Menjelang magrib bocah-bocah kecil banyak berlarian di rumah yang dijadikan Sanggar Baca Umpus. Sebagian dari mereka sudah mengenakan kostum yang akan ditampilkan diacara Panggung Dolanan pukul tujuh malam. Ada yang mengenakan kebaya, ada yang berbusana bak sakera dengan baju khas loreng merah putih dengan setelan celana hitam, ada pula wajahnya yang di make up putih seperti Charlie Caplin. Panggungnya tak lain ialah selasar kediaman Cak Pannut yang sudah di setting sedemikian rupa lengkap dengan tata lampu dan pengeras suara. Malam itu memang Panggung Dolanan menghadirkam berbagai macam bentuk pementasan, monolog, teater, pembacaan puisi, pantomim, permainan tradisional, dan mendongen. Kesemuanya dikemas dalam satu cerita utuh, berlatar kehidupan sehari-hari yang tak jauh dari dunia anak-anak. Persis pukul tujuh penonton mulai berdatangan memenuhi depan “panggung, kurang dari setengah jam penonton sudah memenuhi muka “panggung”.


Sanggar Baca Umpus didirikan pada 23 September 2018 oleh salah satu penggiat jamaah maiyah Jember yaitu Cak Pannut, beliau merasa bahwa pambentukan karakter tidak bisa dibangun hanya dari meja sekolah formal yang lebih menekankan teori, serta hafalan. Oleh karena itu dibentukkan sanggar baca umpus tersebut agar anal-anak dapat belajar secara terpan langsung melalui permainan tradsional.
Malam itu, lakon diawali dengan problem umum hari ini yaitu seorang bapak yang pusing menuruti keinginan anaknya untuk mempunyai gadget, yang hal itu didukung oleh ibunya. Yang mengharuskan bapaknya menjual ayam jago kesayangannya sebagai tambahan agar dapat membeli gadget. Setelah dapat membeli gadget, sikap anal tersebut menjadi bumerang bagi ibu karena dia sibuk dengan gadgetnya hingga tidak bisa disuruh membantu ibunya.

Di momen selanjutnya ia tidak lagi mau ketika teman-temannya mengajak bermain bersama di luar rumah. Scene selanjutnya ialah ditampilkan berbagai macam permainan tradisional yang hari ini semakin sedikit yang melakukan seperti dakon, bekel, lompat tali dan sebagainya. Diselingi penampilan pantomim yang menggambarkan keseruan dunia anak-anak mandi di sungai, makan buah dengan memanjat pohonnya langsung. Setelah itu penonton dibawa pada perenungan melalui puisi yang dibacakan oleh anak-anak sanggar baca umpus. Bertemakan belajar, gundulnya hutan, dan dihampir penghujung acara dibacakan puisi mengenai ibu.

Seolah mengajak penonton untuk kembali merenungi bahwa selama ini kita sering kali bersikap abai terhadap malaikat yang setiap hari mendampingi kita. Diiringi petikan gitar dari salah seorang “personil” gamelan Kyai Samudro menambah suasana semakin syahdu, hingga tanpa sadar beberapa penonton berlinang air mata. Setelah itu penonton diajak bergembira dengan menampilkan permainan incak incak alis / ular naga yang diiiringi medley lagu daerah di Indonesia momen riang pun hadir. Dan ini pula yang memuncaki acara. Setelah itu para pemain berpamitan bersama mengucapkan salam dengan diiringi lagu rampak osing dari arransmen Kyai Kanjeng.

Panggung Dolanan yang dilaksanakan dan dilakukan oleh seluruh anggota umpus yang kisaran umurnya 5-17 tahun, di sini mereka blajar dan bermain bergembira bersama, banyak sekali pelajaran yang diambil dari hal-hal kecil, seperti dari dolanan anak-anakdari karya para leluhur kita yang sangat istimewa sekali, di mana setiap dolanan banyak sekali hikmah yang bisa di ambil, ternyata leluhur kita begitu istimewa di dalam dolanan anak-anak yang di mainkan pada jaman dahulu jika di ambil hikmanya di uraikan maknanya begitu luas.
Pendahulu kita memang tidak memiliki budaya menulis, oleh karena itu tiap-tiap pesan diselipkan melalui lirik lagu, melalui permainan tradisional, melaui desain baju, arsitektur bangunan. Sanggar Baca Umpus menjadi salah satu pijar yang berupaya menyalakan lagi nilai-nilai yang hampir dilupakan. Mengali kembali nilai-nilai, merawat lagi yang sudah lama ditinggalkan, karena sejarah tidak hadir hanya sebagai cerita belaka, sejarah ialah kaca bagi kita untuk mengenali lagi identitas diri. Mempelajari, mendalami, memahami, menggali sejarah tak ubahnya menarik tali anak panah. Kita harus menarik jauh kebelakang agar dapat melesat jauh kedepan. Begitulah semangat yang dibangun oleh Sanggar Baca Umpus.
Teruslah menyala, abadi menebar cahaya !
Oleh: Nurul Ft Nug

Leave a Reply