Satu menjadi dua, dua menjadi empat, empat menjadi enam belas, enam belas menjadi dua ratus lima puluh enam, dua ratus lima puluh enam menjadi enam puluh lima ribu lima ratus tiga puluh enam. Angka itu terus berlipat dan berlipat ganda, angka tidak hanya sekedar angka, angka itu berupa binatang cerdas bernama sapiens.


Keberadaannya sekarang telah melalui proses yang amat panjang, dalam catatan ia telah mengalami setidaknya tiga kali revolusi, yakni revolusi kognitif, revolusi pertanian, dan revolusi sains. Pengantar ini tidak sedang mengajak untuk masuk pada ranah yang amat besar, bukan karena hendak menolak apa yang disajikan Yuval Noah Harari tapi mari kita memulainya dari yang terdekat. Kita adalah hasil dari proses panjang perjalanan itu, oleh karena itu kita mulai mengamati bagaimana wajah kognisi, pertanian dan sains hari ini, apa saja dampak yang telah ditimbulkan oleh perubahan itu. Opsi lain ialah bagaimana kalau kita memulainya dari yang paling mendasar diri kita, apa sebenarnya yang melandasi perubahan demi perubahan itu. Pada titik mulanya ialah kita didorong untuk mencukupi kebutuhan, sebelum adanya alat tukar bernama uang upaya yang kita lakukan ialah dengan menggunakan sistem barter. Jika petani yang menanam padi butuh asupan protein maka ia harus menukar hasil panennya dengan hasil tangkapan ikan dari nelayan. Kegiatan ekonomi pada mulanya memang hanya untuk sebatas memenuhi kebutuhan bukan mengumpulkan laba sebanyak-banyaknya seperti yang terjadi saat ini. Telah terjadi pergeseran yang amat jauh sebenarnya, yang membuat geram ialah kegiatan mengumpulkan laba sebanyak-banyaknya tidak hanya dilakukan oleh pedagang tapi juga terjadi pada lembaga-lembaga vital dalam masyarakat, sehingga produk pelayanan yang diterima tidak optimal, karena pelayannya lebih memprioritaskan laba untuk dirinya sendiri. Pergeseran itu tidak berhenti disitu, ia terus bergulir serupa bola salju, dari yang hnaya untuk mencukupi kebutuhan menjelma memuaskan keinginan. Saat mereka telah banyak mengumpulkan, pergeseran selanjutnya ialah bagaimana mereka dapat menguasai sesama. Menelisik dari revolusi besar yang terjadi, revolusi yang terakhir dan masih berlangsung ialah revolusi sains. Keberadaan sains pada awlanya ialah satu upaya untuk memhami bagaimana semesta bekerja, berbagai pengamatan, analisa, riset dan penelitian yang dilakukan untuk menemukan pola kerja semesta atau jagad, baik jagad alit maupun jagad ageng. Mengapa segala sesuatu yang jatuh selalu ke bawah, apa yang membuat gunung meletus, bagaimana terjadinya prose pencernaan dan pernafasan, apa yang menjadi sebab seorang anak terlahir sebagai difabel, bagimana air dapat membeku dan menguap, bagaimana proses sublimasi dapat terjadi, hingga menelaah pergantian siang malam dan masih banyak lagi peristiswa yang mendasari terjadinya revolusi sains. Ketika pola kerja semesta perlahan mulai ditemukan, maka dirangkumlah, dikonsep dalam rumus-rumus sains sehingga terjadi standarisasi yang mana pada hilirnya terjadi penguasaan atas akses, dan perkembangan teknologi menjadikan penguasaan terhadap akses itu semakin menjadi. Jika kontrol diri kita tidak kuat, kita serupa ulo marani gepuk , kita ridho diri kita untuk dikuasai.


Pertanyaan selanjutnya ialah, bagaimana mungkin dari yang sekedar untuk mencukupi kebutuhan menjelma naluri untuk menguasai dengab beringas?. Ini belum lagi tentang perihal bagaimana upaya damai dengan menciptakan lebih banyak senjata pembunuh masal. Residu perubahan selalu menjemukan, lalu kita bisa apa?. Pertanyaan yang barangkali menemukan penjabaran lebih luas saat melingkar nanti.

Sampai jumpa di Sanggar Umpus, wahai sapiens!