Untuk yang pertama bertemu dengannya sudah menjadi perkara yang lumrah untuk mengambi jarak darinya, penampilannya yang garang dengan rambut gondrong, kumis tebal dan jenggot panjang. Bahkan jika dia sedang mengenakan sarung batik kesayangannya maka orang akan menganggapnya dukun. Namun siapa menyangka dibalik gaya dhahirnya yang demikian dia amat hellokitty hatinya. Awalnya saya mengganggap ucapannya hanya guyonan semata ketika dia lebih memilih membeli bensin eceran ketimbang membeli di SPBU. “Tuku bensin kok ate nyugihno kapitalis, tuku iku nang eceran” begitu kelakarnya ketika saya bertanya mengapa lebih memilih bensin eceran. Di lain waktu saya kembali menjumpainya membeli bensin eceran ketimbang di SPBU, dan berulang kali. Awalnya saya mengira karena jarak SPBU yang terlalu jauh akhirnya dia memilih membeli bensin eceran, namun ternyata di kesempatan lain ketika dia hendak mengisi bensin dia lebih memilih bensin eceran padahal hanya berjarak beberapa meter dari SPBU. Ini sepenuhnya membuktikan bahwa ucapannya bukan kelakar semata, bukan guyonan saja.
Jika kita hendak menelisik lebih jauh, ngoncek’i sikap Mas Iswandoyo barangkali memang tak sepenuhnya benar, karena dengan membeli membeli bensin eceran tak ada bedanya dengan membeli di SPBU dimana “produk” yang dibeli berasal dari sumber yang sama. Tapi sepertinya memang bukan atas dasar itu Mas Iswandoyo lebih memilih membeli di eceran. Ini tentang mengapresiasi ikhtiar kalangan bawah. Sebuah upaya membantu melancarkan irigasi rezeki dari Tuhan kepada penjual bensin eceran yang notabene kalangan bawah. Mari kita buat hitungan sederhana, dimana dalam satu botol bensin eceran penjual mendapatkan laba tak lebih dari dua ribu rupiah –bahkan bisa jadi hanya lima ratus sampai seribu rupiah saja-, nominal yang kecil sebenarnya. Namun ketika kita membicarakan skala, maka itu amat sangat berharga bagi mereka. Kebutuhan mereka tidak lebih besar dari kita, bahkan bisa jadi amat sangat kecil jika dibanding dengan kebutuhan. Dua ribu bagi mereka dapat memabantu untuk survive. Sampai disini kita melihat dari sisi penjual bensin eceran. Mari kembali menggali sikap Mas Iswandoyo, andai kata dia memang hendak menolong, bisa saja dia memberi sedekah lebih besar dari nominal dua ribu rupiah yang dihasikan dari laba hasil menjual bensin eceran, dan tetap bisa membeli bensin di SPBU. Namun hal ini tidak dilakukannya, seolah Mas Iswandoyo tahu betul bahwa ada garis pembeda antara mengapresiasi, ikhtiar dan menolong dengan bentuk memberi sedekah. Karena akan sangat mungkin penjual bensin menjadi tersinggung jika tiba-tiba Mas Iswandoyo memberinya uang dengan akad yang tidak jelas baginya. Karena dengan menata bensin eceran yang ditempatkan di tepi jalan dia sedang menjadi penjual bukan menjadi peminta-minta. Seperti halnya potongan adegan di film Rayya, saat pemeran Rayya hendak membeli karak (nasi aking yang diolah menjadi camilan) yang sedang dijajakan oleh seorang ibu-ibu, harga karak itu seribu lima ratus rupiah per bungkus. Rayya membeli dua bungkus dengan uang lima puluh ribu, ketika Ibu Penjual karak tersebut hendak mengambilkan kembalian, Rayya mengatakan kembalian tersebut untuk Si Ibu saja, namun apa yang terjadi? Si Ibu penjual karak menolak dengan mengatakan “Den, saya ini bekerja bukan mengemis. Harga karak ini satu bungkusnya seribu lima ratus. Jika Den Ayu beli dua artinya itu tiga ribu rupiah bukan lima puluh ribu. Monggo, saya kembalikan uang Panjengan, karaknya kemballikan lagi.”
Beranjak dari momen itu seolah Mas Iswandoyo sedang berupaya untuk melakukan sesuatu sesuai empan papannya, sesuai dengan ruang lingkup yang terjadi, sesuai dengan batasan yang pas. Karena niat baik pun bisa jadi tidak dapat diterima bahkan sangat mungkin untuk ditolak karena dilakukan tidak pada porsinya. Apakah benar demikian adanya, apakah seperti itu penjlentrehan dari sikap yang dilakukan oleh Mas Iswandoyo atas kecenderungan memilih membeli bensin eceran ketimbang membeli di SPBU?. Bisa saja benar, bisa jugatidak. Tapi begitulah upaya penulis dalam mentadaburi manusia dengan nama Iswandoyo.
Akhir kata, semoga Mas Iswandoyo segera menemukan cintanya yang murni, semurni bensin eceran yang ia cintai.
oleh: Nurul
Leave a Reply