Kabarnya, informasi terkhir diketahui bahwa rumput dapat hidup di Mars. Hal ini dilakukan sebagai kelanjutan dari keinginan sebagian manusia mencari tempat tinggal baru selain Bumi, karena planet yang kita tempati hari ini sudah dianggap tidak akan layak huni do beberapa waktu kedepan, oleh karena itu dilakukanlah penelian tersebut.
Beranjak dari hal tersebut akhirnya diketahui pula bahwa awal mula kehidupan di bumi tak lain ialah dari tumbuhan, rumput, dam sejenisnya, lalu berproses sedemikian rupa hingga hadir binatang dan tumbuhan.
Barangkali kita tidak akan membahas dari sisi keilmuan tersebut, karena perlu adanya kajian dengan standart yang mumpuni terkait hal tersebut, perlu riset mendalam yang itu sangat lama dan mendetail. Upaya yang mungkin dilakukan terkait rumput ialah mentadaburinya sebagai sebuah proses bertumbuh dari makhluk hidup. Sebagai tulisan pengantar, era pandemi seolah membangun ruang yang amat luas untuk manusia melakukan perenungan di berbagai lini kehidupan, melalui berbagai peristiwa, objek, dan banyak hal sebagai “media awal” atau “gerbang awal” perenungan. Selama pandemi ini, bukan hanya kesehatan fisik yang perlu perhatian, kesehatan mental pun taknkalah perlu. Di beberapa kalangan masyarakat, mulai terjangkit sifat keputusasaan dalam menjalani hidup di era ini. PHK beberapa perusahaan, kontrak kerja yang berubah, daya beli masyarakat yang menurun dikarenakan mereka melakukan pengaturan ulang terhadap skala prioritas dalam melakukan konsumsi kebutuhan. Melalui potongan peristiwa ini, mengaca pada rumput akan menjadi salah satu upaya solutif dalam menjalani hidup. Jika kita amati betul, sungguh-sunguh dalam mentadaburi rumput, ia adalah makhluk hidup yang menolak putus asa. Coba perhatikan seberapa sering manusia “memusnahkan” rumput baik menggunakan alat seperti cangkul, clurit dan alat pertanaian lainnya. Ataupun menggunakan cairan pestisida. Barangkali ia mati untuk beberapa saat, namun selang beberapa waktu ia akan tumbuh lagi. Andai alur hidup rumput itu dapat diterjemahkan menjadi sebuah teks, barangkali ia akan berbunyi “aku rumput, pantang mati sebelum ajal menghampiri”.
Kehendak mati yang dilakukan manusia seolah sia-sia jika Pemilik Kehidupan masih berkenan memberi hidup bagi rumput. Maka mentadaburi rumput, ialah perenungan yang kompleks bagaimana menyikapi hidup dengan ketidak putusasaan, meyakini dengan sungguh-sungguh bahwa segala yang terjadi tak lain atas kehendak Tuhan. Diskusi ini akan dapat diperluas, diperdalam, diperinci lagi. Bahkan menggali sisi yang lain dari apa yang dilakukan rumput dalam proses tumbuh kembanganya.
Maka sebelum nantinya manusia berbondong-bondong bermigrasi ke Mars, setidaknya kita sudah kenal betul seluk beluk terhadap makhluk yang dengan sepakat dinamai rumput. Yuk sruput~
Leave a Reply