Prolog : Bangsa Paracetamol
By : Nurul Jembaring Manah

Bangsa indonesia adalah bangsa yang besar,terdiri atas 34 provinsi dengan ribuan pulau ada di dalamnya. Luas wilayah negara berpengaruh terhadap banyaknya keberagaman yang dimiliki bangsa Indonesia, baik keberagaman suku bangsa,agama,bahasa,budaya,dan lain lain. Tumbuhnya perasaan kedaerahan dan kesukuan yang berlebihan dapat mengancam keutuhan bangsa dan negara republik indonesia. Terkait dalam hal ini, upaya untuk menghilangkan tumbuhnya perasaan kedaerahan, kesukuan dan fanatisme buta terhadap agama yang berlebihan dalam masyarakat yang beraneka ragam adalah senantiasa berkomunikasi dengan prinsip kebersamaan,kesetaraan,dan toleransi.

Definisi perpecahan dan penyebabnya masih asik kita ributkan, yang jelas bangsa ini mudah sekali demam. Sehat sehari lalu demam seminggu. Dinyatakan Sehat seminggu kemudian demam sebulan. Sehat sebulan ternyata tambah parah menjadi demam berbulan-bulan. Lalu ulai timbul pertanyaan, apa sebenarnya yang menyebabkan fenomena ini?; sejauh mana kita akan mundur kebalakang untuk mencari perkara apa saja yang menyebabkan bangsa ini menjadi bangsa yang gopoh?; benarkah salah asup agama hingga menggagu sistem pencernaan berbangsa?; atau memang atmosfir politik yang menjadikan agama sebagai alat agar kita tak kunjung sehat?. Berucap sedikit saja sudah menyulut pertengkaran dan panas berkepanjangan. Tapi tunggu, sebenarnya siapa saja yang sakit?; apakah keseluruhan bangsa dari ujung timur hingga barat, dari yang lahir procot hingga yang hendak dijemput pulang, atau hanya segelintir saja?. Segelintir manusia yang dihadirkan di media terkesan menjadi konsumsi massa dan di seolah-olahkan yang sakit adalah keseluruhan bangsa?. Identifikasi ini perlu, agar nantinya kita dapat menemukan posisi, poros, pancernya dari koordinat kita sebagai bangsa. Kita adalah orang yang butuh paracetamol atau yang mempunyai paracetamol. Kalau benar kita yang sakit, hendak meminta pada siapa paracetamolnya? Apakah Keluhuran adab masa lalu, kejernihan dasar agama, atau modernitas barat. 

Melihat ketidakberesan hubungan negara dan agama yang dianggap pemicu demam hari ini kemungkinan kita harus belajar lagi pada pendahulu. Menelusuri urat nadi pemikiran serta kebijakan hingga dapat menjumpai detak jantung peradaban dan menjelajahi kemerdekaan ’45 sebagai awal berdiri bangsa Indonesia. Kalau perlu lanjut kebelakang di masa kejayaan Nusantara sebagai ibu kandung Indonesia dan dilanjutkan dengan membaca hubungan agama dan negara. Nampaknya kita amat sangat perlu meneladani rekam jejak orang besar terdahulu. 

Dalam sebuah buku sukarno berkata bahwa negara itu tentang teritory, dan agama melampaui teritory. Begitu juga sikap KH. Ahmad Siddiq di Muktamar Situbondo saat NU menerima asas tunggal pancasila. Alasannya ialah, jika asas agama dijadikan asas negara maka hal ini seolah menyamakan hukum Tuhan dengan hukum manusia. Sedangkan hukum Tuhan jauh lebih tinggi dari hukum manusia. Kedua sikap tersebut seolah menunjukkan posisi agama dalam bernegara. 

Jika saja setiap dari kita mau dan mampu mempelajari, memahami, meneladani sikap-sikap bijak, maka barangkali kita tidak akan menjadi orang-orang yang gopoh, karena sudah mampu mengindentifikasi hingga menemukan titk poros permasalahan. Lalu siapa sebenarnya yang sedang sungguh-sungguh sakit, Keseluruhan ataukah segelintir saja?.

Sepertinya kita harus lebih jernih lagi berfikir, lebih dalam lagi melakukan perenungan. Menganalisa, berikhtiar dengan akal, juga harus lebih lagi menengadahkan do’a, memperetat lagi hubungan dengan Tuhan. Apakah yang sebenernya terjadi, mengapa bangsa ini mudah sekali untuk panas, bagaimana metode yang digunakan, apa saja kemungkinan opsi-opsi yang barangkali dapat dijadikan jalan tengah mengatasi ini?.