Melihat semakin rumit gejolak social oleh polarisasi pilpres maka diam seolah bukan lagi menjadi sebuah pilihan tepat. Namun jika harus turut hanyut maka harus berfikir dengan tepat dalam menempatkan diri, harus tahu betul dimana harus berdiri. Kedua poros ekstrim selalu mencari peluang menarik siapapun yang seolah sevisi, sepemikiran, sepergerkan untuk dicap sebagian bagian dari salah satu dari meraka. Upaya kita bersikap pun mau tidak mau akan dibawa, dipetakan, ditafsiri seolah hendak menepi kesalah satunya.
Maiyah hadir tidak untuk menghadirkan kerumitan baru, maiyah berupaya menjadi bagian dari penguraian masalah, sodoran alternative solusi. Dengan apa yang telah lama dipahami bahwa “Indonesia itu bagian dari desa saya” bukan “desa saya bagian dari Indonesia” maka sudah menjadi keharusan bagi kita turut menjadi pongobat bagi Indonesia yang sakit ini. Dengan skala serta bentuk yang barangkali tidak sama dengan yang sudah ada. Ketika hampir solusi yang disajikan oleh khalayak tak ubahnya menggiring pada kebeneran masing masing arus maka itu tak ubahnya memperumit apa yang terjadi saat ini.
Segerombolan manusia seolah hadir manjadi juru selamat dengan meninggalkan Tuhan. Namun ironisnya mereka membalut niat buruk dengan jubah agama. Membenturkan para ahli ilmu, ahli ibadah dengan kepentingan yang jangka singkat. Dalam konteks ini kita kembali diingatkan bahwa kita bukan sprinter kita pelari marathon. Kita bukan hendak menjadi petani jagung yang mendamba panen dalam hitungan bulan, kita adalah orang yang menanam pohon jati. Kita menanam untuk waktu yang barangkali melebihi jatah hidup kita di dunia. Upaya yang dilakukan bukan hanya untuk diri sendiri dengan jangka waktu yang singkat. Namun demi keberlangsungan sesama dengan jangka waktu yang lama.
Amar Maiyah ialah bagian dari jalan untuk kembali mengingat, mendekat, mempererat tali jalinan kita terhadap Tuhan agar romantisme hamba dan Tuhan kembali menghangat. Bukankah Allah berfirman “Aku sesuai prasangka hamba-Ku”. Mari berprasangka baik pada Tuhan bahwa yang akan terjadi pada Indonesia kedepan bukan kehancuran demi kehancuran. Melaui jalan do’a Tahlukah dan Hizib Nashr.
Leave a Reply