Sang Asing
Hari itu menjelang adzan magrib di kediaman Cak Panut, beliau menyampaikan keresahan yang selama ini ia rasakan tentang berbagai hal yang ada. Baik mengenai sistem politik, kehidupan bersosial, pemilihan umum, keber-agamaan, kesehatan masyarakat dan proses pendidikan dalam lingkup sekolah. Meski beliau sendiri merupakan tenaga pendidik, namun merasa tidak cocok dengan apa yang selama ini telah berjalan, ada perasaan terasing atas apa terjadi. Bahkan dalam perjalanan mendekatkan diri terhadap Tuhan, dalam menjalankan agama seolah ada hegemoni tafsir mengenai firman Tuhan.


Perasaaan “tidak cocok” atas apa yang terjadi tersebut menjadi pemantik dalam menggali mengenai keterasingan itu sendiri. Seperti yang dilakukan para Pelaku Maiyah itu sendiri ketika memilih jalan unpublish yang notabene hari-hari ini berbanding terbalik ketika orang-orang berlomba mambangun panggungnya, mencari pengakuan, menempuh segala jalan agar mendapat sorak-sorai dari orang sekeliling atau bahkan dari mata dunia.

Pemilihan jalan tersebut bukankah tak lain ialah memilih jalan keterasingan itu sediri. Maka seperti apa sebenarnya asing itu sendiri?.
Tokoh-tokoh besar melahirkan ide, gagasan, pemikiran ketika mereka berada pada keterasingan. Pancasila lahir dari perenungan Sukarno ketika beliau sedang diasingkan di Ende Flores di bawah pohon sukun, begitu pula Tan Malaka melahirkan buku ketika dia sedang berada di dalam penjara, dan masih banyak lagi tokoh yang besar lainnya. Bahkan Kanjeng Nabi Muhammad mendapat wahyu pertama melalui Jibril ketika beliau mengasingkan diri, uzlah di Gua Hiro. Mendapati sebegitu banyak kisah mengenai keterasingan maka sepertinya perlu untuk mendalami lagi. Mentadabburi bagaimna keterasingan itu.


Seolah kita sedang berada pada persimpangan jalan, untuk ikut arus deras kerseragaman agar diakui sekeliling atau memilih keterasingan dengan resiko dipandang aneh dan tidak umum, oleh sekitar. Namun pemilihannya tidak hanya tentang asing atau tidak asing. Keberlanjutan dari pilihan kita akan memiliki dampak. Jika kita memilih asing bagaimana kita hendak membaur dengan masyarakat, bagaimana kita menyampaikan pesan kepada yang belum memahami. Namun jika turut hanyut, seberapa kuat kita akan bersikap atas ketidaksesuaian apa yang terjadi?.


Sesungguhnya esensi menempuh keterasingan ialah tentang bagaimana kita menilai suatu perkara dari sudut pandang lain. Contoh sederhana, sebagai perokok barangkali sudah terbiasa dengan bau asap rokok dan tidak akan mempermasalahkan, namun bagi yang bukan perokok, asap rokok amat sangat mengganggu. Diperlukan sikap asing agar kita dapat menemui keasadaran bahwa sebenarnya yang ada di sekeliling ini tidak sedang dalam keadaan baik-baik saja. Serupa membaca buku, perlu jarak agar dapat membaca tulisan. Jika terlalu dekat kita tidak akan mengetahui apa isi dari tulisan tersebut.


Dalam riwayat disebutkan bahwa “Islam muncul dalam keadaan asing dan akan kembali dalam keadaan asing, maka beruntunglah orang-orang yang asing”. Sebagai pelaku Maiyah apakah kita sudah menyadari tentang laku yang dijalani, apakah kita sudah memiliki sikap apa yang akan diambil atas keterasingan tersebut. Semoga para Pelaku Maiyah ialah tak lain, yang oleh Kanjeng Nabi Muhammad disebut sebagai ghurabbah, yaitu orang-orang yang mengadakan perbaikan di tengah manusia yang berbuat kerusakan.


Namun apakah memang seperti itu penjlentrehannya barangkali itulah yang perlu didiskusikan lebih lanjut. Semoga Sabtu dua puluh juli dua ribu sembilan belas Gusti Allah menuntun kita semua untuk hadir, melingkar agar dapat mengurai kerumitan, menata yang berantankan, menyusun yang berceceran.
Sampai bertemu dalam kehangatan, salam.

Oleh: Nurul