Di penghujung tahun ini Penggiat Jembaring Manah mencoba manggali dan menyajikan wahana ngaji bareng dengan tema “Bab Penutup: Skala Sinter Piksel”. Pemilihan kata “penutup” sepertinya memang lebih tepat daripada kata “akhir”. Penutup ialah bagian dari upaya pengisolasian terhadap objek peristiwa yang telah dialami, dalam hal ini setidaknya dalam kurun waktu satu tahun terakhir. Sedang kata akhir, ia lebih kepada momen penuntasan, penyelesaian dan sebagainya. Sedang selama kita masih diberi kesediaan bernafas dan beraktifitas maka hidup ini belum tuntas, akan ada proses demi proses yang akan dilalui. Pengisolasian peristiwa ini, sebagai upaya bagi kita untuk memotret dan menjadikannya bahan tadabbur, tafakur, dan tasyakur.
Perihal mengolah, ada dua hal yang penting diperhatikan yakni bahan dan alat dalam menghasilkan output. Tentu, meskipun memiliki bahan dan alat yang sama, tiap-tiap dari kita memiliki cara yang otentik dalam proses mengolahnya. Bercermin dari dunia fotografi, Dalam basic fotografi dikenal istilah exposure triangle yakni tiga variable yang menentukan pencahayaan sebuah foto/gambar, aperture (bukaan), shutter speed (kecepatan rana), dan ISO. Untuk mendapatkan gambar yang baik, kita harus dapat menyeimbangkan ketiganya agar hasil dari foto yag kita ambil sesuai dengan apa yang kita inginkan. Proses selanjutnya adalah bagaimana kita mengambil angle terhadap objek yang hendak kita potret.
Bird eye angel merupakan sudut pandang layaknya mata burung yang sedang terbang, mengambilan gambar di atas objek yang kita foto. Angle ini memperlihatkan objek dari atas ketinggian dan terkesan luas namun tidak berfokus pada objek tertentu.
High Angle Kamera adalah sebuah sudut pandang yang diambil lebih tinggi dari objek, teknik ini sekilas mirip bird eye. Bedanya, high eye diambil tepat diatas objek dan lebih berfokus pada satu objek saja (point of view dari high angle lebih sempit dibanding bird eye). Kesan yang ditimbulkan high angle adalah kurang berdaya atau penonton akan merasa berkuasa dalam melihat foto atau video. Posisi kamera akan selalu miring/menunduk ke arah bawah
Eye Level Angle, kalau di angle ini, biasanya posisi kamera akan sejajar dengan objek yang akan dipotret, sehingga membuat gambar yang dihasilkan terlihat standar layaknya mata memandang. Bisa dikatakan, posisi angle paling netral dan sudut pandang apa adanya. Angle ini biasanya paling banyak digunakan dalam foto produk untuk online shop.
Low angle adalah teknik pengambilan gambar di bawah kepala objek. Sesuai dengan namanya, yaitu sudut pandang rendah.Untuk posisi kamera akan selalu miring ke arah atas. Namun bagian depan objek masih dapat terlihat.Sedangkan bagian bawah objek akan terlihat lebih besar dari bagian atas objek. Biasanya angle seperti ini paling sering digunakan dalam file super hero.
Frog eye adalah sudut pandang kamera paling rendah. Atau ada yang memberi nama dengan sebutan sudut pandang mata katak. Model angle seperti ini diambil dari sudut paling bawah bahkan bisa menyentuh dasar objek. Biasanya posisi fotografer harus tiarap untuk mengambil gambar dengan angle seperti ini. Sudut pandang tipe ini biasanya akan memperlihatkan sudut bawah objek, contohnya kaki. Dan masih ada beberapa jenis angle lagi didalam dunia fotografi yang tentu akan menghasilkan pesan gambar yang berbeda
Selanjutnya ialah tehnik pengambilan gambar yang disebut focal length yakni kemampuan lensa mengukur jarak – dalam satuan milimeter – antara pusat optik lensa dan sensor kamera. Jarak tersebut ditentukan dengan kamera terfocus sampai tak terbatas. Semakin panjang fokus lensa, semakin sempit sudut pandangnya. Subjek tampak lebih dekat menggunakan lensa focal lenght panjang/ tele, daripada mereka melihatnya dengan mata. Disisi lain, lensa dengan focal lenght lebar mengambil sudut pandang yang jauh lebih luas. Sehingga subjek tampak lebih kecil dalam bingkai dibandingkan pandangan mata langsung.
Setiap kita memiliki “kamera diri” yang memiliki kecenderungan berbeda dalam mengambil angle dan focal lenght dalam memotret peristiwa yang terjadi. Kecenderungan itu tergantung bagaimana kita mengambil sudut pandang dan jarak pandang dalam proses meneguk hikmah dibalik samudera peristiwa. Mari peristiwa-peristiwa yang terjadi -setidaknya dalam kurun waktu setahun terakhir- baik yang sifat personal maupun antar personal,kita padatkan, kita satukan menjadi satu keutuhan obahing urip, dari sanalah nanti mendalami, meluaskan hingga merinci hingga bagian terkecil sampaibpada satu titik pertanyaan “Sudahkah kita pantas disebut manusia? “.
Leave a Reply