Di beberapa kesempatan Simbah pernah menyampaikan -yang kurang lebih intinya- bahwa Maiyah ada bukan untuk menambah masalah-masalah yang sudah ada, Maiyah ada untuk menghadirkan opsi-opsi solutif untuk permasalahan yang terjadi. Bulan kemarin kita belajar, ngaji, menggali, bercermin kepada rumput tentang bagaimana agara terus berusaha untuk tetap tumbuh dengan berbagai tekanan apapun. Bagaimana menjadi bermanfaat meski seringkali diinjak-injak. Yang pada diskusinya menyabang ke berbagai ranah, dan jangkauannya semakin luas dan beragam. Di bulan ini, penggalian ilmu mengenai upaya-upaya solutif di usulkan oleh Mas Dika “Tiktok” (bukan konten creator tiktok, di tulisan lain akan dibahas siapa beliau ini). Saat dihubungi oleh tim penggali tema yang diprakarsai oleh Bung Aziz, Mas Dika mengusulkan temanya adalah tentang bersyukur, “La Tansaa (jangan lupa) Bersyukur”.

Dalam ranah sebab-akibat, “bersyukur” berada di wilayah sebab. Seperti janji Tuhan, siapa yang bersyukur akan ditambah,  siapa yang kufur akan diazab. Ini menjadi perkara penting dalam menghadapi problems saat ini. Konsep Tuhan sudah sangat gamblang, atas segalasandungan, rintangan, halangan, dan berbagai yang terjadi, baik itu terkait dengan kelancaran rizki,  sosial, rumitnya birokrasi, serta yang perlahan-lahan mulai rusaknya tatanan sosial melalui tontotan media, dan banyak lagi sebab yang menjadikan seolah hidup tidak ada nikmat-nikmatnya. Melalui usul Mas Dika inilah akhirnya dihadirkan Janji Tuhan yang termaktub dakam kitab suci. Opsi solutif ini diperkecil ranah, skala, dan jangkauannya agar setiap manusia dapat berupaya menjalani. Semisal  jika solusi itu nantinya terkait dengan birokrasi pemerintahan, maka hanya orang-orang yang memiliki akses saja yang dapat menjalani. Kambali dalam pembahasan tentang syukur, barangkali ketidaknikmatan kita dalam menjalani hidup karena kita lupa bersyukur, hingga akhirnya tanpa sadar kita telah diazab oleh Tuhan. Pikiran selalu tidak tenang, hati selalu gelisah. Menapaki masa depan seolah perjalan yang amat berat untuk dilalui. 

Secara harfiah, bersyukur itu artinya ialah ungkapan terima kasih kepada Tuhan. Jika lebih diperdalam lagi, maka ini bagian dari adab kita terhadap Tuhan, adab atas segala yang telah diberikan oleh Tuhan. Untuk beberapa hal terutama terkait duniawi, kita sering mendongak ke atas. Membandingkan pendapatan diri sendiri dan orang lain. Sehingga timbul sifat-sifat yang tidak semestinya, yang akhirnya menjadikan lupa untuk bersyukur. Jika perilaku ini (lupa bersyukur) dialami oleh banyak orang, oleh sebagian besar orang, oleh mayoritas orang yang mendiami sebuah negara, maka tak pelak azab akan serupa hujan yang mengguyur. 

Bersyukur itu berada di satu titik potong koordinat vertikal dan horisontal, titik hablum minallah dan hablum minannas. Disatu sisi, saat kita bersyukur kita sedang melaksanakan adab yang baik kepada Tuhan sebagai bentuk terima kasih atas segala pemberian. Di satu sisi, saat kita bersyukur kita terhindar dari sifat tamak, rakus, eksploitatif dan sifat sejenisnya. Sehingga pada ranah manusia kita tidak sampai mengambil hak sesama. Kita akan merasa cukup atas segala pemberian, tidak cawe-cawe terhadap apa yang sedang dimiliki oleh orang lain. Sebagai pengatar tentu ini masih sangat ranum, sangat dangkal, masih amat sangat perlu untuk diperdalam, diperluas, dan diperinci lagi. Maka…

Mari berlapang dengan duduk bersama

Melingkar, belajar, mengakar

Siyu gaessss…

#kecupbasah!

Oleh: Mas Kanjeng Nurul