Jamaah Google(iyah) – Prolog September 2018
Masuknya internet berarti kita memasukin peradaban industri baru. Dunia barat menyebutnya Revolusi Industri 4.0. Revolusi ini menawarkan kemudahan-kemudahan melalui teknologi-teknologi dan internet. Sebagai contoh dalam kasus mendaftarkan anak sekolah dulu kita perlu menggali informasi dari banyak orang untuk mencari sekolah, pondok pesantren atau tempat bimbingan belajar yang terbaik untuk kita atau anak-anak kita. Tapi saat ini kita hanya perlu menuliskannya di situs pencarian dengan satu kata kunci maka akan muncul website yang menginformasikan sedetail-detailnya tentang suatu lembaga pendidikan.

Bidang industri kreatif yang dulu hanya terbatas pada seperti seni lukis, atau seni membatik dengan keterbatasan media dan juga keterbatasan lokasi pameran. Orang mungkin hanya berpikir bahwa melukis itu paling baik ya di kanvas, atau kain. Tapi hari ini adanya internet kemudian bisa memunculkan teknik 3d, Design grafis, atau teknologi lighting yang mengesankan di gelaran Asian Games. Kemudahan-kemudahan yang ditawarkan oleh revolusi industri ini pun ternyata juga menyisakan beberapa dampak negatif. Diperkirakan empat puluh tujuh jenis pekerjaan akan hilang digantikan peradaban ini.

Ketidaksiapan kita menghadapi peradaban baru hari-hari ini terlihat. Ruang komunikasi dan silaturahmi yang bernama medsos menjadi ruang hujat, fitnah, arena namimah tak berkesudahan. Dunia maya menjelma menjadi adu kebenaran versi masing-masing. Sementara itu realitas yang dihadapi sehari-hari kemudian pula ikut dimanipulasi, dicitrakan hanya demi pengakuan untuk warga maya.Manusia-manusia bersembunyi dalam dunianya masing-masing. Silent revolution yang secara cepat mengubah pola hidup manusia di seluruh dunia. Cakupan heningnya revolusi juga tidak hanya pada satu titik. Namun banyak titik titik dan berlipat-lipat jumlahnya Kapanpun informasi dapat diakses dan dijejalkan dalam otak. Kita menjadi manusia paling tahu dan sekaligus paling tidak tahu apakah informasi itu layak kita konsumsi atau ternyata racun untuk diri kita.

Siapapun boleh menggungah apapun saja, tidak ada yang akan dimintai pertanggungjawaban atas atas efek samping yang ditimbulkan pada pembaca atas konten yang disediakan. Beberapa kali Jamaah Maiyah dibuat kesal atas pemotongan dan penempelan judul yang tidak sesuai di video kegiatan Mbahnun yang diupload di youtube. Judul-Judul yang bersifat konfrontatif, mengadu domba Mbahnun dengan tokoh lain. Video dipotong-potong, disambung lagi dengan video yang tidak sama konteks, ruang dan waktunya. Tujuannya adalah follower, subscribes, like yang kesemuanya menuju pada kata “Uang”.

Uang yang muncul jaman ini tidaklagi berbentuk fisik, beberapa Negara sudah menyetujui mata uang digital atau cryptocurency yang harganya terletak pada jual beli mata uang tersebut. Bagaimana kita menghadapi era digital?
Sebagai Marja Maiyah, Mbah Nun telah memberikan beberapa kunci-kunci bahwa secanggih apapun teknologi, jangan sampai hal-hal yang baku dari kita itu hilang. “Apa yang baku dari manusia, jangan pernah hilang oleh teknologi manapun. Menanggapi hoaks mbahnun menyampaikan bahwa “hoaks atau tidak hoaks bergantung pada manusia sebagai pelaku komunikasi. Selama akal tetap sehat dan hati tetap jernih, yang satu dengan yang lain diikat tali persaudaraan–maka, pelakunya tidak akan memproduksi hoaks, sekaligus tidak termakan hoaks.” Kuncinya bukan pada hoaks tapi pada manusia”Tegas Mbah Nun dalam Sinau Bareng di Kediri.

Kajian tentang Dunia Digital, Revolusi Industri 4.0, Jamaah Googleiyah akan menjadi pemantik diskusi Majelis Masyarakat Maiyah Jembaring Manah Bulan September 2018. Kebutuhan yang dirasa mendesak oleh Jannatul Maiyah Jembaring Manah. Agar segera bisa mengambil posisi dan koordinat yang tidak salah tempat, maqam dan juga treatment.(NTR)