By : Baim Rifat

Dua kata yang jamak dimengerti sebagai oposisi biner. Juga dua kata yang kerap kali dipahami dalam konteks progres yang berkelanjutan, baik secara induktif maupun deduktif. Berangkat dari berbagai macam bentuk tafsirnya, pada titik ini kita idealnya perlu memahami bahwa dua istilah tersebut merupakan entitas yang berbeda namun saling tertaut satu sama lain. Poin perbedaan yang menandai dua istilah tersebut dapat ditelisik dari pemahaman & tafsir literalnya terlebih dahulu, bila yang generalis diasosiasikan dengan hal yang luas, mungkin abstrak, & umum; maka yang spesialis sudah barang tentu merujuk pada suatu hal yang sifatnya spesifik, khusus, & rinci. Definisi singkat tersebut merupakan bentuk dua kutub ekstrem tentang bagaimana cara membedakan istilah generalis & spesialis. Namun di lain hal, telah disebutkan bahwa kedua istilah ini meskipun berbeda, namun tetap saja tertaut satu sama lain. Ketertautan tersebut bisa didasarkan pada fakta bahwa “yang umum & luas” itu akan merujuk pada suatu hal yang lebih “spesifik & rinci” ataupun sebaliknya. Ketertautan yang dimaksud pada akhirnya dapat dijalankan secara dua arah sehingga dari dua entitas ini terjadilah proses dialektika. 

Pada paragraf sebelumnya, kita mencoba memahami apa itu istilah generalis & spesialis secara sederhana. Kita mencoba mengerti dua istilah tersebut melalui aspek struktural-literal. Namun proses pemahaman tersebut nampaknya terhenti pada tataran ontologisnya saja, kita belum menjamah area-area episteme, praksis, maupun aksiologisnya. Secara singkat, kita hanya mencoba untuk mengungkap definisi objektif dari kata Generalis & Spesialis. Beranjak dari sana, pertanyaan yang mungkin akan keluar adalah tentang seperti apa itu bentuk aplikatif dari dua istilah ini. 

Secara sederhana, istilah generalis  merujuk pada seseorang yang memiliki kemampuan untuk melakukan banyak hal, variatif, multi aspek namun cenderung tidak mendalam. Berbeda dengan seorang spesialis yang sudah pasti fokus pada satu hal sehingga ia benar-benar ahli dalam bidangnya. Definisi singkat tadi merupakan bentuk penjabaran aplikatif tentang bagaimana kita memahami dua kata barusan. Ketika dua hal ini pada akhirnya dipertemukan; disadari atau tidak, akan muncul sebuah permasalahan baru dimana kebanyakan dari kita melakukan proses vis-a-vis dimana kecenderungan membandingkan & menjadikan mereka oposisi biner sangat terbuka lebar. 

Itulah yang terjadi saat ini, orang-orang kerap membanding-bandingkan seolah yang generalis & spesialis itu harus dipertentangkan satu sama lain. Padahal dalam konteks asas kebermanfaatannya baik yang general ataupun yang spesial tentu memiliki fungsi & fadhilah-nya masing-masing. Dalam konteks profesionalisme kerja contohnya, seorang spesialis sangat dibutuhkan karena merekalah yang mengetahui seluk beluk teknis dalam sebuah sistem operasi kerja. Mereka yang ahli pada bidangnya tentunya dapat mengisi pos-pos penting dalam rangka mewujudkan budaya teknokrasi yang tepat sasaran. Hadirnya seorang spesialis tentunya dapat dengan menghentikan praktik-praktik “orang titipan” yang sebetulnya tidak begitu memahami bidang kerja yang sedang ia kerjakan. Dalam aspek hukum pun kita mengetahui asas “Lex specialis derogat legi generalis”, yang bermakna hukum yang lebih spesifik akan mengalahkan hukum yang sifatnya umum. Kehadiran entitas yang spesifik dan rinci dalam aspek hukum memberikan sebuah kepastian hukum yang lebih jelas. 

Di lain hal, seorang generalis pun juga dibutuhkan dalam mengawal sebuah visi besar. Dibutuhkan persona yang berwawasan luas dan memiliki visi bagus untuk menjalankan sebuah sistem. Dialah yang menjadi seorang “master mind” dalam progres sebuah peradaban. Filsuf-filsuf baik di jaman dahulu hingga sekarang juga merupakan orang-orang yang mampu menguasai banyak disiplin ilmu, seorang polimatik, & tipikal persona yang mampu menyambung satu aspek dengan aspek lainnya. Kehadiran seorang generalis mungkin secara sederhana dapat dilihat dalam skema bagaimana seorang presiden, raja, ataupun perdana menteri dalam menjalankan negara. Mereka yang dipilih sebagai pemimpin setidaknya harus memiliki visi yang melampaui jamannya, avant garde namun juga realistis dan penuh dengan rasionalitas. 

Dari dua penjabaran singkat tersebut pada akhirnya kita harus mengerti bahwa dari dua tipikal persona ini bukanlah sesuatu yang sama sekali bertolak belakang. Bila disinergikan, maka keduanya dapat bekerja dalam sebuah harmoni. Hal paling utama saat ini adalah mengurangi sekat-sekat solid yang memisahkan sang generalis maupun spesialis. Biarkan mereka saling padu & bersinergi demi kemajuan bersama.