Artificial Inttelligence Mpu Gandring
Penyajian tema bulan ini membahas dua hal, yakni Artificial Intelligence (AI) dan Mpu
Gandring. “Apakah AI hanya terbatas pada robotika?” Pertanyaan itu seketika saya haturkan
kepada Adimas Agung Ferly Herlambang–mengingat beliau saban harinya termasuk salah
seorang yang berkutat di dunia IT. Tentu saya amat yakin beliau sangat paham mengenai hal ini.
Menurutnya, AI adalah konsep pengumpulan data yang dilakukan untuk memproduksi
kecerdasan buatan. Minimal data yang harus dikumpulkan berjumlah ribuan dan proses ini
memakan waktu yang relatif lama. Hal itu dilakukan agar pada saat “produk” tersebut telah siap,
ia bukan hanya menjadi sekadar “sistem” yang bertugas menjalankan perintah, tapi lebih jauh
dari itu. Kecerdasan buatan, secara otomatis memiliki kemampuan untuk menangkap
kecenderungan pola, sehingga nantinya dapat merespon atas suatu tindakan. Oleh karena itu,
disebut kecerdasan buatan karena kecerdasannya tergantung seberapa banyak ia mengumpulkan
data, dari sana pada akhirnya dapat terlihat validitas tingkat kecerdasan AI tersebut.
Dalam khazanah ilmu pengetahuan, kita mengenal dua logika modern; Bolean logic dan
Fuzzy logic. Secara sederhana, bolean logic adalah logika dimana ia hanya mengenal dua
kemungkinan, ya atau tidak, hitam atau putih, angka nol atau angka satu atau sistem bilangan
biner. Sementara fuzzy logic adalah wilayah ketidakpastian dan kemungkinan di tengah kedua
pilihan tersebut.
Analogi yang bisa digunakan adalah fuzzy logic berarti wilayah luas di antara angka nol
dan angka satu. Spektrum warna di antara ekstrem hitam dan putih serta berbagai variabel
lainnya. Antara jawaban ya dan tidak.
Kedua logika modern ini, dalam aplikasi budayanya memiliki perbedaan. Bolean logic
menjadi dasar bagi teknologi digital dan hanya mengenal on dan off dan perhitungan angka yang
pasti seperti kalkulator. Namun fuzzy logic, digunakan untuk teknologi kecerdasan buatan yang
akan dibahas pada malam ini.
Dalam ranah peradaban manusia, Mbah Nun pernah menerjemahkan fuzzy logic dan
bolean logic. Mbah Nun memulainya dengan pembahasan DNA yang memasok tiga jenis
informasi prototype manusia. Ada informasi jasadiyah yang membentuk tubuh manusia, ada
DNA yang memberi informasi sistem yang bertanggung jawab aas pembangunan sistem syaraf,
sistem berpikir, teknologi otak, dan pengendalian kerja tubuh yang otomatis seperti jantung,
lambung, paru-paru, dsb. Hal ini, oleh Mbah Nun disebut sebagai informasi yang berbasis
Bolean Logic.
Hal ketiga yang dibahas adalah informasi rohaniah yang bertanggung jawab membangun
sistem rohani yang dalam bahasa jawa disebut roso. Dan inilah yang oleh Mbah Nun disebut
berbasiskan fuzzy logic yang mengedepankan ketidakpastian serta kemungkinan. Mbah Nun juga
menyebut, bahwa peradaban saat ini hanya sampai pada Bolean Logic.
Sementara, telah banyak kita saksikan manusia yang utuh, menjadi bagian dari semesta
dan juga bisa berkomunikasi dengan alam semesta. Sebagai contoh, ada beberapa orang yang
diberi kemampuan meneropong masa depan, menjadi orang yang tahu sebelum kejadian, weruh
sakdurunge winarah. Ini bisa terjadi sebab orang tersebut memiliki kecerdasan dalam
mengoptimalkan ‘fuzzy logic’ yang ada dalam dirinya untuk mencari, menyerap, lalu mengelola
informasi yang didapatkan, dan pada akhirnya mengaplikaskannya dalam sebuah tindakan.
Orang-orang tersebut, tak hanya mentok pada Bolean logic. Pengoptimalan kedua logika
modern dalam diri manusia tersebut, akan menjadikan kita sebagai manusia yang utuh. Hal ini
dapat kita referensi untuk mengarungi arus peraban hari ini yang tak hanya berjalan, tapi berlari
dengan sangat cepat.
Mentadaburi AI adalah jalan untuk menempeleng diri sendiri yang terlalu hanyut dalam
kemalasan yang nikmat. Kekayaan diri dalam menyerap informasi menjadikan kita tak lagi
gagap menghadapi zaman. Pentadaburan lain terhadap AI barangkali akan lebih banyak lagi,
lebih dalam lagi, lebih luas lagi dan lebih rinci dalam.proses melingkar nanti.
Lantas apa kaitan AI dengan Mpu Gandring?
Barangkali itu akan menjadi pertanyaan di benak beberapa orang. Apakah Mpu Gandring
termasuk orang yang memelopori hadirnya AI atau malah adanya AI adalah salah satu cara untuk
menghadirkan Mpu Gandring – Mpu Gandring baru? Manusia ampuh yang mampu
menghadirkan kutukan tujuh turunan bagi Penguasa?
Jadi, AI dibuat dibuat untuk melahirkan Mpu Gandring baru agar mampu mengutuk
penguasa?.
Oleh Nurul & Firdaus
Leave a Reply