Berangkat dari kegelisahan terhadap disharmoni orkestra kehidupan, Jembaring Manah mengangkat tema Gambang Syafaat dengan harapan agar nada dalam hidup kembali merdu sebab mendapat taburan Syafa’at dari Kanjeng Nabi Muhammad SAW.
Forum rutinan yang dilaksanakan setiap bulan, kali ini diselenggarakan di gedung Baladika Nahdlatul Ulama, Antirogo, Jember. Gedung yang posisinya berdekatan dengan Pondok Pesantren Nurul Islam Jember. Kondisi gedung nampak usang karena jarang digunakan, dilengkapi dengan dinginnya malam seolah menjadi isyarat bahwa kita manusia memang butuh dirawat, butuh cahaya, dan butuh kehangatan dari Syafa’at Kanjeng Nabi.

Di acara yang pelaksanaannya dilakukan pada tanggal 07 Maret 2020 ini, Jama’ah Maiyah yang baru datang disambut dengan lantunan lir-ilir dan kemudian dilanjutkan dengan sholawat. Lantunan lagu-lagu daerah dan sholawat, menambah kenikmatan acara yang lokasinya berdekatan dengan sawah warga. Walaupun acara yang dilakukan hanya dengan beralaskan terpal sederhana, penerangan seadanya, dan konsumsi yang sangat biasa-biasa saja, tidak mengurangi kenikmatan, kekhusyukan, dan kegembiraan Jama’ah yang hadir malam ini. Dari sini, kita bisa menyadari, seperti yang telah sering di-dawuh-kan oleh Mbah Nun, bahwa kebahagiaan dan kegembiraan tidak tergantung pada yang berada di luar diri, melainkan pada sesuatu yang berada di dalam diri.
Pada kegiatan kali ini, forum dibuka oleh Mas Saka dengan memberi pemahaman bahwa hal paling utama dalam acara ini adalah kemesraan dari seluruh yang hadir. Setelah sedikit menekankan pemahaman, acara dilanjutkan dengan tawassul yang dipimpin oleh Gus Dimas. Setelah selesai, Mas Saka selaku moderator dalam acara meminta salah satu Jama’ah Maiyah yang hadir untuk memperkenalkan diri. Namanya Mas Bagus, ia bertugas untuk menabuh gendang dalam mengiringi musik dan sholawat malam ini, dan kemudian menjelaskan bagaimana prosesnya hingga mau dan menjadi penabuh gendang di acara yang dilaksanakan oleh Jembaring Manah.
Mas Bagus, yang baru di Jembaring Manah, pada awal perkenalan dengan Maiyah, Mas bagus melihat dari story whatsapp temannya. Kemudian ia mencari sendiri informasi tentang Maiyah di media sosial. Karena ia tertarik pada isi yang disampaikan oleh Mbah Nun dan menemukan bahwa teman dan gurunya juga menyukai hal yang sama, ia mulai untuk melingkar bersama teman dan gurunya di sekolah terlebih dahulu. Berlanjut pada pencariannya tentang simpul yang ada di Jember. Dan, kok ya kebetulan ia di-sambangi dan diminta oleh Mas Saka untuk berpartisipasi dalam setiap acara Jembaring Manah. Tanpa pikir panjang, Mas Bagus langsung meng-iya-kan ajakan tersebut. Selain karena ajakan Mas Saka, Mas Bagus mau berpartisipasi dalam acara Jembaring Manah karena keinginannya sendiri.
Setelah itu, dilanjutkan dengan sedikit pembacaan kondisi sosial oleh Mas Saka tentang pemberian salam. Kondisi yang terjadi dan banyak kita lihat adalah adanya penyatuan berbagai macam salam. Dan ini adalah salah satu indikator bahwa orang sudah saling tidak percaya. Orang-orang merasa terancam dengan salam orang lain yang berbeda dengan dirinya. Kalau di islam, biasanya untuk pemberian salam memakai Assalamualaikum. Tapi kalau salam ini digunakan di forum-forum dan acara tertentu, bisa-bisa yang mengucapkannya diarani intoleran, dlsb. Kondisi ini menunjukkan bahwa saat ini kita tidak bisa berlaku sebagaimana telah ditakdirkan. Ayam tidak boleh berkokok, kambing dilarang mengembik, dan singa diharamkan mengaum.
