Euforia itu belum selesai.
Dua bulan terakhir kita telah menebas batas, merobohkan pagar kelumrahan, lalu menapaki jalan yang sebelumnya tidak pernah kita lalui. “Allahumma solli ala sayyidina Muhammad” menjadi penanda bahwa cinta terlalu besar untuk diungkapkan melalui narasi-narasi yang ddibangun manusia melalui akalnya. Rimbunan puisi seolah tidak pernah sanggup meghadirkan, menyajikan dan mengungkapkan cinta kepada Kanjeng Nabi Muhammad. Maka yang paling mungkin ialah “meminjam” atau “meniru” apa yang dilakukan oleh Allah SWT. Tuhan tidak pernah melakukan sesuatu hal yang dilakukan oleh manusia kecuali bersholawat. Tuhan tidak sholat, manusia sholat. Tuhan tidak berdzikir, manusia berdzikir. Tuhan tidak beranak dan tidak diperankan, sedang manusia melakukan/ mengalami itu. Namun mengenai sholawat, Tuhan bersholawat, dan manusia bersholawat. Maka adakah kalimat, narasi atau bahkan puisi yang dapat menandingi keagungan sholawat yang dilantunkan Tuhan sebagai bentuk cinta kepada Kanjeng Nabi Muhammad. Maka dengan kesungguhan yang utuh, sesunggahnya “Allahumma solli ala sayyidina Muhammad” tidak sekedar sebaris kalimat, ia adalah savana di keluasan makna. Kita dapat dengan berjalan, berlari, bersepeda, berkuda bahkan sangat mungkin untuk bercinta. Kita menggali, mengeolah, menebar cinta tanpa sekat narasi manusia. Barangkali logika kita seolah menolak, “bagaimana mana bisa?”. Tapi apa yang yang tidak mungkin bagi Allah, segalanya amat sangat mungkin, tiada yang mustahil bagiNya. Allah Maha Bekehendak, kun fayakun. Ya, “kun fayakun” ialah dua kata yang menjadi pengantar dibulan kemarin, tanpa perlu dukungan anak kalimat dalam menjelaskannya.


Dibulan ini, penggiat mengambil tema mocopat syafaat, sebagai lanjutan dari euforia atas kelahiran Kanjeng Nabi. Mocopat ialah membaca, memahami, mengupas, mangaplikasikan empat perkara sebagian indikasi dari keistiqomahan kita dalam melantunkan sholawat kepada Nabi Muhammad SAW. Bagaimana mungkin kita gethu sholawatan tapi empat perkara yang melekat pada Kanjeng Nabi “tidak tersentuh” oleh kita, siddiq, amanah, tabligh dan fattonah. Kesesuaian korelasi sebab akibat harus terbangun, terlepas dari besaran skala yang dapat dijangkau oleh oleh tiap individu. Melihat gejolak peradaban hari ini yang begitu meresahkan pikiran, menyesakkan hati, hingga terus menerus manghadirkan kegelisahan demi kegelisahan, maka potret Kanjeng Nabi-lah sebagai mercusuar uswatul hasanah yang mampu meredam segala dinamika yang terjadi. Sebagai individu yang menjadi bagian dari arus deras peradaban maka kita dapat berperan membangun tata peradaban dengan lebih baik dengan menghadirkan empat perkara yang melekat pada Kanjeng Nabi. Sudah seberapa jauh kita bersikap jujur? (siddq). Apakah kita sudah bisa menjadi manusia yang dapat dipercaya? (amanah). Bagaimana upaya kita untuk tetap terus membangun kecerdasan? (fatonah). Lantas sudahkah kita membangun irigasi nilai sebagai upaya menyebarkan agama? (tabligh). Karena bagaimana pun euforia cinta kita atas lahirnya Kanjeng Nabi dan terpilihnya kita menjadi ummatnya seolah akan sia-sia belaka jika nilai yang diterapkan oleh nabi tidak kita teruskan, dan peradaban terus bergulir dengan kekosongan nilai menuju kehancuran demi kehancuran. Jika itu yang benar-benar terjadi, masihkah kita mengklaim diri sendiri mencintai Kanjeng Nabi?.


Mocopat syafaat ialah cara kita merogoh diri sendiri terkait empat perkara yang nantinya tiada lain agar kita mendapatkan syafaat. Bukankah itu pertolongan yang paling kita harap pada proses panjang menuju keabadian?

Oleh: Nurul