Menurut Simbah, Bangbang wetan ialah Minadh-dhulumat ila an-nuur jika diartikan secara bahasa adalah “dari kegelapan menuju cahaya”. “Wetan” ini posisinya dimana secara teritori? Apakah wetan ini keseluruh negara yang termasuk di wilayah “dunia timur”, atau “wetan” ini terbatas dalam ruang lingkup Indonesia saja, atau “wetan” ini tentang Jawa Timur?. Meskipun tak salah juga jika kita menganggap “wetan” adalah Jawa Timur itu sendiri. Dimana sejarah sudah membuktikan bahwa terlahir manusia-manusia yang menjelma cahaya di masanya. Bung Tomo, Sukarno, Gus Dur, Mbah Wahid, Mbah Hasyim. Yai Kholil, Mbah Siddiq, HOS Cokroaminoto dan masih banyak lagi. 

Menafsir bangbang wetan ialah menafsir harapan yang hendak muncul dari ufuk timur. Harapan bagi keriuhresahan keadaan yang terjad saat ini. Serupa obat, untuk menentukan dosis barangkali alangkah baiknya kita meraba terlebih dahulu mengapa hadir sebuah keadaan seperti sekarang ini. Ada proses analisa dari sebuah keadaan. Menarik garis kebelakang, memahami fenomena. Apakah keadaan ini tak lain adalah gejala biasa saja yang lambat laun akan sembuh sendiri?. Seperti keadaan lesu, lemas, yang dikarenakan dikarenakan kurang istirahat. Selepas istirahat kita akan kembali pulih sedia kala. Atau kondisi yang dikarenakan salah asup, sehingga proses cerna yang terjadi tidak baik sehingga memerlukan penanganan lebih dari sekedar “menunggu sehat”. Ataukah keadaan sekarang ini dikarenakan habit di masa silam, bukan sekedar kelelahan karena kurang istirahat, atau salah mencerna sesuatu, namun lebih dari itu, keadaan hari ini karena gaya hidup yang kebablasen. Maka dalam menangani ini bukan hanya perkara dosis yang harus di atur, tapi kesabaran yang ekstra karena penangananya perlu waktu panjang.

Menelisik dari dari pemetaan tersebut menjadikan kita memiliki titik berangkat, apakah “bangbang wetan” ini hanya tinggal kita tunggu, karena dengan atau tanpa diupayakan dia akan tiba. Ini hanya masalah momentum saja. Atau “bangbang wetan” adalah hasil dari yang diupayakan, tidak sekedar “menyambut” tapi juga “menghadirkan”. Ataukah “bangbang wetan”adalah tidak hanya menyambut dan menghadirkan tapi juga memahami segenap kompleksitas permasalah dari masa silam, masa kini, masa mendatang. Gores garis seolah itu semakin menujukkan bahwa hari ini ialah waktu dimana perjanjian sewa-pakai itu telah sampai -bahkan bisa jadi telah lewat- pada waktunya. Setengah abad telah berlangsung untuk menyebarkan firman Tuhan. Maka tanah ini sudah meminta untuk dikembalikan kepada peruntukannya semula. Menarik benang sejarah kebelakang, selepas “sirna ilang kertaning bumi” tanah ini di sewa-pakai untuk penyebaran agama selama lima ratus tahun lamanya. Jika dikonversi menjadi angka, “sirna ilang kertaning bumi” ialah 0-0-4-1 jika dibalik menjadi 1400 saka, jika disesuiakan dengan masehi menjadi 1478 M, beranjak dari dari sana, lima ratus tahun berikutnya ialah 1978 M, dan kini kita telah menginjak kaki di tahun 2020 M. Segala keriuhresahan, kekacauan, ketidaksesuian konsep dan laku manusia hari ini seolah menunjukkan bahwa tanah ini sedang tak bertuan. Atau jangan-jangan, segala yang terjadi hari ini bukan sekedar beranjak dari “sirna ilang kertaning bumi” dan perjajian di masa silam, namun yang terjadi ialah bagian dari prosesi balas dendam atas sekerat telinga utusan kerajaan terpotong di tanah Jawa?

Gik lun, petenang gelluh, jek lemdelem taretan. Ngopi pasepak, a rokok penyaman.

Oke lanjut, jadi kopi dan rokok menjadi penting sebagaimana sepasang kekasih yang berikrar untuk menjelma jeda dari rentetan peristiwa nelangsa yang mengiringi semesta. Eh, sorry, nglantur sithik.

Back to topic! 

Jika ditarik kembali pada istilah “bangbang wetan”, atau abang-abang teko wetan, atau sinar yang memancar dari timur, atau minadh-dhulumat ila an-nuur yakni dari kegelapan menuju cahaya. Kita sudah seharusnya patut bertanya, cahaya apa yang dimaksud? Cahaya seperti apa yang dimaksud? Cahaya yang bagaimana? Lalu ada dimana? 

Kita harusnya memang sungguh-sungguh menyelami kedalaman dialektika yang terjadi, tidak sedekar proses mengupas lalu menikmati daging buah tapi juga proses panjang bagaimana biji itu bisa tumbuh untuk menjadi bagian dari arus peradaban masa depan?

Mari melingkar untuk sinau bareng tentang “bangbang wetan”.