Agar tidak kelewat serius, dipilihlah lagu ser-keseran yang merupakan lagu daerah. Pada acara kali ini memang proporsi bermain musik lebih banyak dari bicara dan diskusi. Mengingat bahwa tema yang dipilih mencantumkan Gambang, yang oleh beberapa Jama’ah dimaknai sebagai alunan nada, musik, getaran, dan gerakan. Semua dilakukan sebagai upaya untuk sesuatu yang dikatakan oleh Mas Wisnu, memiliki semacam koneksi spiritual dan sebagai perwakilan dari sesuatu yang tidak dapat dikatakan. Dilanjutkan dengan pembahasan kritik dan saran terhadap prolog yang sebelumnya telah ditulis serta mengenai penting atau tidaknya prolog dalam sebuah acara.
Salah satu Jama’ah kemudian mengajak semua untuk berpikir bahwa Syafa’at itu sebagai akibat dari suatu kegiatan yang nyenengno Kanjeng Nabi. Bahwa Gambang sebagai predikat dan kita ini, manusia, sebagai subjek yang memainkannya. Maka dari itu, kita harus memainkannya dengan tepat dan sebaik-baiknya. Kemudian ia juga merespon beberapa jama’ah yang membahas tentang isu yang sedang marak di media. Bahwa isu tersebut, kata Cak Rayis, tujuannya tidak lain adalah sebagai penyebar ketakutan yang pada akhirnya akan mempengaruhi psikologi massa. Dan sebenarnya, proporsi ketakutan yang berlebihan-lah yang harus diperhatikan banyak menyebabkan sakit. Respon tersebut berupa karakteristik dari orang Jawa yang seharusnya tidak gumunan dan tidak kagetan. Isu di media, permasalahan hidup yang sedang dialami, dan segala yang datang ke diri kita sebaiknya disikapi dengan biasa-biasa saja melalui ketenangan pikiran.
Mengenai ketenangan pikiran yang pada ujungnya adalah kebahagiaan, dalam acara ini ada yang memberi pemahaman bahwa ketika kita gembira, maka sel-sel yang ada dalam tubuh kita juga akan menguat. Salah satu contohnya adalah sel darah putih yang bertugas untuk mateni virus-virus yang menyerang tubuh. Sel darah putih akan mencari terlebih dahulu apakah ada sesuatu yang membahayakan bagi tubuh, jika sudah ditemukan, sel darah putih akan melakukan tugasnya untuk memakan virus tersebut, kemudian bunuh diri dibarengi dengan terbunuhnya virus yang dimakan. Regenerasi sel darah putih, akan maksimal jika kita dalam kondisi bahagia. Dan InsyaAllah, tubuh akan dikaruniai kesehatan. Maka dari itu, bergembiralah dan berbahagialah.
Yang paling utama adalah gembira dan bahagia. Dan seluruh Jama’ah yang hadir malam ini merasakan itu semua. Ditengah-tengah acara yang diliputi dengan kebahagiaan, hati Jama’ah ditambah lagi dengan kebahagiaan lain berupa uraian dari Cak Panut yang mengatakan bahwa beliau masih bersyukur, masih ada anak muda yang mau berkumpul disini untuk berpikir. Di jalan, beliau melihat anak-anak muda yang kebut-kebutan yang tentu mengganggu jalan raya dan ketenangan warga. Dan ketika sampai ke tempat diselenggarakannya acara, Alhamdulillah, masih ada anak muda yang bersenang-senang dengan cara yang tepat.
Sebelum ditutupnya acara, kita disuguhi pemahaman oleh Gus Dimas tentang tujuan dari segala yang macam-macam. Beliau mengatakan bahwa sebenarnya inti semua yang dilakukan hanyalah satu, Allah. Ada juga penjelasan tentang manusia yang diciptakan dengan sebaik-baiknya, keharusan untuk berlaku baik, dan tadabbur ayat yang isinya bahwa Kanjeng Nabi diperjalankan untuk membimbing generasi selanjutnya. Pokoknya begini, kita berbuat baik, Kanjeng Nabi seneng, Allah juga seneng. Sudah itu saja. Kita di dunia hanya itu tugasnya.
Sebelum acara diakhiri, semua Jama’ah Maiyah dipimpin oleh Mas Saka untuk melantunkan Mahallul Qiyam yang menambah suasana kerinduan pada the only our rule model Kanjeng Nabi Muhammad SAW. Kemudian doa. Sekian.

Leave a Reply