Gak bahaya ta?

Oleh : Mas Nurul

Apapun itu akan disebut berbahaya karena kita belum sepenuhnya memiliki informasi yang akurat -minimal secara garis besar- terkait berbagai hal. Ular akan menjadi binatang yang berbahaya bagi mereka yang tidak memiliki informasi yang mumpuni terkait per-ularan. Namun beda hal bagi seorang Mas Fenda, dia bahkan sempat tertangkap beberapa kali membuat story WA yang terkesan sedih karena harus merelakan ularnya dijual. Seolah ada rasa kangen pada sosok binatang melata tersebut. Bok ya sudah, kan masih ada ular sarung yang setia mendampingi di bawah pusarnya. 

Tolking-tolking masalah bahaya, barangkali kita belajar dari inovasi yang telah dan masih dipergunakan hingga kini. Mari posisikan diri berada di zaman dimana orang belum terbiasa bahkan belum sepenuhnya memikirkan menunggangi kuda sebagai mode transportasi. Kuda adalah binatang liar, gesit dan kuat. Maka ketika manusia mulai berpikir hendak menjadikannya tunggangan sudah barang tentu manusia memikirkan berbagai hal terkait kuda. Pola hidup, karakter, perawatan, urgensi memilih kuda menjadi tunggangan dan berbagai pertimbangan lainnya. Dan pada akhirnya manusia mampu, bahkan dalam sebuah riwayat yang shahih disampaikan bahwa berkuda menjadi sebuah perkara sunnah disamping berburu dan memanah.

Dalam sebuah pameran yang bertajuk “Poem of Blood” seorang Ugo Untoro menyajikan kuda sebagai karakter utama di lukisan dan seni instalasinya. Ini sebuah gambaran bagaimana kita pada akhirnya mampu memiliki parameter terkait bahaya. Trial error tentu ada namun alangkah baiknya dengan modal peradaban yang telah berjalan lama setidaknya kita mampu meminimalisir hal tersebut. Tentu ngomongin Artificial Intelligence (AI) tidak sama dengan ngomongin ular, tidak sama dengan ngomongin kuda. Namun hal ini seperti melihat pola yang serupa dengan objek yang berbeda.

Menyorot perilaku yang sudah-sudah, saat ini pecinta ular banyak, di tiap kota rata-rata ada komunitasnya sendiri, bahkan jangan lupa kita sangat familiar dengan sebutan pawang ular. Lalu tempat-tempat untuk latihan berkuda sudah menjamur. Dari sini kita setidaknya memiliki pandangan bahwa kehadiran AI semestinya ia menjadi “tools” bagi kehidupan kita. Perlu adanya kesadaran bahwa manusia adalah subjek bagi “tools” bukan sebaliknya. Sebaik-baik mempergunakan “tools” adalah menggunakannya sesuai pada tempatnya.

Kita mengenal silet, pisau, golok, kapak, dan gergaji. Semua memiliki fungsi yang sama untuk memotong namun penggunaannya tergantung pada benda yang hendak dipotong, dalam ranah ini sangat erat kaitannya dengan kesesuaian dan  efisiensi. Meraut pensil pakai silet, maksimal pakai pisau kecil. Sangat berbahaya jika memakai golok kapak apalagi gergaji karena yang runcing nantinya tidak hanya pensil, tapi juga tangannya.

Mari kita sambut kehadiran AI dengan su’udzon yang baik, kita tidak mampu menolak arus inovasi, namun untuk sepenuhnya menerima juga bukan pilihan bijak. Maka arus prasangka-prasangka buruk yang melekat padanya kita analisa sungguh-sungguh sehingga nantinya kita memiliki langkah-langkah mitigasi yang tepat untuk diambil. Bagaimanapun hidup akan terus berjalan meski hujan deras mengguyur, namun itu bukan perkara yang mengkhawatirkan jika kita sudah memiliki payung dan kekasih yang sudi menemani. Karena nantinya kita akan menjelma hangat di tengah dekapan deras hujan yang dingin.

Piye Mblo, AI sek bahaya ta?