Nikma Turrohmah  —— 9 Agustus 2018

 

Proses kelahiran adalah sesuatu yang membahagiakan bagi seorang ibu. Kelahiran berarti bertambahnya jiwa-jiwa muda, dan harapan menuju kehidupan lebih baik. Setiap kelahiran anak dalam sebuah keluarga tentu akan diiringi doa-doa yang baik. Semangat ayah yang bertambah dalam mencari nafkah. Ataupun kesigapan seorang ibu memberi Asi disepanjang malam, hingga berkurang nikmat tidurnya.

Setelah kita lahir kita kemudian akan dikenalkan dengan berbagai ragam kehidupan manusia. Mula-mula kita hanya kenal ASI, kemudian buah-buahan dan sayuran dengan ragam terbatas, lalu kita mulai mengenal nasi,  gado-gado, Indomie, ayam goreng dan ragam olahan makanan yang lain. Itu sebatas makanan, dalam hal pendidikan kita akan dikenalkan strata yang semakin tinggi tingkatnya, semakin susah kita menjalaninya. Urusan sandang pula kita juga dikenalkan ragam baju untuk masing-masing acara, sehingga muncul terminology baju tidur, baju pesta,seragam sekolah, seragam kerja, baju militer dan banyak terminologi hanya dengan satu kosakata “Baju”.

Semakin beranjak dewasa kita akan semakin kenal dengan banyak istilah, ilmu, ideologi, pandangan yang itu semua memenuhi dan mempengaruhi cara berpikir dan berperilaku kita. Sebagian manusia kemudian ada yang puas karena apa yang dicita-citakan dari kecil bisa terpenuhi, sebagian yang lain justru melesat jauh dari titik koordinatnya, dan sebagaian yang lain mungkin juga mulai bingung apa yang menjadi tujuan hidupnya.

Sebagaimana sebuah hadis Man’arofa nafsahu’arofa Robbahu (Siapa yang mengenal dirinya maka Ia akan Mengenal Tuhannya (H.R Bukhari Muslim) . Dalam sebuah acara Mbahnun pernah mengatakan:

“Kebanyakan manusia tidak memiliki kesanggupan untuk ber-syahadah atas hatinya sendiri, jangankan lagi semesta luas jiwanya. Manusia tidak pernah mengenali dirinya dalam arti yang sebenarnya. Ia belajar dan melatih pengenalannya sepanjang hidup, di depan tantangan Tuhan: “Jangan menjadi orang yang lupa kepada Tuhannya sehingga lupa kepada dirinya sendiri”, sesudah progresivitas batin manusia melihat cakrawala: “barang siapa mengenali dirinya, maka ia mengenali Tuhannya”.

Maka mengenal diri kita adalah sebuah kewajiban  seperti kita mengenal Tuhan dan Muhammad sebagai utusanNya. Sebagai contoh Allah memiliki 99 Nama atau biasa kita kenal Asmaul Husna.  Asmaul Husna diambil dari ayat-ayat dalam Al Quran. Asmaul Husna juga adalah cara Allah untuk mengenalkan diriNya kepada kita . meskipun nama-nama Allah tentu tidak akan terbatas hanya 99 saja. Nabi Muhammad sebelum diangkat sebagai Nabi dan Rasul, Beliau digelari sebagai Al Amin atau”yang dapat dipercaya” dan juga As Saadiq “yang benar”. Gelar yang langka pada saat itu di Mekkah. Ini menunjukkan bahwa Allah sebenarnya sudah menunjukkan tanda-tanda bagi Kanjeng Nabi dan masyarakat di Mekkah saat itu.

Dalam tingkatan/ maqam dalam kapasitas manusia, terdapat 4 fase yakni Ulin Nuha, Ulin Abshar, Ulil Albaab dan Ulil Amri. Ulin Nuha, adalah seseorang yang memiliki potensi kecerdasan akal yang mencegahnya untuk tidak berbuat buruk. kemudian manusia  memasuki dmensi Ulil Abshar, yang berarti kecerdasan berupa kekuatan pandangan hati (Bashira > Abshar). Lebih naik lagi kemudian ke tingkat Ulil Albaab, yakni orang yang telah sampai pada kesadaran spiritual sehingga mempunyai kecerdasan yang paripurna. (Al Baab > Lubb, kecerdasan jiwa).  Seseorang yang bisa menyatukan kecerdasan akal dan kemantapan hati ini yang kemudian menghasilkan kecerdasan jiwa. Kecerdasan jiwa adalah hal yang mutlak seharusnya dimiliki oleh seseorang yang menjadi Ulil Amri (pemimpin).

Syaikh Nursamad Kamba dalam bukunya juga  menjelaskan bahwa ada proses transmisi dari hakikat keilahian ke dalam bentuk sabda atau firman Tuhan yang bisa dicerna dalam bahasa manusia. Allah sudah menyiapkan hardware dan software yang kompatibel ke dalam diri Muhammad untuk bisa menterjemahkan wahyu. Sekali lagi Syekh Kamba mengingatkan bahwa Allah tidak akan menciptakan manusia dengan tidak dibekali apapun, dilahirkan dari rahim siapa, keturunan siapa, kemampuannya bidang apa,bahkan ukuran rezeki, jodoh dan kematian sudah tertulis lengkap di Lahul Mahfudz sebelum kita ada. Sebagai sebuah penguatan pentingnya kita mengenal diri, saya kutip kata-kata Mbah Nun:

. “Hidup itu meneliti sebab kalau Anda meneliti Anda akan menemukan dirimu. Dari sini kita akan tahu siapa yang disebut “lebih rendah dari binatang” itu, yaitu yang punya mata tapi tidak digunakan untuk melihat, yang punya hati tapi tidak merasa, yang punya telinga tapi enggan mendengar dan yang punya jiwa tapi tidak membangunkan kesadaran. Maka dalam proses melakukan penelitian dan berpikir tersebut, ingat juga sebuah peringatan dari Allah yaitu Apa kamu pikir Aku menciptakan segala sesuatu itu sia-sia?”

Dalam meneliti diri jangan pula kita dibebani dengan begitu banyak pertanyaaan, kenapa kita berbeda dengan orang lain, kenapa dia begini dan kenapa dia begitu. Allah pula yang berkata bahwa kehidupan ini seperti permainan dan senda gurau.  Untuk memenangkannya kita harus mengetahui posisi dan struktur kita di masyarakat. Kenali kelemahan dan kekuatan diri. Jadi kita tidak boleh punya cita-cita dan keinginan kalau kita tidak punya pemahaman, pengenalan, dan dan pendalaman terhadap diri kita ketika akan melakukan sesuatu..

Setelah kita mengenal diri kita, barulah kita  kemudian semakin menjangkau ke kedalaman atau melebar dan meluas pada persoalan umat. Karena Persoalan umat  yang sesungguhnya adalah mereka tidak kenal persoalannya, tidak kenal kelemahannya dan tidak kenal kekuatannya. Kadang kelemahan mereka anggap kekuatan, kekuatan mereka anggap kelemahan. Semoga kita termasuk orang-orang yang beruntung dan bermanfaat.