Mateh ben, Cong !

Manusia dikarunia Tuhan berupa sikap ekspresif dalam merepon momentum, tak hanya untuk urusan yang skalanya besar, perihal kesandung saja manusia menghadirkan sikap yang ekspresif. Salah satunya ialah “meng-(kata-kata)-i“, seperti “Mateh ben, Cong!”. Dalam terjemahan kasarnya berarti “Mati kau, Nak!”,  respon yang hadir spontan itu tidak menjadikannya sebuah do’a agar orang yang kesandung untuk lekas mati. Ia tak lebih dari sebuah “potongan perayaan” atas momentum yang terjadi. Selepas itu, kaki yang ngilu memar karena kesandung harus berhenti sejenak, merasakan ngilu yang terjadi,namun ia tak mungkin terus berdiam diri disana, meski sedikit pincang ia harus tetap melanjutkan perjalanan. Begitu pula arus perjalanan peradaban yang terjadi hari ini. Peradaban yang bukan hanya berjalan, ia dengan sangat cepat berlari. Komunikasi berkembang begitu cepat, akses transaksi amat mudah sekali sehingga manusia kadang tak perlu bertatap muka dalam melakukan proses jual beli. Begitupun dengan ranah transportasi, untuk perjalanan yang tak terlalu jauh, orang tak perlu lagi berlama-lama di tepi jalan menunggu kendaraan umum karena melalu gadget yang mereka punya, dengan segera mereka dapat memesan kendaraan. Sungguh, beberapa tahun terakhir habit manusia mengalami banyak perubahan.  Namun, peradaban yang begitu cepat berlari itu, harus kesandung batu yang bernama covid-19, sehingga terjadi memar dan  ngilu yang membuat perjalanan sejenak berhenti. Hampir seluruh lini kehidupan terdampak atas sandungan ini, beberapa perusahaan melakukan perampingan tenaga kerja.Warung kopi, café dan alun-alun yang biasa menjadi tempat berkumpulnya banyak orang seolah harus segera melakukan puasa. Prosesi pendidikan tatap muka beralih ke gadget. Yang paling membuat gelo adalah saat kita sedang mengalami “kurang enak badan”, ada perasaan parno yang muncul saat hendak berobat di puskesmas atau rumah sakit, takut-takut kalau akhirnya harus divonis positif covid-19.

Dampak sandungan peradaban itu agaknya berlangsung tidak sebentar, ngilu itu masih amat terasa, kita seolah  masih belum bisa menentukan kapan hendak melanjutkan kembali perjalanan hidup ini. Mau samapai kapan kita akan rehat, kita pun seolah belum punya bahan yang tepat untuk melakukan persiapan-persiapan bagaimana nantinya kita akan berjalan. Pincang sudah tentu, lantas bagaimana solusinya? Apakah kita akan menggunakan tongkat, tandu atau kursi roda, ataukah kita memang harus merawat ngilu itu hingga benar-benar sembuh total agar perjalanan tidak tersendat lagi?. Atau barangkali kita tak perlu sembuh total, terus berjalan saja sembari diobati?. Sepertinya kita masih perlu melakukan pertimbangan-pertimbangan dalam melalui masa transisi ini. Kalaupun kita belum mampu melakukan pertimbangan tersebut, cukup kiranya fase ketersandungan ini kita “rayakan” dengan meng-kata-kata-i, MATEH BEN, CONG!

Tunggu dulu, ada yang belum tuntas sepertinya, kita sedang mempersiapkan berbagai hal mengenai masa transisi ini tapi seperti belum sempat dengan sunggu-sungguh menganalisa mengapa bisa kesandung, apakah sebagai manusia kita kurang eling lan waspodo  sehingga mengalami sedikit ciloko, atau jangan-jangan memang ada segelintir makhluk yang sengaja menaruh batu sandungan agar perjalan hidup ini untuk beberapa waktu tersendat. Dari segala prasangka yang dibangun, ada satu perihal paling esensial yang terdapat dalam dari manusia. Dari kalimat “Mateh ben, Cong!”, ia secara tidak langsung menjadi pengingat bahwa manusia itu “mati”, manusia tidak bisa melakuan kecuali atas campur tangan Tuhan. 

Tapi bagaimanapun perspektif dibangun terkait itu semua barangkali meniru gaya uncle Pinurbo setidaknya sedikit menenangkan:

Bahagia atau nelangsa, setiap momentum hidup perlu dirayakan dengan meng-kata-kata-i nya: Mateh ben, Cong!