Oleh: Nurul

Maiyahan bulan ini berlangsung di cuaca yang dingin seperti peralihan menuju musim kemarau pada umumnya. Hampir sebagian besar yang hadir menggunakan jaket yang tebal. Diawali dengan pembacaan tawasul oleh Cak Edi, lalu dilanjutkan oleh Mas Saka sebagai pemantik diskusi. Karena memang bulan ini kita lebih memilih halalbihalal antar personal, maka tidak ada prolog dan diskusi tidak menitik beratkan pada pembahasan apapun.

Mas Saka tertarik tentang halalbihalal. Karena memang di Arab sendiri tidak ada halalbihalal, lantas bagaimana bisa ulama terdahulu “meracik amalan” hingga akhirnya disebut halalbihalal. Bahkan di zaman Nabi pun tidak ada, namun di Indonesia ada. Maka perjalanan diskusi akhirnya berlanjut pada apa yang disebut dengan kesimbangan berfikir. Ketika keluar pertanyaan “apa itu keseimbangan berfikir?” sejenak yang melingkar terdiam, lalu sebagai pendekatan dalam memahami itu, Mas Ferly memulai dengan beberapa kasus. Semisal kita sedang sholat jamaah, yang sebelah kiri menghedaki kaki itu harus bersentuhan, sedang yang satunya tidak, bagaimana menyikapi ini. Lalu kasus selanjutnya istri yang kurang srek terhadap sikap ibu dari suaminya. Lantas bagaimana sikap yang diambil oleh suami?. Diskusi mulai menghangat, saling menanggapi satu sama lain. Dimana awalnya kesimbangan berfikir terdefinisi sebagai sebuah sikap moderat dalam menangani sebuah masalah. Lalu disisi lain terkait dengan keseimbangan berfikir, jamaah bercerita perjalanan hidupnya dari seorang agnostik hingga meyakini bahwa Tuhan itu ada. Maka baginya proses menemukan Tuhan tidak lain adalah bentuk dari kseimbangan berfikir. Maka kesimpulannya keseimbangan berfikir ialah pemahaman mengenai dasar dan kesadaran atas batasan.

Penggalian mengenai keseimbangan berfikir berlajut, bahwa untuk dapat menjangkaunya kita harus mempunyai jarak dari permasalahan tersebut. Jarak ini harus pas, tidak terlalu jauh, juga tidak terlampau dekat. Seperti halnya membaca buku, terlalu dekat tulisan akan buram, namun terlalu jauh tulisan tidak akan terlihat. Begitulah memulai keseimbangan berfikir. Pembahasan kembali pada halalbihalal, dilakukan lagi penarikan diskusi mengenai “maaf”. Dimana memang dalam halalbihalal esensinya tak lain adalah tentang maaf-memaafkan dalam euforia lebaran. Dalam memaafkan, kita akan menemui dengan apa yang disebut dengan ikhlas. Bagaimana jika secara dhohir sudah melakukan, tangan saling berjabat, mulut berucap maaf, namun hati masih grundel, masih berat, masih ngempet, belum sepenuhnya nrimo. Lantas dimana letak keikhlasannya?. Ikhlas itu bukan perkara seperti orang lapar, makan lalu kenyang. Ikhlas itu upaya, proses, penempaan diri yang panjang. Karena seperti kasus ketika kita hendak berinfak untuk pembanguan masjid, sedekah pada fakir-miskin, himbauannya ialah beramalah dengan seikhlasnya. Kalau fakusnya pada “yang penting ikhlas” maka masjid tidak akan segera rampung pembangunannya, fakir-miskin tetap dengan kelaparannya. Maka beramal dulu, baru belajar ikhlas. Seperti itulah ikhlas dalam kaitannya dengan maaf. Dan maaf itu tentang menyadari kesalahan, memperbaiki yang terjadi serta tidak mengulanginya lagi.

Lalu salah satu yang hadir sepertinya tertarik dengan cerita Mas Saka mengenai prosesnya mengakui keberadaan Tuhan. Kesadaran bahwa Tuhan ada. Lalu beralihlah topik diskusi mengenai Tuhan. Upaya menjangkau agar dapat menemui kesadaran tentang Tuhan itu Ada. Disinalah akhirnya hadir sejarah mengenai bagaimana di satu kelompok, sifat Tuhan dibagi menjadi dua puluh, di kelompok lain menyatakan bahwa Tuhan tidak terikat oleh itu. Dalam bahasa Jawa, Tuhan itu tan kena kinaya ngapa, tan kena kinira. Memang penggalian tentang Tuhan selalu menarik untuk dikejar, digali, karena manusia selau berada pada proses mencari-menemukan. Menarik kebelakang, merenung yang terjadi, menata yang akan datang. Kehangatan diskusi berlajut dengan pertanyaan mana yang lebih dulu mengenai syahadat, apakah yakin dahulu ataukah berikrar dulu.  Diskusi mengenai Tuhan pun terus berlanjut, saling berpendapat hingga Mas Anton menyarankan untuk mendengarkan lagu “Di Balik Cermin Mimpi – M Nasir” diperdengarkanlah lagu tersebut melalui mobile phone yang disandingkan dengan mic. Lantunan lagu itulah yang menjadi penutup maiyahan bulan ini serta menjadi bekal bagi teman-teman dalam merenungi Tuhan.

Di Balik Cermin Mimpi – M Nasir

Di balik cermin mimpi

Aku melihat engkau

Di dalam engkau

Aku melihat aku

Ternyata kita adalah sama

Di arena mimpi yang penuh bermakna

Bila bulan bersatu dengan mentari

Bayang-bayang ku hilang

Di selebungi kerdip nurani

Mencurah kasih, kasih murni

Mencurah kasih

Di balik cermin, cermin mimpi

Adalah realiti yang tidak kita sedari

Hanya keyakinan dapat merestui

Hakikat cinta yang sejati

Hakikat cinta yang sejati

Dengan tersingkapnya tabir siang

Wajah kita jelas terbayang

Dan terpecah cermin mimpi

Menjadi sinar pelangi

Pelangi