Reportase Jembaring Manah Januari 2020

Jembaring manah dalam bulan Januari ini mengadakan acara dengan spirit yang spesial, mencoba mengenalkan pada masyarakat tentang semangat anak muda yang menginginkan perubahan mendasar terkait kehidupan. Dalam periode ini kami mengadakan acara di wilayah wetpas / wetan pasar Tanjung. Daerah ini menjadi spesial tatkala setiap waktunya selalu ramai, hiruk pikuknya selalu hidup karena terkait hajat hidup orang banyak, pasar yang sudah meleganda bagi masyarakat Jember. Suasana ramai kendaraan yang lalu-lalang seolah tidak mengurangi kekhusyukan dulur-dulur dalam membaca sholawat, sepi dalam keramaian. Namun dalam kesepian yang dirasakan, ialah perasaan cinta yang menggebu-gebu, perasaan rindu yang tak tertahankan, serta bergaungnya suara-suara yang muncul dari lubuk hati terdalam tentang kecintaan kepada Kanjeng Nabi Muhammad SAW.

Sebelum dimulainya acara, seperti biasa dilakukan tawasul yang dipimpin oleh cak edy, dan kebetulan dari teman-teman wetpas memiliki inventaris alat musik patrol, dimana kesenian musik patrol ini merupakan salah satu kesenian yang bisa dikatakan sebagai ikon di jember atau jawa timur, sehingga sesekali di sela acara, teman-teman bersolawat diiringi dengan musik patrol dari teman-teman Wetpas, menambah suasana menjadi lebih mesra, karena hampir jarang di tiap melingkar diiringi dengan musik patrol dan melantunkan solawat yang bertujuan untuk mendapatkan syafaat.

Awal acara dimulai dengan perkenalan. Hal ini dikarenakan banyaknya wajah wajah baru yang hadir di majelis ini. Belum selesai perkenalan, salah satu pegiat bertanya “mengapa Tuhan bersolawat?”. Pertanyaan ini coba dijawab oleh Ustadz Edi, salah satu pegiat JM dengan jawaban cinta dan hakikat, karena tanpa itu semua kita tidak bisa manunggal dengan sang pencipta, adanya solawat itulah bentuk cinta kita pada Kanjeng Nabi dan sarana kita mampu manunggal dengan ke-Esaan Allah SWT.

Setelah itu Saka memberikan gambaran tentang tema acara, Macapat Syafaat. Dia memberikan penjelasan tentang apa itu macapat yang populer di lingkungan masyarakat Jawa, dan pengaplikasian macapat itu sebagai fase kehidupan manusia. Mas Ferli salah satu pegiat Jembaring Manah selaku tuan rumah menyinggung salah satu video yang baru saja disebarkan oleh akun Caknun.com di Youtube yang berjudul manusia pasar. Sangat pas dengan tempat yang dipilih yakni daerah wetan pasar tanjung Jember. Mbah Nun menjelaskan tentang kesungguhan dalam bekerja keras  tidak seharusnya bertujuan untuk menempatkan perkara remeh seperti kenaikan jabatan, pangkat, bertambahnya uang. Hal-hal tersebut tidak perlu dijadikan tujuan karena jika memang bersungguh-sungguh dalam bekerja keras maka seluruh hal diatas akan secara otomatis didapatkan. Sama halnya ketika ketika bersungguh-sungguh dalam ber-sholawat, yang dibutuhkan ialah kesungguhan dari ‘kerja keras’ dalam bersholawat. InsyaAllah secara otomatis  sifat-sifat dari Kanjeng Nabi akan ter-‘install’ dalam diri kita. Amiin.

Setelah malam mulai larut dan diskusi mulai menghangat, datanglah Gus Baiqun, sebagai penanggung jawab kegiatan Sholawat Al-Ghofilin Jember. Beliau memberikan petuah dan cerita tentang surga dan neraka, tentang isra’ mi’raj, mazhab, manhaj dan tentang bagaimana hidup berbangsa dan bernegara dalam perspektif beliau, dimana intinya sama seperti yang Mbah Nun sering sampaikan bahwa hukum itu tidak partial-statis namun kontekstual-dinamis, dalam pengambilan keputusan/fatwa tetap mempertimbangkan aspek kekinian dengan tidak melanggar manhaj berfikir ulama mazhab yg dianut (dalam hal ini, Syafi’i). Menurut Gus Baiqun, Allah bersholawat kepada Kanjeng Nabi bermakna pemberian. Di berikan contoh Nabi Musa yang masih harus meminta untuk dilapangkan dadanya akan tetapi tidak dengan Kanjeng Nabi Muhammad. Allah langsung memberikan kelapangan dada kepada beliau. Pesan terakhir beliau adalah cara menjadi wali Allah, dengan bersikap sabar ketika mendapat musibah dan bersyukur ketika mendapat rejeki, walau prinsipnya sesederhana itu namun prekteknya sungguh sulit, perlu latihan dan kesabaran,

Proses diskusi di atas juga sesekali diisi oleh beberapa lagu yang menjadikan suasana tegang menjadi cair kembali, sehingga tidak terjadi kejumudan pemikiran dan suasana yang kurang asik. Akhirnya acara diakhiri dengan ramah tamah dan nikmatnya sajian makan malam yg disediakan oleh tuan rumah. Terima kasih.

Oleh , Yohanes Eko Portable , Firdaus , Iqbal ,