Penentuan tema untuk bulan ini ialah “Nyaretae Aba’”, ini diambil dari hasil diskusi para penggiat Jembaring Manah. Tema ini yaitu dalam bentuk kosakata bahasa Madura dan memiliki beberapa makna tergantung sudut pandang kita antara lain; menceritakan diri, mencari kotoran diri, dll. Kalimatnya saja dalam bentuk kosakata bahasa Madura, salah satu ciri – ciri bahasa Madura yaitu bunyi bacaannya sama tetapi beda penekanan  ya…beda makna. 

Disini ingin menegaskan bahwa kita sedang mengelaborasi dua makna tersebut untuk menjadi diskusi kita ini. Bahwa untuk introspeksi diri kita ini siapa dan betapa banyaknya kotoran pada diri kita yang terkadang banyak orang membangga – banggakan dirinya sampai – sampai ingin mencalonkan dirinya untuk dapat di akui beberapa khalayak umum. Hampir disetiap media maupun didalam diskusi kita sehari – hari ialah tentang caci – mencaci antar sesame antar sebangsa pula dan saling menonjolkan siapa dirinya, mereka tidak sadar atau belum disadarkan yang kemungkinan bahwa disetiap diri kita ini terdapat berbagai jenis hitam putih yang belum ditampakkan olehNya dan lebih banyak pula yang tidak sadar bahwa ditampakkan beberapa hitam putih dirinya olehNya.

Perjalanan mencari-menemukan tidak pernah usai hingga daging bernyawa bernama manusia itu menjadi bangkai. Memilih menjadi bagian dari geliat proses sosial hari ini yang semakin absurd dan kontradiktiktif dengan kemanusiaan atau menempuh perjalanan sunyi dengan terus mencari-menemukan dengan pengalaman orisinilitas masing-masing, karena bagaimana pun kita terlahir tidak seragam bahkan itu bayi kembar sekalipun. Oleh karena itu ketika gejolak sosial hari ini hadir dengan mempertontonkan “semut yang diseberang lautan” yang darinya tidak berhasil menjadikan harmoni, malah menambah ledakan gesekan antar manusia baik dalam skala antar personal hingga antar golongan. Kita sangat punya hak sebagai personal, sebagai individu sebagai bagian terkecil dari komunal untuk tidak turut hanyut atau setidaknya untuk hanyut namun tidak terhanyut –ngeli ning ora keli-  dari arus besar peradaban hari ini. 

Ketika kostelasi sosial hari ini gagal dengan menghadirkan “semut diseberang lautan” sebagai jalan mencari-menemukan kebenaran, maka nyareteh aba’ adalah sodoran alternative solusi yang dihadirkan  sebagai bentuk kontradiktif yang terjadi hari ini. Ada analogi sederhana dalam menggambarkannya yaitu “cara mudah agar terlihat benar ialah dengan mempertontonan kesalahan orang lain” itulah yang terjadi saat ini, kedua arus besar saling menonjolkan kebenaran diri dengan menjelekkan yang lain. Mereka seolah lupa dengan keburukan serta kejelekan diri sendiri. Oleh karena itulah sebaiknya kita bisa memahami secara sadar, bahwa sebagai manusia kita memiliki potensi baik dan buruk. 

Sodoran alternative solusi ini seolah menjadi pengingat  agar lebih peka lagi terhadap “gajah dipelupuk mata” yang sepertinya tidak pernah tampak oleh kita. Nyaretaeh aba’ mengajak kita untuk belajar menghayati, menelandani, meniru laku orang-orang bijak, dimana mereka selalu sibuk terhadap keburukan diri sendiri hingga tidak sempat meniliti kekurangan yang dimiliki orang lain. Barangkali ini terlihat sederhana, tidak konkrit atau bahkan tidak memiliki dampak nyata yang langsung bisa dirasakan oleh orang kita, tapi bukankah sebuah peradaban besar yang terjadi di muka bumi berasal dari sikap teguh yang dimiliki oleh seseorang? Jika kita hendak menarik garis sejarah terjadinya sebuah peradaban maka itu dimulai dari ide, berlajut pada penyampaian ide, lalu berlangsung pada sikap nyata yang dilakukan, pada proses selanjutnya diikuti, ditiru oleh orang-orang hingga terjadilah tradisi (kebiasaan/ritus). Kebiasaan yang berlangsung terus menerus akhirnya menjadi sebuah kebudayaan di masyarakat, kebudayaan yang berlangsung lama itulah yang disebut dengan peradaban. Maka dengan begitu, kita sebenarnya sudah bisa dengan jelas mencermati dimana posisi kita saat ini.

Proses mencari kesalahan sendiri meski dalam skala personal sebenarnya tak lain ialah bagian dari menyiapkan sebuah masa depan dengan peradaban yang lebih arif. Sikap yang kita lakukan tersebut tak ubahnya sedang nandur kebecikan untuk masa depan. Dan sesungguhnya yang kita lakukan dalam skala personal tersebut tak lain ialah sebagai blueprint peradaban masa depan. Lantas pilihannya, apakah kita akan menjadi penerus hari ini, atau menjadi pembaharu peradaban?