Apa itu batas?. Seringkali kita kurang presisi dalam mendefinisikan sesuatu, tak jarang pemaknaan yang kita yakini ternyata tak lebih dari hasil konsensus masyarakat. Berbagai kegiatan yang kita lakukan seringkali menggunakan standart umumnya, lumrahnya, biasanya dan lain-lain yang mana hal itu seolah menjadi jebakan bagi kita tentang batasan itu sendiri.
Buya Hamka seorang cendikiawan muslim pernah menyindir kita. Beliau pernah berkata “Kalau hidup sekedar hidup, monyet di rimba hidup. Kalau bekerja sekedar bekerja, kerbau di sawah bekerja.”. Hal ini mengajak kita untuk sesungguhnya hendak mengajak kita agar dalam melakukan sesuatu tidak hanya di batas “sekedar”, “ala kadarnya”, “pokonya” dsb. Hal ini kembali menegaskan bahwa kita sering kali terjebak oleh batasan yang sebenarnya itu bukan batasan yang sesungguhnya hanya karena yang terjadi di masyarakat umumnya seperti itu.
Jika kita terbiasa melakukan hal-hal yang biasa dilakukan oleh kebanyakan orang maka hal itu biasa saja. Akan disebut istimewa tatkala kita melakukan sesuatu lebih dari biasanya. Kata “lebih dari biasanya” menunjukkan upaya yang lebih, tidak sekedar berbeda dari yang lain. Sikap seperti ini akan menghasilkan dampak yang besar kedepannya, akan ada kesadaran-kesadaran baru yang timbul dari sikap tersebut.
Jika seorang suami yang biasanya hanya memprioritaskan diri dalam mencari nafkah, lalu ia mengambil peran lebih dalam mengurusi printilan di rumah seperti bersih-bersih, mencuci, memandikan anak, dan memasak. Sangat mungkin sang istri akan lebih sayang, lebih menghormati, lebih menghargai sang suami. Seorang pejabat publik yang biasanya hanya bekerja di belakang meja lalu ia memilih untuk turun langsung ditengah masyarakat, agar dapat mendengarkan lanngsung permasalahan yang terjadi, lalu mengupayakan solusi terbaik bukan tidak mungkin masyarakat akan mencintai sosoknya. Dari sikap tersebut, nantinyaakan timbul kesadaran baru pada si pejabat tersebut bahwa apa yang ia lakukan secara tidak langsung di perhatikan oleh masyarakatnya. Begitupun dalam kontek hubungan manusia dengan Tuhan, jika kita sudah melakukan perkara wajib lalu merasa sudah cukup, hal itu bukan perkara istimewa karena itu memang diwajibkan, dan semua orang melakukannya. Pada fase berikutnya, cinta Tuhan juga akan biasa-biasa saja.
Disinilah perlu adanya keistiqomahan lebih dalam melakukan ibadah selain yang diwajibkan. Karena hal itu nantinya akan menimbulkan kecintaan Tuhan pada kmuroqobahita yang juga lebih, dimana dampak selanjutnya adalah Tuhan akan mengahdirkan kesadaran pada diri kita bahwa Tuhan membersamai kita, Tuhan mengawasi kita, dan Tuhan menyaksikan kita. Itulah . Perilaku tidak baik para pelayan publik bisa jadi karena tidak adanya kesadaran ini, tidak dianugerahkan oleh Tuhan sifat muroqobah pada dirinya, sehingga ia dengan seenaknya berbuat sewenang-wenang terhadap amanah yang ia emban. Perilaku eksploitatif terhadap alam, menggarong uang rakyat, memanipulasi anggaran, menyunat dana pelayanan masyarakat, jual beli jabatan, dan masih banyak lagi lendir-lendir menjijikan yang mereka lakukan.

Lantas adakah yang lebih nikmat selain memiliki kesadaran bahwa kita diawasi Tuhan?

Oleh Nurul Sang Pujangga JM