Oleh : Nurul Ft Dedi
“Sinar, sinar opo sing adem?” Begitu Mas Dedi melemparkan tebakan padaku, diperjalanan menuju Banyuwangi ketika hendak memasuki gumitir. Sontak aku pun mencoba menjawab, dari jawaban yang dikira paling masuk akal, hingga jawaban paling ngawur. Tak satupun dari jawabanku benar. “Trus sinar opo sing adem Mas?” Tanyaku, mentok karena sudah tak punya pilihan jawaban lagi. “Wes cul gaero?” tanyanya. “Iyo, opo sinar sing adem?” seketika jawabku. “Delok.o menduwur”. Mas Dedi mengarahkanku untuk melihat ke langit, yang kala itu bulan sedang pernama. Sedang anggun-anggunya. Aku bisa saja melihat ke atas, tapi aku lebih memilih tetap mengemudikan motor, karena hilang fokus sedikit bisa-bisa tergelincir dan yang terjadi kami berdua menjadi berita berantai di medsos sebagai korban kecelakaan tunggal.
Ketika Mas Dedi memberikan jawaban itu, spontan aku menanggapi “Berarti desain kaos Jembaring Manah iku onok pesan implisit, ben simpul iki iso adem?”. “Mak iso tutuk kono jare, tapi yo bener pisan se” Mas Dedi menimpali keheranan sembari mengiyakan
Percakapan ringan kami diatas motor itu seolah menemukan pesan atas simbol yang pernah dibuat meski mungkin saja itu dengan “ketidaksengajaan”. Bisa saja, bahkan sangat mungkin saat awal desain kaos itu tak lebih pada sisi estetika saja. Tidak terlalu jauh menyoal esensi pesan dalam desain tersebut. Tapi begitulah kiranya, kita menyebutnya “ketidaksengajaan” karena perkara tersebut diluar apa yang kita pikirkan, kita inginkan, kita kehendaki, kita impikan. Tapi akan sangat mungkin, dan pasti jika perkara tersebut bagian dari kehendak Tuhan, bukankah segala yang terjadi di langit dan bumi tidak terlepas dari-Nya. Berkaca dari itu sepertinya Tuhan hendak menunjukkan bahwa ada proses pembuktian bahwa Tuhan selalu turut serta atas segala yang terjadi, meski kita seringkali terlambat menyadari.
Hal ini pun seolah menjadikan titik tolak untuk kita, bahwa apa-apa yang terjadi saat ini yang soalah tidak memiliki nilai di mata kita dikarenakan kita belum mampu memahami, belum mampu memetakan, atau bisa jadi memang belum waktunya untuk kita tahu.
Andaikata penarikan kesimpulan yang kami sepakati tersebut salah, tidak seperti apa yang dikendaki Tuhan atas kuasanya menuntun “desainer” membuat gambar tersebut, setidaknya ada upaya tadabbur atas apa yang terjadi, ada proses berkhusnudzon kepada Tuhan atas gambar tersebut.
Semisal hal itu benar, atau setidaknya mendekati apa yang dikehendaki Tuhan, maka sesungguhnya itu adalah pesan terselip yang Tuhan sampaikan agar kita senantiasa bersikap adem atas apa yang terjadi, tidak mudah tersulut hingga terbakar oleh dinamika hidup. Baik dalam skala personal maupun sosial bermasyarakat. Hal ini sejalan dengan dawuh Simbah, bahwa Maiyah itu bukan menambah permasalahan, menambah keruwetan. Maiyah itu hadir untuk mengurai itu semua, manjadi bagian dari opsi-opsi dari penyelesaian masalah.
Maiyah itu mendinginkan, bukan menyulut kebakaran. Sebagaimana yang terdesain di kaos Jembaring Manah. Pemaparan itu pun terjadi atas dasar gatak-gatuk, atas tafsir personal penulis saja. Sangat mungkin tiap penggiat, jam’iyah, maupun jama’ah Maiyah Jembaring Manah memiliki tafsir berbeda atas simbol tersebut. Dari segala macam tafsir yang hadir semoga tak terlepas dari sikap saling mendinginkan. Seperti halnya jawaban atas tebakan Mas Dedi ketika hendak memasuki gumitir kala itu.
Leave a Reply