Proses penggalian pengetahuan melalui ilmu, yang di istimaqomahkan tiap bulannya ternyata tidak pernah buntu dalam nguri-uri kawicaksanan, dalam ngoncek’i kaweruh, dalam mengeksplorasi segala hal sebagai bahan baku dalam membangun hunian rindang di masa depan. Proses mencari-menemukan korelasi dari berbagai hal yang tercecer selama ini terus diupayakan agar terbangun konstruksi berfikir yang utuh mengenai sikap yang akan kita pilih dalam melakoni peradaban mutakhir ini. Sedikit selingan, malam itu ada WA masuk dari Bapak Aziz mengamanahi untuk dibuatkan prolog bulan ini dengan tema Topongeli sinom parijoto. Tentu, sebagai eksekutor saya perlu tau kisi-kisinya agar dapat mengantarkan teman-teman dalam memulai diskusi. Kisi-kisinya ialah sebagai berikut:
[8/12 12.30] Aziz JM: intinya ajaran sunan muria yg terkenal dihalayak umum, kemudian keli sama ngeli beda
[8/12 12.30] Aziz JM: googling juga sinom parijoto
[8/12 12.31] Aziz JM: itu tentang penemuan istri dari sunan muria.
Sebagai yang diamanahi untuk jadi “pengantar” mari kita urai perlahan apa itu topo ngeli. Salah satu metode dakwah yang pertama kali disampaikan saat di desa terpencil adalah Topo Ngeli. Topo ini adalah membaurkan diri dengan berbagai aktivitas yang ada di dalam masyarakat. Berkat metode ini, Sunan Muria menjadi lebih mudah dalam menyampaikan pesan penting ajaran agama Islam dan menghimbau masyarakat untuk selalu berperilaku baik. Salah satu wisdom jawa ialah “ngeli ning ora keli” secara sederhana dapat diartikan hanyut namun tak terhanyut. Kalimat ini mempertegas apa yang dikatakan Bapak Aziz bahwa ngeli dan keli itu beda. Hanyut dan terhanyut itu tidak sama. Terhanyut ialah satu momentum dimana manusia tidak memiliki kendali terhadap arus yang ada di sekitarnya, arus disini dapat berupa pergokalan zaman, trend, cara bersikap secara umum dan banyak hal yang serupa. Sedangkan hanyut, dalam hal ini ialah bentuk pembauran di dalam masyarakat. Ia seolah-olah terlihat serupa tapi tak pernah benar-benar serupa. Ia sepertinya sama, tapi sejatinya ia tak pernah sama. Pembaruan terdifinisi sebagai bentuk kompromi atau kesepakatan terhadap perilaku yang sedang berlangsung. Ia menjadi sikap yang tidak melawan arus, tapi juga tidak begitu saja terhanyut. Jika dikembangkan lebih lanjut, hal ini dapat menjadi sebuah solusi atas problem terkini yang terjadi di masyarakat, terutama Indonesia. Kita ambil contoh terkini, bagaimana Simbah Ainun mengusulkan agar diselenggarakan diakusi empat mata antara HRS dan Presiden. Jika kedua gelombang sikap tetap pada pendiriannya maka yang hadir adalah perilaku saling tuding, yang satu mengatakan bahwa pemerintah dzolim, disisi lain menyatakan bahwa HRS telah melanggar aturan. Jika pembauran dapat diterjemahkan sebagai bentuk kompromi atau kesepakatan maka konflik horisontal di akar rumput tidak akan terjadi. Sipil dan pihak keamanan tidak akan bersitegang. Egosentris sebagai akibat dari sikap saling mengunggulkan ekaistensi diri sendiri tidak akan muncul. Jika diperas lebih lagi, akan sampai pasa sikap legowo, ini akan menjadi diskusi yang semakin kompleks.
Lantas, apa kaitan antara topo ngeli dengan sinom parijoto, dengan penemuan istri Sunan Muria barangkali akan menjadi sajian di malam saat melingkar nanti. Barangkali “pengantar” dicukupkan sampai disini, barangkali memang belum maksimal, namun setidaknya ini dapat menjadi pintu menuju diskusi yang lebih hangat.
Mari lanjutkan pengelanaan dalam menggali kewicaksanaan ini.
See you gaesss :*
By Nurul JM
Leave a Reply