“Obahe Urip”

Bergerak ialah tanda bahwa masih adanya kehidupan, namun bukan berarti diam adalah tanda kematian karena sangat mungkin diam merupakan titik tolak pergerakan menuju yang lebih sejati dalam kehidupan makhluk, seperti para pendoa yang berdiam disepertiga malam dalam kekhusyukan dalam rangka pergerakan sunyi menuju sejati.
Gerak tak harus segala yang terlihat tidak diam. Karena dalam diam, ada sesuatu ada sisi lain yang hendak digerakkan.

Tak ubahnya puasa, diam dalam segimakan, segi ucapan, segi gerak tubuh yang sekiranya berlebihan. Namun, dalam diamnya puasa ada sisi yang hendak digerakkan batin, Pergerakan batin agar lebih bisa merasakan saudara sekitar kita yang selama ini kelaparan, jangankan untuk makan enak untuk kapan makan saja mereka sulit memastikan.

Kedua, puasa ialah penggerakan batin yang melatih kita agar tidak terlalu bergantung pada keduniawian, agar lebih intens berdialog dengan Tuhan.

Ketiga, pergerakan diri untuk menahan tindakan meski kita mampu melakukan.
Segala yang bergerak selalu berdampak. Oleh karenanya kita harus berpikir mendasar ketika hendak bergerak. Pada momentum apa kita bergerak?. Letupan apa yang mendasarinya?. Seperti apa kita hendak bergerak?. Pergerakan macam apa?. Siapa yang yangmenjadi tujuan pergerakan kita? Pada dimensi mana kita hendak bergerak?
Dari segala cakupan-cakupan tersebut, lantas bagaimana kita hendak bergerak? Bagaimana kita obah? Ngobahno urip, obahing urip.

Pergerakan dalam gerak itu sendiri merupakan satu ritme psikologis emosional yang menjadi dasar makhluk hidup memulai sesuatu. Dalam terminologi jawa Obahe Urip merupakan satu lelaku nganti tumekaning praloyo, Maka peradaban manusia terbentuk dari pergerakan makhluk yang bergesekan satu sama lain menjadi benturan pergerakan lalu bersepakat membentuk perjanjian sehingga muncullah norma kebudayaan. Yang menjadi pertanyaan adalah manusia modern menjalani norma kebudayaan tanpa pernah mengikuti proses perjanjian, tanpa ada kritisme terhadap satu kebudayaan.
Renungkan dan bertanyalah pada diri anda masing-masing apakah norma yang anda jalankan melalui proses perjanjian?……

Penulis (Nurul) Aktif di jamaah maiyah jembaring manah

Editor: Choidar Kodrat