“MENUNGGU PANCASILA BERBUKA”

Menjadi masyarakat Madani adalah impian, dan dengan Pancasila orang Indonesia hendak mencapainya. Namun sayangnya Pancasila hari ini adalah Pancasila yang harus kita raba lagi maknanya, kita koreksi lagi penerapannya, kita bersihkan lagi dari Jamur, tungai serta segala yang menempel ditubuhnya. Lebih dari itu kita harus memastikan lagi bahwa Pancasila hari ini adalah Pancasila yang tidak sakit, dan disakiti keberadaannya. Karena pergolakan zaman telah membawanya berubah rupa, dari yang sakti menjadi tak berarti. Dari yang mendasar menjadi slogan hambar. Dari yang agung menjadi terkungkung. Pancasila seakan berpuasa dengan caranya yang tak pernah tahu kapan akan berbuka. Melihat dinamika saat ini seakan miris ketika perkara iman, perkara ketuhanan, menjadi barang obralan di pemilu. Dalil-dalil disunat agar sesuai dengan syahwat. Ayat suci ditafsir seenak jidat untuk melakukan pengeboman sana-sini dengan dalih jihad. Manusia seakan menjadi lebih berkuasa ketimbang Tuhan atas perkara surga dan neraka. Bagaimana ini? Inikah penerapan Ketuhanan Yang Maha Esa?

Ketika reformasi sudah bergulir dua puluh tahun lamanya, yang digadang-gadang sebagai jalan untuk memperbaiki tatanan masyarat. Namun seakan reformasi menutup mata atas apa  yang tercecer darinya, dimana sampai saat ini masih ada orang tua yang dengan tegar menanti keadilan, dalam berdiri melaksanakan kamisan di depan istana negara, menunggu kabar anaknya yang hilang tanpa apa. Humanity macam apa ini?

Persatuan bangsa, penerapan Demokrasi, serta keadilan sosial spertinya bernasib tak jauh beda. Butir-butir itu suci itu seakan cuma hadir, lalu diplintir hingga tak bisa mengalir pada hati-hati manusia Indonesia.  Lalu jadilah kita manusia saling tuduh, antara kaum cebong dan kaum onta. Barangkali langit masih menyediakan ruang bagi garuda untuk terbang, tapi sebagaimana kita tahu, garuda tak sedang sungguh-sungguh terbang. Ia seperti diterbangkan oleh apa yang sering kita sebut dengann invisible hand. Jadi kita hanya paham adda masalah, tapi sekan kesulitan untuk menyelesaikannya.

Tapi tunggu, barang kali segala yang dijlentrehkan barusan adalah karena kita terlalu addict pada media. Sehingga berpola pikir tak jauh beda. Atau bisa jadi ucap penikmat konspirasi lebih benar, bahwa segala bentuk ledakan bom akhir-akhir ini hanya cara kecil untuk mengesankan bahwa Indonesia tidak pernah baik-baik saja?.

Tapi selaku manusia bertuhan, sepertinya harusnya lebih mengimani ucap-Nya, fa inna ma’al usri yusro, inna ma’al usri yusro . Setidaknya itu lebih menenangkan bagi kita, dan seiring waktu Pancasila pasti akan berbuka, entah sesegera, atau masih menunggu beberapa masa.

penulis : Nurul (Penggiat Jamaah Maiyah Jembaring Manah)