyang dan mengkafiri lapar. Jika kita belajar, maka kita menaati pengetahuan dan mengkafiri kebodohan. Pun sebaliknya, jika kita enggan makan, maka kita menaati lapar dan mengkafiri kenyang, dst.
Pada dinamika kehidupan, manusia memiliki rasionalitas akal dan keteguhan hati sebagai landasan untuk menentukan sesuatu, maka tak heran bila manusia akan menaati sesuatu yang tentunya sesuai dan bisa diterima dengan akal dan hatinya. Akan tepat jika sesuatu itu adalah hal yang baik dan benar, akan berbahaya jika itu suatu yang salah dan buruk. Namun bagaimana jadinya bila kondisi kehidupan memaksa kita untuk taat sedangkan hal itu tak sesuai dengan rasionalitas akal dan keteguhan hati manusia? Atau bagaimana bila sesuatu yang sudah dapat kita terima dengan akal dan hati, namun dengan bangga kita enggan untuk melaksanakan dan menaatinya?.
Setiap manusia memiliki dinamika kehidupannya masing-masing. Dalam hal kesempurnaan pada makhluk, manusia merupakan makhluk yang sempurna dalam ketidaksempurnaan, juga makhluk tidak sempurna dalam kesempurnaan. Untuk menaati sesuatupun, kita tak akan lepas dari pembangkangan karena hidup ini akan terus berkesinambungan dan sawang-sinawang.
– Sami’na Wa (Ashayna) Atho’na –
Ku dengar panggilan adzan dari-MU…
Ku tunggu dulu iqomahnya, baru ku memulai langkah menuju rumah-MU…
Ku ketahui perintah iqro’ dari-MU…
Ku tuntaskan bacaan Whatsappku, baru ku baca seayat dari wahyu-MU…
Ku terima perintah sujud pada-MU…
Ku angkat tinggi-tinggi daguku, baru ku letakkan selembar kulit dahiku pada sajdahku…
Ku ketahui perintah tolabul ‘ilmu dari-MU…
Ku selesaikan dulu tontonan youtubeku, baru ku berangkat mencari majelis ta’lim-MU…
Ku pahami perintah zakat dari-MU…
Ku kenyangkan dulu perutku, baru ku bagikan sejumput beras pada makhluk-MU…
Ku sambut perintah puasa dari-MU…
Ku lahap segala makanan untuk sahurku, baru ku tahan lapar dan haus yang hanya sampai magrib-MU…
Ku lafadzkan kesaksianku kepada-MU…
Ku membangkang dulu, baru ku taati perintah-perintah-MU…
Jember, 7 Maret 2022
-M.N
Leave a Reply