Malam itu semenjak ba’da isya sedulur maiyah sudah banyak yang tiba di teras Baladika tempat maiyah yang akan berlansung. Beberapa ada yang membuat api unggun untuk menghangatkan badan yang memag cuaca saat itu cenderung dingin. Bulan ini Jembaring Manah mengangkat tema Sang Asing. Meski sudah banyak yang datang, namun teman-teman belum menyegerakan diri untuk memulai acara. Masih bercengkrama sembari bersenandung melalui gitar.

Menginjak pukul delapan acara dimulai, diawali dengan pembacaan tawasul oleh Cak Panut lalu dilanjutkan dengan penyampaian mengenai tema yang akan dibahas. Selepas itu, Mbak Yulia selaku ketua panitia Sinau Bareng Cak Nun dan Kiai Kanjeng yang akan diadakn di Ambulu turut hadir. Beliau menymapaikan hal-hal terkait acara yang kan berlangsung pada tanggal empat Agustus mendatang. Progres mengenai persiapan serta berbagai kendala yang sedang dihadapi baik mengenai pendanaan, perizinan dan hal-hal lain terkait acara. Mbak Yulia bercerita bagaimana awalnya hingga bisa mengundang Simbah untuk hadir di Ambulu. Dari penuturannya Mbak Yuli baru beberpa bulan terakhir ini mengkuti maiyahan belum ada setahun, baik melalui youtube maupun datang langsung di Mocopat Syafaat di Jogja. Ada kecocokan yang didapat dari cara maiyahan yang berlangsung. Hingga di suatu momen Mbak Yulia berucap pada Tuhan, “Tuhan jika Engkau Maha Segala maka pertemukan saya dengan beliau (Cak Nun)” dan ternyata keinginannya diijabah. Pertama kali bertatap muka ketika Cak Nun berada di Bali, lalu timbul keinginan yang kuat untuk mengundang CNKK di Ambulu. Hingga akhirnya terwujud di tanggal empat agustus besok.

Diskusi kembali berlanjut, setelah sebelumnya diselingi satu nomor lagu. Mas Wisnu mengawali untuk menangapi menganai Sang Asing. Di prolog tertulis bahwa Islam awalnya hadir dengan asing, dan kembali pada keasingan. Menurut beliau, keasingan ini lebih kepada akhlak, karena di akhir zaman kehancuran akhlak amat sangat terlihat, orang tidak malu lagi berbuat maksiat. Disanalah terlihat bagaimana Islam akan begitu asing bagi suatu zaman yang sebagian besar mengalami kemerosotan akhlak. Membahas keasingan, Maiyah sendiri menjadi contoh konkrit mengenai “laku asing”. Sebagaimana yang terjadi hari ini, ketika berbagai golongan baik itu berupa ormas, komunitas, kelompok masyarakat lainnya berlomba untuk “terlihat” di masyarkat namun hal tersebut tidak dilakukan di Maiyah. Seperti awal kehadirannya yang Asing, dan kini sudah berpuluh-puluh simpul hadir di berbagai kota di Indonesia bahkan sampai ada di luar negeri.

Mas Wisnu melanjutkan bahwa ada kekhawatiran ketika Maiyah “semakin besar” nantinya akan ada sikap eksklusif, hal itu yang perlu amat perlu untuk dihindari. Berlanjut mengenai keasingan, Mas Wisnu bercerita menganai perjalanan sufisme dari awalnya hingga saat ini. Diawali pada fase zuhud, ditandai dengan uzlah dari keramaian duniawi. Fase kedua, era sufisme mistik, ditandai dengan banyaknya ilmu ghaib dan kegilaan / jadab. Fase ketiga, ditandai dengan mulainya ditulis bab-bab mengenai tasawuf dalam kitab-kitab. Fase keempat, era sufisme pertengahan, disini mulai hadir thariqah-thariqah. Dan fase kini, sufisme semakin “tidak tampak”, luwes dan dapat beradaptasi dalam kondisi. Fase inilah yang terjadi di Nusantara. Seperti dawuh Kanjeng Sunan Kalijogo “…anglaras ilining banyu, ngeli ning ora keli…”. Kembali pada pernyataan “Islam awalnya hadir dengan asing, dan kembali pada keasingan “, Islam itu terdiri dari dua pilar yaitu syariat dan tasawuf. Kedua hal itu adalah perkara asing dan dimusuhi oleh kaumnya. Dan di akhir zaman, syariat dan tasawuf kembali asing. Disatu sisi menuhankan syariat hingga timbul sikap sombong dan disatu sisi mengkultuskan tasawuf hingga tergelincir pada sifat zindik.

Menelisik mengenai keasingan maka diskusi sampai pada kisah sahabat Nabi yang bernama Abu Dzar Al Ghifari. Dimana amat sangat kuat dalam bersikap meskipun sebagian besar orang saat itu tidak sependapat dengannya. Dia tetap kuat memegang prinsip. Dari sinilah akhirnya Mas Eko mengaitkan keasingan dengan tiga bentuk kebenaran, pribadi, konsensus, dan sejati. Karena bisa jadi kebenaran itu ada pada bentuk “kebenaran pribadi” seperti yang terjadi pada Abu Dzar Al Ghifari. Namun bisa juga Kebenaran itu hadir pada konsensus, yang oleh dunia islam disebut Ijtima’. Untuk memahami ini perlu ada penelaahan mendalam ketika menganalisis. Keasingan itu perlu, ketika orang cerdas hadir di tengah masyarakat maka kecerdasannya setara dengan masyarakat tersebut. Oleh karena itu diperlukan pengasingan agar kita dapat bicara pada diri sendiri. Ketika pengasingan diri semuanya akan jujur. Kembali tanggapan mengenai Sang Asing mengalir dari teman-teman yang hadir, Nabi Muhammad itu Asing terhadap kita, oleh karena itu kita besholawat sebagai upaya agar tidak asing di hadapan Kanjeng Nabi.

Malam itu Maiyahan berlangsung hingga lebih dari jam 12 malam, setiap kita kembali pulang dengan kesimpulan pribadi mengenai keasingan. Bagimanapun beragamnya tafsir tentang Sang Asing bagi pribadi masing-masing semoga kita ialah bagian dari yang oleh Kanjeng Nabi disebut dengan ghurabbah. Mari terus istiqomah berpegang pada kebenaran nilai, kebaikan sikap dan kebijakan akhlak. Menempuh keasingan, menempuh perjalanan panjang kesunyian. (Nurul ft Akin)