Para pandhita kala melantunkan rapalan doa serupa harmoni bebunyian kumbang yang bersuara. Gemreneng-nya terdengar amat indah, perjalanan ngaji bareng malam ini menjadi gerbang bagi kita untuk memotret, menelusuri, memaknai apa sebenarnya doa itu. Dibeberapa agama kala berdoa sangat erat sekali dengan berbagai komponen dalam lagu terkait pelafalan, nada, intonasi, tekanan dsb. Dalam Islam ada bab tersendiri yang membahas tentang makhorijul huruf yaitu pengetahuan bagaimana melafalkan huruf dengan benar, lalu ada tajwid yang menurut bahasa (etimologi) adalah: memperindah sesuatu. Sedangkan menurut istilah, Ilmu Tajwid adalah pengetahuan tentang kaidah serta cara-cara membaca Al-Quran dengan sebaik-baiknya. Maka sebagai umat islam dalam melantunkan doa, secara teknis sudah diatur bagaimana melafalkannya, panjang pendeknya, kapan harus melakukan jeda.
Doa artinya menyeru, memanggil, memohon, meminta, memohon suatu keinginan yang besar kepada Allah SWT dan pujian kepadaNya.
Melihat beberapa arti dari doa yang bukan hanya meminta dan memohon, tapi juga memanggil, menyeru, memuji maka alangkah baiknya memang jika dalam berdoa kita memperhatikan detail-detail komponen yang menghadirkan harmoni yang indah. Memanggil sesama makhluk saja kita dianjurkan memanggil dengan sebutan yang baik apalagi memanggil, menyeru, dan memuji Tuhan. Bremoro kidung seolah kembali mengajak kita untuk mengoreksi diri sendiri apakah dalam berdoa ataupun beribadah sudah memperhatikan keindahan selayaknya pemusik yang memperhitungkan nada, intonasi, tekanan, pelafalan dsb dalam melahirkan satu karya yang bagus. Dalam sebuah riwayat memang disebutkan bahwa segala sesuatu tergantung niatnya. Itu memang tidak salah, tapi dalam prakteknya tak sepenuhnya benar. Kita tidak bisa hanya karena sudah berniat wudhu lantas menggunakan air kencing dalam pelaksanaannya. Karena sudah berniat sholat, lalu dengan seenaknya memilih kiblat. Tidak bisa begitu, dalam beribadah kita juga memperhatikan keselarasan, kesesuaian, empan-papannya.
Doa tak lain merupakan inti ibadah. Dalam beribadah kita mengenal ada istilah habluminallah dan hablumminannas. Manusia menjadi poros atas ibadah yang sifatnya vertikal dan horizontal. Maka tiap obahnya akan berdampak pada keselarasan hubungan baik dengan Tuhan maupun sesamanya. Memang tidak mudah membangun keselarasan itu, tapi bukan berarti tidak mungkin. Ibadah itu indah dan mengindahkan, seperti gemreneng-nya kumbanh, seperti bremoro kidung kala menyambut hari. Maka yang menjadi pertanyaan selanjutnya ialah apakah masih bisa dianggap sebagai sebuah ibadah orang-orang yang mengklaim sedang menyerukan sabda Tuhan namun tindakannya malah menimbulkan kerusuhan?. Lingkaran-lingkaran Maiyah barangkali perlu menerjemahkan kembali apa itu ibadah, sebagaimana dawuh Simbah Ainun Najib saat bersua di hotel samping SPBU ambulu, beberapa jam sebelum acara ngaji bareng di lapangan ambulu dimulai tepatnya dibulan Agustus 2019. Simbah mengatakan bahwa Maiyah ialah jalan kenabian. Maka ia tak hanya berhenti pada titik identitas -jalan kenabian- tapi juga harus dan bahkan wajib tercipta dalam tindakan nyata dalam sisi personalitas.
Kumbang yang bersuara tak pernah menumpahkan darah sesama, kumbang yang bersuara menyajikan lantunan indah bagi semesta. Pada kumbang kita berkaca
Pada kumbang kita membangun cahaya
Pada kumbang kita menengok diri kita
Apakah ibadah kita sudah pantas disebut ibadah?
Leave a Reply