Padhang Mbulan
Acara dimulai pukul 21.30 dengan tawassul. Cak Wisnu memimpin. Kemudian dilanjutkan dengan wirid akhir zaman dan mahalul qiyam.
Diskusi dimulai dengan pembahasan tema padhang mbulan. Tema dipilih karena bertepatan dengan maulud Sayyidina Muhammad SAW. Habib Yoni mengingatkan kepada jama’ah Maiyah bahwa maulud Nabi berbeda dengan kelahiran Sayyidina Muhammad bin Abdullah. Beliau berkata, “rembulan adalah penerang kita saat malam. Dan Nabi Muhammad adalah rembulan dalam hidup kita yang gelap.”
“Ketika membahas rembulan, sangat sulit untuk tidak menyinggung cinta.” Ujar Habib Yoni. Beliau juga mengutarakan dengan jenaka, bahwa selain teori segitiga cinta, ada juga teori jajar genjang cinta, kubus cinta, dan yang terakhir lingkaran cinta; cinta yang sudutnya tak terhingga.
Pada pukul 23.00 Cak Aziz memimpin sholawat burdah.
Malam berdiri di atas titik keseimbangannya. Mas Lee Harianto menyampaikan dengan suara bak biduan ulung bahwa dalam setiap kebudayaan suatu bangsa, rembulan tidak selalu dipersonifikasikan sebagai sosok yang baik. Berbeda dengan bangsa Arab yang menganggap rembulan sebagai sosok yang menyejukkan, rembulan bagi bangsa jepang kuno justru lambang setan. Itu semua tergantung dari keadaan geografis suatu bangsa.Pada pukul 01.30, acara ditutup dengan doa yang dipimpin oleh K.H. Edi Waskito Hadi Mutafaqqun ‘Alaih, dan sego jagung Cak Jack memungkasi kemesraan

oleh Saka Wesly
Leave a Reply