Malam itu selalu syahdu seperti biasa. Maiyah Jembaring manah dengan segala keterbatasannya mampu memberikan aura yang membahagiakan dan suasana yang enak untuk duduk bercengkrama dan silaturahmi. Rumah Cak Edi yg nampak masuk di gang khas pemukiman urban dekat kampus telah disulap menjadi telaga segar bagi para pencari tuhan yg lemah.

Seperti biasa, acara diawali dengan guyonan guyonan untuk saling bertegur sapa dan menghangatkan suasana, lalu dilanjutkan dengan pembacaan sholawat oleh kawan kawan yg bersedia. Selalu seperti ini dan semoga bisa Istiqomah seperti ini. aamiin .

Mas saka selaku sosok yg mewakili forum ini dalam Silatnas 2019 memberikan informasi yg padat tentang apa yg dibahas di Semarang kemarin…. (Jatah mas saka)

Diskusi diawali dengan pembahasan tema, yang lama makin lama makin meluas dalam banyak aspek kehidupan. Mas Yohanes, memberikan beberapa kegundahannya terhadap kehidupan dan visinya dalam maiyah kedepan, apakah memadat atau mencair. Pembicaraan ini lalu berujung pada penjelasan beliau terkait hancurnya Turki Utsmani sebagai ujung zaman terakhir terkait ke-khalifahan islam sebelum PD ke-2.

Dengan penjelasan yang cepat dan lunak khas beliau, NU selaku organisasi islam terbesar di Indonesia menjadi contoh tentang adanya struktural dan kultural. Struktural memang penting, namun kultural memberikan ruh pada masyarakat yg dimana mereka tidak merasa bahwa tindak tanduknya menggambarkan NU dalam melaksanakan nilai nilai islam.

Diskusi ini pun berlanjut dalam pembahasan apakah maiyah harus inklusif atau ekslusif? Apakah sudah waktunya maiyah muncul di masyarakat sebagai leburan atau padatan.

Pembahasan ini menjadiadi kompleks rumit, detail, dan melebur. Tak terasa waktu berjalan begitu cepat, seakan menjadi bukti bahwa ketika kita sudah cinta pada suatu hal, waktu yang lama akan terasa sebentar. Layaknya hidup, bahagia terasa cepat dan kesusahan terasa lama dan berat.

Hidangan yg disajikan lalu disantap dengan lahap oleh kawan kawan, beserta harapan apakah Indonesia kedepan bisa lebih baik, setidaknya anak cucu kita tidak merasakan apa yang kami rasakan.

Oleh: Pak Eko Porteble