Maiyah memiliki cara pandang yang universal dalam melihat suatu problem yang terjadi. Sebuah peristiwa tidak terjadi secara terpisah, namun ia terkait dengan peristiwa yang lain. Sebagaimana kemacetan, kita tahu bahwa sebab kemacetan yang umum adalah adanya ketidakseimbangan antara kemampuan jalan dalam menampung volume kendaraan. Sehingga yang umum terjadi, solusinya adalah pelebaran jalan dan pembangunan jalan toll. Kalau kita mau menggunakan apa yang selama ini dipelajari di Maiyah, maka problem ini perlu dituntut lebih mendalam lagi. Bagaimana regulasi penjualan kendaraan bermotor khususnya kepemilikan pribadi, perbaikan menyeluruh terkait fasilitas kendaraan umum dan yang tak kalah urgent nya adalah bagaimana masyarakat tidak terjebak pada mental konsumerisme. Kesemuanya ini memiliki keterkaitan yang tidak bisa dipisahkan.

Pola pikir semacam penting agar nantinya ketika kita hendak merespon suatu hal kita tidak terjebak pada sikap yang dangkal serta terkesan asal-asalan dan kurang mendalam. Namun juga jangan salah, perlu adanya pemikiran yang sifatnya sekularisasi dalam proses membangun cara pandang yang universal tersebut. Mengapa masyarakat memilki sifat konsumtif yang tinggi?. Mengapa regulasi penjualan kendaraan bermotor sangat tinggi?. Mengapa kendaraan umum terkesan hidup enggan, mati sungkan?.

Pemikiran sekularisasi menjadi sebuah pengisolasian masalah yang mana nantinya kita dapat memikirkannya secara lebih dalam, luas dan terperinci. Ini semacam mengurai bagian demi bagian yang bermasalah, sehingga tatkala bagian demi bagian disusun lahi menjadi sebuah rangkaian, ia menjadi sebuah rangkaian yang utuh, baik dan indah. Dari keseluruhan problem yang sedang dihadapi bersama, diskusi bulan ini mengambil tema shiratal burnout.

Burnout adalah kondisi dimana tubuh sedang kelelahan secara fisik, emosi, mental dan bahkan sampai pada titik merasa tidak penting. Mengapa sepertinya setiap jalan yang kita pilih, adalah jalan-jalan yang melelahkan. Baik dalam ranah pekerjaan, beribadah, pertemanan, berumah tangga dan berbagai dimensi kehidupan lainnya. Masalahnya yang terlampau besar sehingga kita tak sunggup memikulnya, atau sebenarnya masalahnya yang tak seberapa hanya saja kita tak tau cara memikulnya?. Atau barangkali tidak ada masalah tang berarti, namun kita sok-sokan mencari masalah demi eksistensi?.

Aku bermasalah, maka aku ada!
Tapi opo ya tenanan ngono?

Bulan ini menjadi preparat bagi potongan-potongan lelah yang telah kita iris tipis (melintang dan membujur) yang nantinya akan kita lihat lebih detail lagi bagaimana bentuk serta susunannya melalui mikroskop pengetahuan kita masing-masing. Mari siapkan mikroskopnya, kita mulai diskusinya.