Oleh Firdaus JM.
Kali ini, kita awali dengan pembahasan tentang pentingnya musik dalam kehidupan. Musik merupakan susunan dari irama, nada, dan rasa. Musik tidak bisa disempitkan fungsinya hanya sebagai pelipur lara. Dimensi lain dari dan dengan adanya musik, adalah nilai yang bentuknya kemampuan dan upaya para pemainnya dalam mengharmonisasikan berbagai instrumen yang heterogen ketika dimainkan secara bersamaan. Semua ini dilakukan agar tidak muncul nada-nada sumbang yang membuat musik tidak dapat dinikmati keindahannya. Diperlukan ngolah rasa, ngemong rasa, dan latihan nyawiji agar memiliki ketepatan dalam memainkan nada-nada yang mengalun di dalamnya.
Sama halnya dengan hidup, kita perlu dan butuh ketepatan nada agar seluruh dimensi yang ada mampu mencapai harmoni dan keseimbangan. Pemahaman dan pengetahuan tentang musik sangat diperlukan ketika muncul ‘nada sumbang’ berupa konflik, perpecahan, peperangan, dan berbagai upaya berebut kepentingan. Hidup jadi tak indah, sebab ada yang ingin bermain dan menguasai ‘panggung pentas’ sendirian.
Kita ambil lagi satu contoh penerapan ketepatan nada yang diambil dalam pewayangan. Suara rebab tidak akan digunakan ketika pentas wayang memasuki segmen perang. Pemain musik dalam wayang, mengerti kapan dan harus apa ketika segmen perang, dan mengerti bagaimana musik yang tepat bagi segmen lainnya. Sederhananya, setiap pemain instrumen dan alat dalam orkestra kehidupan, harus mengerti kapan ia berbunyi, kapan ia berhenti, dan mencari bagaimana nada yang tepat agar tercipta suasana indah, harmoni, dan seimbang. Ia mengerti, kapan nge-gas dan kapan nge-rem ketika dalam permainan.
Musik, dapat juga digunakan sebagai metodologi untuk mencapai keseimbangan dari tiap-tiap diri manusia. Instrumen intelektual, spiritual, dan mental harus di-manage sedemikian rupa agar seluruhnya berfungsi dan tidak terjadi ketimpangan perkembangan. Musik juga memberi kita sudut pandang, untuk mengolah ‘sumbang’nya bunyi pada diri sendiri, seperti sakit. Ketika sakit, kita tidak bisa mengatakan bahwa penyebabnya berasal dari luar diri seperti; makanan, minuman, polusi, dlsb. Bisa saja sakit yang dialami disebabkan oleh dis-manajemen seluruh ‘instrumen’ pada diri manusia. Begitu juga dengan proses pencegahan dan proses penyembuhannya, kita tidak bisa memutlakkan bahwa pencegahan dan penyembuhan dilakukan dengan mengandalkan upaya hanya di satu dimensi diri saja.
Seperti banyak diketahui, saat ini terdengar isu bahwa virus corona telah menjangkiti beberapa orang yang ada di Indonesia. Dalam upaya pencegahannya, Mbah Nun pernah dawuh agar kita selalu menjaga wudhu. Bahkan beliau menyarankan, jika kuat, setiap wudhu batal karena ngentut, disentuh perempuan, dan segala hal yang intinya membatalkan wudhu, disarankan untuk mengambil wudhu kembali. Mengapa? Karena wudhu, menurut Mbah Nun merupakan upaya pembersihan fisik dan rohani. Selain itu juga disarankan, agar setiap melihat apa saja, kita harus punya filter. Agar tak gampang ‘masuk angin’, atau ‘kemasukan virus’ permasalahan yang terjadi.
Berupaya untuk selalu menjaga wudhu dan beberapa uraian di atas, dilakukan untuk memenuhi kewajiban manusia untuk berjuang. Hasilnya terserah-serah Allah. Satu hal yang jangan sampai dilupakan dan lepas dari kesadaran, adalah peran Kanjeng Nabi yang menabur syafa’at bagi umatnya yang dalam momen tertentu bisa berupa diterimanya doa dan perjuangan dari manusia. Maka dari itu, Jembaring Manah pada kali ini mengangkat tema Gambang Syafaat. Berupaya melingkar dan bersama belajar bermain ‘Gambang’ sesuai dengan makna yang dikandungnya; bahwa walaupun beragam, tapi harus harmonis, indah, dan seimbang. Bermain dengan bermandikan syafa’at Kanjeng Nabi yang semoga berujung pada perkenan kemurahan Allah memberikan hasil terbaik atas perjuangan yang telah dilakukan.
Leave a Reply