Teta: Tata Sirah Manah
Akhirnya saya harus menyesali telah menonton TETA, karena dengan hadirnya saya di acara nonton bareng yang diadakan oleh Simpul Maiyah Jembaring Manah saya kembali merasa asing lagi terhadap diri, oleh nilai-nilai yang selama ini saya anggap benar ternyata hal itu tak lebih dari konsensus masyarakat yang sejak lama dilaksanakan, semisal dimana jika kita disakiti akan menjadi lumrah jika kita balas menyakiti. Api dilawan dengan api, lemparan batu dibalas dengan lemparan batu. Itu telah menjadi satu “kebenaran” yang mainstream dilakukan. Diawal film, ada satu scene dimana saat dua pelaku perampasan dagangan Nur dan Budi ditangkap oleh polisi. Di adegan itu sang pelaku berkata bahwa ia merampas karena dia sedang lapar, lalu seketika Nur berisiatif membungkus beberapa gorengan lalu diberikan kepada pelaku, tak sampai di situ saja, bahkan Nur masih memberikan “uang saku” untuk membeli makan siang. Ini bentuk penerapan bahwa api tak harus dibalas dengan api, lemparan batu tak harus dibalas dengan lemparan batu. Potongan adegan itu seolah menjadi cermin bahwa kita tidak bisa begitu saja menghakimi seseorang.
Entah apakah penamaan tokoh juga bagian dari simbol yang hendak dihadirkan oleh penulis naskah. Dua orang anak itu bernama Nur dan Budi. Nur artinya cahaya dan Budi adalah paduan akal dan perasaan untuk menimbang baik dan buruk. Adegan itu seolah menunjukkan pada kita bahwa dalam bersikap kita harus memehami dulu latar belakang peristiwanya, agar output yang dihasilkan baik. Bukankah kita seringkali terjebak oleh penilaian awal kita terhadap hal-hal buruk yang terjadi. Bahkan dengan serampangan kita tak segan menghakimi seseorang. Tak sedikit para pendosa sadar bahwa yang dilakukannya merupakan perilaku buruk, namun karena orang sekeliling lebih memilih sikap menghakimi daripada mengulurkan tangan, memeluk dan menemani menuju kebaikan. Maka pada akhirnya mereka semakin menjadi-jadi pada perilaku yang buruk.
Sebutlah orang-orang yang berperilaku buruk itu sebagai orang yang tersesat, bisa jadi mereka sadar bahwa mereka tersesat, yang mereka butuhkan adalah petunjuk menuju jalan yang benar bukan penegasan dari orang-orang bahwa mereka tersesat. Maka bukankah menjadi bijak jika kita memilih menemani mereka menuju jalan yang benar, dengan menunda bahkan menolak untuk menghakimi. Di adegan tersebut pun akhirnya diceritakan bahwa dua pelaku itu menyediakan diri mereka menjadi body guard bagi Nur dan Budi jika kelak ada yang mengancam diri mereka saat berjualan.
Kembali membahas mengenai keterasingan diri saya selepas menonton TETA, melaui potongan scene itu saya merogoh kembali perilaku saya bahwa saya selama ini masih tak lebih menjadi reaktor saja. Kalau mendapatkan kebaikan ya membalas kebaikan, kalau mendapat keburukan ya membalas dengan keburukan. Memang pada beberpa pendapat mengatakan bahwa sombong terhadap orang sombong itu wajar. Tapi jika hal seperti itu terus berlanjut sampai-sampai menjadi habit maka perjalanan kebudayaan dan peradaban manusia tinggal menganalisa rasio kebaikan dan keburukan yang kita terima tiap waktunya. Saat kita lebih memilih menempatkan diri sebagai reaktor, dan orang-orang sekeliling kita lebih banyak memberi input yang buruk maka kita akan berperilaku keburukan juga. Perlahan kita memang seharusnya memilih atau menempatkan diri sebagai pereaktor, ya benar pereaktor kebaikan. Memadamkan api ya tentu dengan air bukan dengan bara yang lebih besar. Kalaupun pada akhirnya dampak yang dihasilkan tidak bersifat segera, atau bahkan tidak terwujud, setidaknya kita sudah berupaya menanam kebaikan meski sebiji dzarrah. Itulah mungkin output yang dihasilkandari sinergi antara Nur dan Budi. Tatkala tercahayainya paduan akal dan perasaan dalam menimbang benar dan salah, baik dan buruk. Sehingga dapat menghilir pada satu sikap, yaitu kebijaksaaan. Masih sangat mungkin sekali untuk menggali dan menghadirkan nilai-nilai yang ditampilkan dari keseluruhan cerita di film TETA. Namun menjadi spoiler bagi sebuah karya tentu bukan pilihan yang tepat. Terima Kasih Abah, Terima Kasih Emak telah mengantarkan kami pada perjalanan panjang menyelami diri. Sekali lagi, terima kasih.
Leave a Reply