Pada akhirnya kita sepertinya harus bersepakat bahwa masa lalu dan masa depan sebenarnya “tidak ada”. Masa lalu sudah pasti tidak bisa untuk kita kunjungi lagi keberadaannya sudah usang ditelan waktu, dan masa depan belum bisa disinggahi, limitasi yang dimiliki manusia menjadikannya tidak pernah mungkin dengan segera menempati mas bya depan. Seperti yang terjadi di serial doraemon.
Yang paling mungkin untuk dihuni adalah masa kini, hari ini yang sudah jelas “pasti ada, keberadaannya menjadikan manusia memiliki banyak peluang-peluang yang dapat dilakukan dalam nglakoni obahing urip. Bergeraknya manusia, terikat oleh dua hal yaitu ruang dan waktu. Ruang yang tidak hanya berarti room, ruang yang dalam arti lebih luas. Ruang dalam arti segala sesuatu yang dapat “ditempati”, ia bisa berarti kamar tidur, kamar mandi, rumah, sebuah kota, sebuah negara, sebuaj planet, dan sebagainya. Leluhur terdahulu memiliki cara dalam menamai ruang atau tempat, yaitu dengan awala “Pa”, contohnya pa-karangan, pa-ndhalungan, pa-rahyangan, pa-dukuhan, pa-tilasan, pas-sarean, pa-naongan, pa-santren, pa-narukan, pa-sar, pa-depokan dan masih banyak lagi contoh-contoh penggunaan “pa”. Waktu, oleh para leluhur dinamai dengan sebutan “kala”, kalabendu, kalasebo,kalatida, sandikala, dan masih banyak lagi. Penamaan itu biasanya terkait dengan sebuah peristiwa yang terjadi dalam kurun waktu tertentu.
Kita, orang-orang Nusantara sungguh tidak asing dengan buah yang bernama Kala-Pa, maka sampai titik ini kita bisa mulai memahami mengapa dibeberapa ritual leluhur kita sering menggunakan buah kelapa sebagai bagian dari kelengkapan ritual, karena ia menjadi simbol ruang (pa) dan waktu (kala). Poros dari masa lalu dan masa depan adalah masa kini, hari ini. Untuk memahami masa kini kita perlu memahami “kerja” ruang dan waktu yang dimana oleh leluhur kita disimbolkan dengan kelapa. Oleh karena itu, untuk lebih menjlentrehkan tema bulan ini, salah satu ikhtiarnya adalah dengan mencari nilai-nilai yang terkandung dalam daur hidup tumbuhan bernama kelapa.
Sebuah tumbuhan, kelapa sangat banyak manfaatnya, dari akar sampai ujung daun. Batang pohon kelapa dijadikan bahan bangunan, daunnya yang masih muda dapat dijadikan beraneka ragam produk anyaman, seperti ketupat, lepet, ornamen dekorasi pernikahan, dijadikan mainan seperti keris, burung dan masih banyak lagi. Daunnya yang kering dapat dijadikan atap rumah. Buahnya yang masih muda -degan- sangat segar diminum apalagi ditambah es dan perasan jeruk nipis, buahnya yang tua dapat dijadikan santan, minyak. Kulit buahnya -saut kelapa- dapat dijadikan kerajinan tangan semisal sapu, dijadikan bahan
alami dalam batik. Batok kelapanya, dapat dijadikan beraneka kerajinan, semisal gayung, asbak, mainan anak dsb. Akar pohon kelapa, dalam beberapa tulisan disebutkan dapat menjadi obat untuk beberala penyakit.
Karakter pohon kelapa itu sangat adaptif, ia dapat tumbuh hampir disemua keadaan dan cuaca. Pohon kelapa dapat kita temui di pesisir, di persawahan, di pegunungan. Pohonnya yang menjulang tinggi sangat kokoh, tidak mudah roboh diterpa angin. Karakter buahnya sangat terjaga, sehingga sulit dimakan oleh kampret, -apalagi cebong-, eh.
Dari beberapa penjlentrehan mengenai pohon kelapa, kita dapat mengambil nilai-nilai filosofis yang terkandung didalamnya, yang paling terlihat ialah bagaimana keseluruhan diri ini dapat menjadi manfaat bagi sesama. Agar kebermanfaatan itu dapat lahir, tumbuh, dan berkelanjutan perlu memiliki karakter serupa kelapa yang adaptif disegala medan, dan kokoh pendiriannya bagaimana pun angin masalah menerpa bahkan mungkin jika pohon kelapa diaruduk banteng sekalipun ia akan terus kuat berdiri, serta fokus dalam bertumbuh sebagaimana kelapa yang tak memiliki cabang. Bertumbuhnya pohon kelapa tak menjadikan tumbuhan disekelilingnya kesulitan untuk hidup, tidak seperti beringin.
Andai saja bisa, barangkali kita dapat bertanya kepada Bung Tomo yang dulu pernah membuat partai politik dengan logo pohon kelapa. Karena sangat tidak mungkin seorang orator sekaliber Bung Tomo asal-asalan dalam membuat logo politik. Andai saja bisa, sayangnya beliau sudah lama kapundut dan sudah barang tentu tidak mungkin bisa untuk ditanya-tanyai perihal filosofi pohon kelapa. Atau kita tanyakan saja pada penggiat pramuka, bukankah simbol kepanduan otu berlogo tunas kelapa?. Tapi kapan mau ditanyakan lha wong persami saja sudah hampir tidak ada semenjak pandemi. Kegiatan pramuka juga sudah tentu juga bisa dibilang tidak ada, menjadi perkara yang agak anu jika kegiatan baris-berbaris dilakukan via online. Kerapian serta kekompakan dalam berbaris pasti sulit terlaksana, karena sangat mungkin satu, dua, atau beberapa peserta mengalami sinyal yang buruk. Ya meskipun tidak sampai keluar notifikasi “404: not found” seperti yang pernah dimural sama beberapa seniman. Berhubung tidak adanya kegiatan pramuka, maka yasudahlah kita selami pemaknaan nilai-nilai yang terkandung di dalam pohon kelapa dengan, satu kali tepuk pramuka!
Prok prok prok !
Prok prok prok !
Prok prok prok prok prok prok prok prok prok prok!
Leave a Reply